Senin, 22 Oktober 2018

Perempuan yang Ingin Berpulang ke Sungai


Sebelum judul itu tertulis, kisah lebih dulu berakhir di tepi jalan. Si perempuan mengais sampah, mencari keinginan, mencari doa-doa yang tak sempat terpanjatkan.

Sebelum judul itu tertulis, sungai menguarkan aroma kota. Si perempuan terkulai dalam heningnya. "Duhai Pemilik Jiwa, kota teramat tua, sedangkan keinginanku belumlah jingga."

Sebelum judul itu tertulis, kaki-kaki mengangkang. Mulut-mulut membasahi kerongkongan dengan keserakahan. Si perempuan berhenti mencari. Si perempuan terjebak kini.

Dan, judul tertulis dengan kalut. Ya, kekalutan perjalanan. Ya, kekalutan hati yang ingin berpulang. Pada sebuah sungai, pada zikir ikan-ikan.

Bjm, suata masa

Kamis, 18 Oktober 2018

Mungkin Kemarau

Mungkin kemarau tersesat
Mencari hujan yang tak kunjung tandang
Menunggu sebuah kehadiran yang kian kasat

Mungkin kemarau enggan bermuslihat
Bulan demi bulan tanah kerontang
Di ujung jalan, para pejalan kehilangan khidmat

Mungkin kemarau begitu mencintai langit senja
Berbincang tentang dongeng lama
Dan kita hanya bisa mencaci malam renta

Mungkin kemarau, hujan, dan kita
Sekumpulan musim yang lupa
Mengistirahatkan kata-kata dan air mata

Jogja, 181018

Kamis, 27 September 2018

Puisi Api di Lemari

"Seberapa besar cintamu kepadaku?" tanya sebuah puisi yang kubiarkan menempel di lemari. Aih, seharusnya kubiarkan saja puisi itu terbakar, menjadi abu, lalu gentayangan menghantui puisi-puisi lainnya.

"Aku tak punya alat khusus untuk mengukur kadar cinta. Toh, cintaku telah lama kaubiarkan sepi. Sesepi mantra Sutardji," sahutku.

"Kau yang membuatku sepi," ucapmu dengan tatapan setajam pisau.

"Kau!" teriakku. Harusnya kubakar dia. Harusnya kubiarkan dia jadi abu. Harusnya...

Malam kian tua. Aku membisu. Puisi meracau sendiri. Apa daya, racauannya hanya sepintas lalu. Lalu, sepi. Lalu, mimpi. Lalu, pagi. Lalu, berganti hari.

"Selamat pagi! Kapan terakhir kau berpuisi?" Sebuah suara sayup terdengar dari pintu lemari. Asap selubungi kamar. Aku terbatuk dan meracau.

"Api api api. Api puisi api. Sebelum mati, puisi telah lama mencari jalannya sendiri."

Jogja, 230918

Aku rasa, aku terlalu lama terkurung dalam puisi yang sepi dan api.

Kamis, 30 Agustus 2018

Dia Pemilik Senyum Manis

Tak ada yang berubah. Dia tetap seperti saat 3,5 tahun lalu, saat kuputuskan menetap di hatinya. Meski begitu banyak drama sebelumnya, aku yakin dengan keputusanku. Aku yakin sebab ada harapan di matanya, harapan berbeda yang belum kutemukan di mana pun selama bertahun-tahun.

"Apa yang kauharapkan dari sosok kecilku ini?" Dia bertanya sembari menyanyikan lagu si Katon Bagaskara. Aih, dia begitu romantis kukira, persis seperti yang kubayangkan sebelum kami bersua.

"Yang kuharapkan sudah ada di matamu sejak 3,5 tahun lalu," ucapku.

Dia tertawa kecil. Senyumnya... ah, senyumnya itu yang sangat memikatku. Senyum penuh warna. Senyum yang serupa pelangi. 

"Apa yang kauharapkan berada di dekatnya, Nona? Lebih baik bersamaku saja. Lebih menjanjikan," kata seseorang yang baru kutemui sekian hari sebelum aku dan dia bersua.
"Kau tidak bisa merendahkannya, apalagi menyamakannya dengan dirimu yang terlalu berisik. Aku damai bersamanya. Dia teduh dan meneduhkan."

"Mengapa diam? Kau belum menjawab pertanyaanku dengan lengkap." Suaranya masih terdengar lembut, tapi cukup mengagetkanku.

"Aih, kau tambah menggemaskan jika penasaran. Begini, aku sempat ingin semadi di dalam diriku sendiri, dulu bertahun-tahun lalu, saat pikiranku kacau sekacau-kacaunya. Ketika kita pertama bersua, kuputuskan suatu hari nanti bisa bersamamu. Menghidu aromamu setiap hari. Meresapi keteduhanmu sepanjang waktu. Aku seperti menemukan binar yang hilang sejak bersamamu," jawabku.

Dia tertawa. Tidak pelan seperti sebelumnya. Namun, bagiku tetap saja manis. Sangat manis. Dia tidak hanya teduh, tapi kadang ceria. Ada yang berbeda antara dirinya dan yang lain. Dia menggemaskan dan membuat orang penasaran. Bahkan, setelah perjumpaan pertama, orang lain akan merasakan candu ingin berjumpa lagi.

"Kau tidak cemburu?" Dia bertanya saat senja. Sejenak dia menemaniku menunggu kereta.

"Cemburu?"

"Iya, cemburu. Saat kau pergi dalam beberapa hari, akan banyak orang yang bersua denganku."

"Mengapa harus cemburu, duhai...? Bukankah saat aku sedang bersamamu pun, banyak orang yang beramai-ramai menemuimu? Aku tak patut cemburu buat orang sepertimu."

Aku dan dia sama-sama tersenyum. Setengah jam lagi kereta berangkat. Aku harus masuk ke ruang tunggu. Tanpa perlu berjanji, aku tahu dia selalu menepati janjinya. Dia selalu menanti kedatanganku. Dia... Yogyakarta.

Jogja, 29 Agustus 2018

Kamis, 17 Mei 2018

Dua Puluh Empat Jam di Kota Solo


Solo, sebuah kota yang dulu kukira jauh banget. Ternyata cuma tetanggaan dengan Jogja. Naik kereta pun cuma satu jam dan harga tiket keretanya cuma 8 ribu rupiah. Murah banget, kan? Kalau naik bus bisa perlu waktu sekitar 1,5-2 jam. Nah, apalagi sekarang tuh jalan raya Jogja-Solo semakin macet. Aku jadi malas naik bus. Lagi pula, selama tinggal di Jogja, aku jadi ketagihan naik kereta. Kecuali memang nggak ada kereta menuju suatu kota, misal Jogja-Semarang. -_-
Kori Kamandungan Lor dan menara Panggung Sangga Buwana

Solo, sebenarnya sih nama kota ini Surakarta. Demi apa aku baru tahu perihal nama Surakarta ini tiga tahun lalu. Tapi, orang-orang lebih familier nama Solo. Sebuah kota di Jawa Tengah yang nggak kecil-kecil amat. Besar mana Jogja dan Solo? Hmmm..., aku nggak pernah menghitung. Yang jelas, terhitung sudah empat kali aku mengunjungi Solo. Bosan? Aih, nggak dong. Mana pernah bosan jika disuguhi suasana kota yang adem dan tenang meskipun terakhir kali ke sana aku melewati satu kawasan macet. Lupa nama jalan yang macet itu. Jogja juga begitu, sudah macet di beberapa ruas jalan raya, apalagi pas libur panjang. Ampuuun!
 
Suasana area museum keraton
Sudah beberapa kali ke Solo, sepertinya aku belum menuliskan tentang kota Didi Kempot ini ya (eh, sesukanya aja ngasih nama kota Didi Kempot? Ya iyalah, aku hafal kok lagu Stasiun Balapan-nya itu. Ning Stasiun Balapan. Kuto Solo ning dadi kenangan. Kowe karo aku.... Skip! Sudah sudah, nulis aja. Nggak usah beralih profesi).

Jalan-jalan ke Solo nggak mantap rasanya kalau nggak berkunjung ke Keraton Surakarta Hadiningrat. Perbedaan beli tiket di Keraton Yogyakarta dan Keraton Solo ini, harga tiket di Keraton Surakarta sudah termasuk kamera. Sebaliknya, kalau di Yogyakarta, ada harga terpisah bagi yang bawa kamera. Tapi, jangan khawatir, harga tiket masuknya sama-sama murah. Aku nggak tahu secara spesifik sejarah Keraton Suarakarta Hadiningrat. Namun, secara fisik bangunan, yang paling tampak beda dengan Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta ini bernuansa biru dan putih.


Es potong kesukaan. Jadi inget masa kecil.

Kemarin rencananya sih pengin ke Pasar Klewer. Tapi, apa daya hujan deras banget dan waktunya juga mepet. Konon, kalau sudah masuk ke Pasar Klewer, kamu harus menguatkan isi dompet. Harga barang-barangnya murah-murah sih, jadi kamu bisa kesurupan belanja. Tahu-tahu keluar pasar sudah nenteng kresek gede aja. -_-

Traveling plus kulineran itu dua hal yang nggak terpisahkan. Ya iyalah, traveling aja tanpa makan, kamu pikir kuat? Rindu aja perlu tenaga biar kuat meluapkan, apalagi jalan-jalan. (apaan bahas rindu segala nih). Selain kamu wajib makan nasi liwet khas Solo, kamu juga harus mencoba kuliner lainnya.
 
Bakmi ketoprak.

Aku dan temanku menunggu jemputan di depan Kori Kamandungan Lor. Sambil menunggu, aku beli es potong kacang ijo. Tiba-tiba hujan turun deras banget. Mobil jemputan pun datang. Aku diajak makan bakmi ketoprak yang katanya khas Solo. Yo wis, karena aku sudah lapar banget, manut aja diajak ke mana. Dalam bayanganku ya, bakmi ketoprak itu nggak jauh beda dengan ketoprak di Jakarta sono. Ternyata..., setelah pesanan datang, “Ini bakmi ketoprak? Bukan soto atau sop?” tanyaku heran. Sekadar info, aku tuh sebenarnya jarang sekali makan yang berkuah kayak sop dan soto. Karena lapar, ya nikmati sajalah meski cuma habis setengah mangkuk. :D




Malem-malem nongkrong d Gulo Jowo.

Lupakan soal makan siang. Sekarang saatnya makan malam. Ada satu tempat makan enak yang recommended banget nih, kata temanku. Pengin menikmati jajanan pasar dan minuman tradisional? Datang aja ke Gulo Jowo. Aku aja lupa kapasitas perut pas lihat menu-menunya dan harganya yang muraaah. Pengin semuanya dimakan. Aku sudah cobain semar mendem, cabuk rambak, sawut, dan gulo asem. Pengin pesen cenil, tapi habis. Nggak aku makan semua, kok. Kan makan bareng teman. Owner-nya pun baik dan ramah banget.

Cuma sekitar 24 jam di Solo. Besok siangnya aku dan temanku sudah stand by di Stasiun Solo Balapan menuju Jogja. Jadwal kereta masih lama, 2 jam lagi. Cuaca panas, fasilitas kipas di stasiun yang sepertinya minim banget, membuatku gerah. Ada satu tempat yang adem—toko donat—tapi sudah terisi semua kursinya. “Keluyuran aja dulu yuk di luar sambil cari makan,” ajakku. Kami cari makan di sekitar stasiun. Sebagai penutup kuliner, kami pun makan nasi liwet. Nggak sempat difoto karena sudah kelaparan.

Tulisan ini diposting dalam rangka curhat aja sih. Lama nggak nulis curhat perjalanan di blog yang banyak sarang laba-laba ini. Beneran ini curhat? Oh, bukan, ini mendongeng. -_- Salam pojok jalan.

Kamis, 10 Mei 2018

Mengenal Toko Cat Lancar di Paint Expo 2018


Apa sih yang kamu pikirkan jika mendengar kata “toko cat”? Mungkin ada yang berpikiran sama denganku: Toko cat ya toko yang menjual cat beserta peralatan pengecatan lainnya seperti kuas dan sebagainya. Begitu pun ketika aku melihat sebuah nama toko cat yang sering aku lewati kala menyusuri jalanan Yogyakarta. Toko Cat Lancar namanya. Benarkah toko ini hanya menjual cat dan peralatan pengecatan?

Ternyata tidak, teman-teman. Toko Cat Lancar bukan sekadar menjual cat, tapi juga menyediakan jasa pengecatan yang profesional. Toko cat yang berdiri sejak tahun 1978 dan berawal dari toko besi ini, berbeda dengan toko-toko cat pada umumnya.

Pak Faiz, bisnis development Toko Cat Lancar, menjelaskan tentang pelayanan Toko Cat Lancar.

Selain menyediakan berbagai merek cat yang berkualitas, ada beberapa kelebihan Toko Cat Lancar yang perlu diketahui. Semua kelebihan Toko Cat Lancar ada di dalam 8 layanan-layanan yang istimewa.

Pertama, Toko Cat Lancar menyediakan Lancar Painting Service, sebuah layanan jasa pengecatan profesional dan bergaransi. Konsumen bisa berkonsultasi sejak awal memilih jenis cat, warna, hingga pengerjaan pengecatan. Pengecatan juga ada teknisnya, lho. Tidak sembarang cat. Bagaimana padu padan warna, memilih cat yang tepat dan sesuai dengan bahan yang dicat dan jenis bangunan, dan lain-lain. Oalah, mengecat sebuah bangunan harus profesional dong. Sebab itulah, Toko Cat Lancar sangat peduli perihal pengecatan ini, bukan hanya jual produk cat.
Eh, ada Mas Larjo, maskot Toko Cat Lancar. Ikutan senyum deh lihat senyum si Mas Larjo.

Kedua, Lancar Care, sebuah layanan bagi kamu yang ingin berkonsultasi secara langsung. Pihak Toko Cat Lancar bisa langsung mendatangi lokasi yang ingin dicat. Konsumen cukup menelepon ke 082223800800, pihak Toko Cat Lancar pun datang.
Ketiga, bagi kamu yang sibuk dan perlu produk cat segera, ada Lancar Home Service. Toko Cat Lancar akan segera mendatangi rumah konsumen. Benar-benar tidak kenal ribet deh.
Keempat, Lancar Delivery. Nah, ini layanan zaman now. Tidak cuma makanan yang bsia delivery, beli cat juga bisa delivery, lho. Mau sebanyak apa pun pesananmu, Toko Cat Lancar siap mengantarkan produk dengan motor, mobil box, maupun truk.
Banyak spot menarik nih buat foto-foto, salah satunya ini.

Kelima, layanan ini lebih zaman now lagi. Namanya Lancar Easy. Kamu bisa beli cat secara online lewat aplikasi Toko Cat Lancar dan Sahabat Lancar. Saat sibuk, beli secara online bisa jadi pilihan nih. Silakan instal aplikasi Toko Cat Lancar dan aplikasi Sahabat Lancar. Bagi kamu yang download aplikasi Sahabat Lancar, bonus 10.000 lancar poin. Bakal ada reward juga di setiap transaksi.
Keenam, Lancar Academy. Ini nih layanan yang bikin aku terkagum-kagum dengan Toko Cat Lancar. Lancar Academy adalah semacam program pendidikan dan pelatihan pengecatan sehingga melahirkan tenaga ahli cat profesional dan berkualitas. Jangan salah, pengecatan pun perlu tenaga ahli yang mumpuni, lho.
Mengecat bukan saja soal mengoleskan cat ke tembok, tapi menyatukan perbedaan warna dan menghidupkan suasana.

Ketujuh, ada program Lancar Go. Jadi, Toko Cat Lancar memiliki armada Paint Truck. Nah, truk ini akan berkeliling memberikan edukasi dan pelayanan mengenai cat.
Kedelapan, Toko Cat Lancar berinisiatif membentuk sebuah komunitas di bidang pengecatan. Nama komunitasnya Lancar Cummunity. Tambah beragam dong ya komunitas di Indonesia. Yang terbaru nih komunitas ahli cat.

Kemarin aku mengikuti Paint Expo 2018 di Atrium Ambarrukmo Plaza yang diadakan oleh Toko Cat Lancar. Paint Expo ini diikuti oleh berbagai merek cat terkenal. Paint Expo 2018 ini juga menyelenggarakan workshop dan talkshow. Aku yang buta sekali soal pengecatan, jadi lebih tahu deh sekarang. Aku juga belajar mengecat dari hal yang simpel, yaitu mengecat botol bekas. Kali ini Mbak Lusi yang ahli di bidang craft melatih para peserta mengecat dan menghias botol dan stoples. Sesekali lah aku pegang cat, ya, meski hasil karyaku sungguh tidak maksimal. :D 
Hasil karya mengecat botol. Apa perlu aku belajar di Toko Cat Lancar biar bisa memadukan warna yang cantik? :D

Paint Expo 2018 masih berlangsung hingga Minggu, 13 Mei 2018. Menariknya, ada diskon besar-besaran nih. Diskon hingga 50%! Bahkan, ada pembagian hadiah-hadiah menarik, lho. Ada motor, uang tunai, TV, dan hadiah lainnya. Paint Expo 2018 ini merupakan pameran cat termurah! Buat kamu yang perlu cat, buruan deh ke Paint Expo 2018 di Atrium Ambarrukmo Plaza.
 
Sudah banyak lho pengunjung yang beli cat di Paint Expo 2018. Murah-murah sih. Kamu kapan ke Paint Expo di Ambarrukmo Plaza?
Sampai saat ini, Toko Cat Lancar memiliki 18 cabang yang tersebar di kawasan DIY dan Jawa Tengah. Semoga Toko Cat Lancar semakin memperluas jaringannya dan layanannya semakin bagus. Jangan bingung soal cat. Pengin mengecat rumah, kantor, dan sebagainya, sesuai keinginanmu, ya ke Toko Cat Lancar saja. Urusan Cat, Pasti Lancar!

Senin, 07 Mei 2018

Fiksi Mini

(1)

BULAN JATUH

Penduduk kampung rebutan cahaya. PLN kalang kabut kehilangan pelanggan setia.

Bjm, 150914

(2)

TERTUNDA

"Maaf, senja terlalu tua. Kita pulang setelah malam sebenar purna."
Berulang-ulang, SMS itu dibaca Aya sambil menatap koridor yang lengang.
"Izrail belajar berpuisi...," bisiknya pada sekerat roti kering.

Bjm, 150914

(3)

BERENANG

"Walaupun kemarau, sumur ini nggak pernah surut...." Suara Bapak terdengar dari kejauhan.
"Memang nggak surut, Pak, tapi nggak perlu berenang di situ juga kali," teriak Ibu, panik. Dia sibuk memperbaiki katrol yang rusak, kemudian mencari timba besi berukuran besar.

Bjm, 160914

(4)

ADIL

Pengadilan memutuskan hukuman satu tahun penjara bagi Nenek Wati---"pencuri" lima kilogram beras majikannya. Kasus kusut itu berakhir juga.
Hakim pun pulang dengan menenteng sebakul doa pasi. "Nek, semoga Tuhan berbaik hati. Aku lupa cara menimbang yang seksi."

Bjm, 160914

*tulisan lama. Aih, kangen mabuk fiksi mini begini.