Rabu, 17 Februari 2016

Lestarikan Tradisi dan Budaya saat Gerhana Matahari Total


Tuhan, alam, dan manusia adalah satu kesatuan yang tak pernah bisa lepas. Apa yang terjadi di alam pasti Tuhan turut serta di dalamnya, pasti manusia juga termasuk pelakonnya. Berbicara tentang gerhana matahari ataupun gerhana bulan, tentu tak lepas dari tradisi, budaya, dan mitos. Siapakah yang menciptakan mitos? Apa kaitannya dengan tradisi dan budaya? Apakah pantas ciptaan Tuhan, khususnya gerhana, dimitoskan?
Mitos sudah menjadi warna dalam hidup manusia. Selogis apa pun pikiran dan prinsip Anda, mitos akan terus mengiringi perjalanan hidup. Hidup itu imajinasi. Imajinasi itu mitos. Mitos itu kembali ke alam. Alam ciptaan Tuhan. Kenapa daun putri malu mengatupkan daunnya ketika disentuh? Dari namanya saja sudah jelas berawal dari mitos. Ini mungkin analisa saya yang bodoh. Tapi, begitulah kenyataannya. Wong sejak kita masih berbentuk janin saja, kita telah hidup dengan mitos karena ibu yang ngidam minta ini itu.
Ada yang tahu suku Dayak? Kelewatan banget jika tidak tahu. Sebagai orang suku Banjar (Banjar di Kalimantan Selatan, ya, bukan Banjar di Bali), bagi saya suku Dayak adalah keluarga. Banjar dan Dayak bersaudara tidak hanya karena satu tempat tinggal di Pulau Kalimantan, melainkan ada budaya dan sejarah yang mengikatnya secara emosional.
Suku Dayak dikenal sebagai suku yang setia pada alam. Saking setianya, sebelum modernisasi memasuki kawasan mereka di pedalaman, mereka enggan menerima pembaruan budaya dari luar. Saking setianya lagi, mereka enggan meninggalkan hutan dan pegunungan, tempat tinggal mereka hidup. Meskipun sudah banyak orang Dayak yang hidup di kota dan berpendidikan tinggi, mereka tidak pernah melupakan muasal sebagai orang Dayak yang mencintai alam.
Orang Banjar biasa menyebut suku Dayak dengan “orang bukit”. Suku Dayak atau “orang bukit” ini seperti pahlawan yang sakti bagi orang Banjar. Ketika hutan-hutan mulai gundul, lahan tambang mulai dibuka, selalu ada orang Banjar yang berkata, “Tunggu saja orang bukit nanti turun.” Menurut cerita orang tua dan menurut sejarah, suku Dayak sangat berperan penting dalam melawan penjajah. Pahlawan Banjar dan Dayak sama-sama berjuang menumpas penjajah. Inilah mengapa Banjar dan Dayak itu satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Sumber: victorkelonco21.blogspot.co.id
Kepercayaan dan cerita tentang gerhana di kalangan suku Dayak sangat banyak. Ada satu cerita yang sedikit mirip dengan cerita rakyat di Bali. Gerhana bulan dan gerhana matahari terjadi karena bulan/matahari ditelan oleh makhluk gaib bernama Ruhu. Saat terjadi gerhana bulan atau gerhana matahari, suku Dayak biasanya memukul lesung dengan alu. Memukulnya tidak asal pukul, melainkan dengan irama. Beberapa juga ada yang menyanyikan syair-syair kisah kepahlawanan atau yang disebut mansana.
Suku Dayak juga percaya gerhana bulan dan matahari adalah berkah bagi kehidupan. Seperti halnya manusia, menurut suku Dayak, pohon juga mempunyai ruh (dalam bahasa Dayak, ruh disebut gana). Jadi, saat terjadi gerhana, masyarakat Dayak memukul-mukul pohon yang tidak berbuah agar si gana bangun dan berharap pohon pun berbuah. Tidak ada yang salah dengan tradisi jika kita bisa mengambil intisari hikmahnya. Tradisi memukul pohon ini sebagai simbol bahwa tidak ada yang tidak berguna dalam hidup ini. Pohon yang enggan berbuah pasti berbuah pada waktunya.
Suku Dayak terkenal dengan minyak-minyak yang berkhasiat dan senjata-senjata yang sakti. Bagi mereka, minyak-minyak dan senjata-senjata (salah satunya mandau) itu adalah harta pusaka yang harus dirawat dan jika ada keperluan mendesak saja baru digunakan. Mereka percaya waktu yang tepat untuk mengeluarkan dan “membersihkan” minyak dan senjata itu saat terjadi gerhana bulan dan matahari. Menurut suku Dayak, minyak-minyak itu akan bertambah khasiatnya jika diletakkan di bawah sinar gerhana bulan/matahari. Tradisi “menjemur” benda-benda pusaka itu biasanya juga disertai pembakaran dupa.
Gerhana bulan dan matahari adalah momentum bagi orang Dayak untuk mengajarkan anak-anak tangguh dan kuat. Ada tradisi yang sangat unik saat terjadi gerhana. Anak-anak disuruh mencari utin tingen atau duri alang-alang. Menurut suku Dayak, memakan duri alang-alang yang sangat kecil itu akan membuat anak-anak lebih cerdas. Ada nilai yang sangat mendidik di dalam tradisi ini. Anak-anak disuruh mencari benda sekecil duri itu tidak lain untuk melatih anak-anak agar ulet dan tidak gampang menyerah. Memakan duri bisa melatih anak kuat mental dan terbiasa melawan rasa sakit. Gerhana bulan dan gerhana matahari memang hanyalah fenomena alam, tapi dengan tradisi ini, diharapkan anak-anak tidak hanya hidup berpangku tangan, melainkan terus hidup menjadi yang lebih baik.
Tentu masih banyak lagi tradisi-tradisi yang berkaitan dengan gerhana di daerah lain di Indonesia. Tradisi-tradisi itu harus tetap dilestarikan agar jangan sampai punah. Apalagi Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan terjadi pada tanggal 9 Maret 2016 nanti adalah Gerhana Matahari Total setelah tahun 1995.  
Menyaksikan Gerhana Matahari Total tahun ini adalah impian saya. Sebenarnya saya berharap bisa pulang kampung tepat saat gerhana matahari nanti. Di beberapa daerah di Kalimantan juga diadakan pesta budaya, seperti di Amuntai, Paringin, Tanjung (Kalsel), Palangkaraya (Kalteng), Balikpapan (Kaltim), dan kota lainnya. Tapi, pulang kampung perlu dana yang tidak sedikit. Hiks! Mudah-mudahan lewat tulisan di blog ini, saya bisa menjadi Laskar Gerhana dan menyaksikan Gerhana Matahari Total tahun ini.
Saya jadi teringat “ketakutan-ketakutan” yang ditularkan oleh orang tua pada waktu kecil dulu. Kata orang tua, kita tidak boleh keluar rumah ketika terjadi gerhana. Nanti mata bisa buta, katanya. Dulu saya tidak menolak perintah itu. Jadi, selama gerhana matahari (dulu waktu SD tahun 1995), saya dan saudara-saudara cuma melaksanakan shalat gerhana di rumah. Katanya lagi, berdoalah yang banyak agar tidak ada bencana.
Beranjak dewasa, saya banyak mendapat informasi tentang gerhana matahari dan bulan. Ternyata gerhana tidak semenyeramkan itu. Oke, berdoa kapan pun dan di mana pun memang harus dilakukan. Shalat gerhana juga disunahkan bagi yang beragama Islam. Namun, gerhana adalah fenomena alam yang harus dinikmati sama seperti menikmati turunnya salju di luar negeri. Bagaimana caranya? Kunjungilah daerah-daerah yang dilewati Gerhana Matahari Total di Indonesia, seperti Palembang, Lubuk Linggau, Toboali, Koba, Manggar, Belitung, Bangka, Tanjung Pandan, Palangkaraya, Balikpapan, Sampit, Palu, Poso, Ternate, Tidore, Sofifi, Jailolo, Kao, dan Maba.
Sumber: di sini
Daerah-daerah di Indonesia yang dilewati GMT itu diperkirakan akan dipenuhi wisatawan lokal maupun mancanegara. Masing-masing Dinas Pariwisata telah menyiapkan acara budaya sejak jauh-jauh hari. Salah satu kota yang mengadakan pesta budaya dalam rangka menyambut Gerhana Matahari Total adalah Belitung. Tidak tanggung-tanggung, Pemkab Belitung mengadakan Festival Gerhana selama tiga hari berturut-turut (7-9 Maret 2016), dilanjut kegiatan lainnya hingga bulan April 2016. Wow banget! Festival ini akan disemarakkan berbagai pertunjukan kebudayaan. Lokasi utama pengamatan GTM adalah Pantai Tanjung Layang. Tidak hanya pertunjukan budaya saja, wisatawan juga akan dimanjakan dengan kegiatan touring sepeda menjelajah tempat-tempat wisata “negeri laskar pelangi” itu.
Daerah-daerah lain pun tidak ketinggalan mengadakan acara budaya bertepatan dengan terjadinya Gerhana Matahari Total. Yuk, berwisata menikmati fenomena alam sembari turut menghidupkan terus budaya Nusantara. GMT bukanlah hal yang ditakutkan jika kita tahu cara menikmatinya. Jangan lupa harus mempersiapkan kacamata khusus untuk melindungi mata. Saat sebelum dan sesudah matahari tertutup bulan, paparan matahari sangat tinggi dan bisa merusak mata. Kacamata khusus itu memiliki Neutral Density 5 yang berguna meredam cahaya matahari.
Keren, bukan? Tidak hanya keren, tapi juga bernilai positif. Dengan semarak GMT, kita bangkitkan budaya dan pariwisata Indonesia. Ingat, Gerhana Matahari Total ini sangat langka dan akan terjadi lagi pada tahun 2023 nanti. Tidak perlu pikir panjang, tentukan destinasi wisata Anda sekarang.

Jogja, 170216
Sumber referensi:

http://news.detik.com/berita/3143494/pemkab-belitung-bersiap-diserbu-7000-turis-gerhana
http://travel.detik.com/read/2016/02/10/075000/3138148/1048/tips-menonton-gerhana-matahari-total-bareng-keluarga
 
Laskar Gerhana detikcom

3 komentar: