Sabtu, 05 Agustus 2017

11 (Sebelas) Alasan yang Membuatmu Harus Menginap di Batoer Hill Resort & Resto


Setiap menjelang weekend, pertanyaan teman-teman yang terlontar biasanya, “Liburan ke mana weekend ini?” Wih, kalau soal liburan dan piknik, pasti semangat banget. Apalagi buat seorang karyawan sepertiku, liburan adalah hal wajib. Maka, jangan salah, di setiap jeda waktu, kerjaanku (mungkin teman-teman lain juga) adalah memelototi kalender! Melihat tanggal merah dan libur panjang rasanya bikin bahagia banget, padahal baru tahap perencanaan liburan, ya.

Tujuan orang berwisata macam-macam, yang pada intinya satu sih, yaitu berlibur. Soal berwisata sambil mencari ilmu atau mencari jodoh (uhuk!), misal, tetap saja tujuan utamanya ya berlibur. Tempat wisata dan penginapan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ibarat kenangan dan mantan gitu, lah (skip!)

Biasanya, orang yang pergi ke tempat wisata itu punya berbagai pilihan penginapan.
1. Pilih tempat inap di tengah kota
2. Pilih tempat inap di dekat tempat wisata
3. Pilih tempat inap sekadar numpang tidur
Ada lagi satu pilihan: Pilih tempat inap yang sekaligus tempat untuk menikmati alam, menikmati sunset dan sunrise, menikmati kuliner, menikmati desa wisata, bisa outbound juga, dan lain-lain. Apakah ada pilihan seperti ini? Jelas ada dong. Batoer Hill Resort & Resto pastinya.



Apa sih yang menjadi nilai plus dari Batoer Hill Resort & Resto ini dibandingkan resort dan penginapan lainnya? Ini beberapa alasan kenapa kamu harus mencoba menginap di resort yang terletak di Dusun Batoer, Pathuk, Gunung Kidul ini:

1. Terletak di desa wisata Batoer yang berdekatan dengan desa Bobung yang terkenal karena kerajinan topeng kayu batik serta Kampung Emas yang terkenal dengan ingkungnya.
Sajian ingkung bisa kamu nikmati di Kampung Emas, di gubuk-gubuk di tengah sawah. Di resto Batoer Hill juga disediakan, lho. Di Bobung, kamu bisa melihat secara langsung cara pembuatan topeng kayu batik.
Topeng kayu batik (sumber: https://batoerhillresort.com/)

2. View-nya sangat amazing! Sepanjang jalan menuju Batoer Hill Resort & Resto saja bikin terpana, lho. Ada plang-plang khas desa wisata, jalan-jalan yang asri dan hijau. Pokoknya pikiran jadi fresh. Belum lagi pemandangan alam di Batoer, wah bikin pengin foto-foto dan betah lama duduk menatap pemandangan di depan mata. Ada area persawahan terasering, kebun lidah buaya yang dijadikan sarana edukasi, hutan jati, dan sebagainya.

Terasering di depan mata.

Budidaya lidah buaya


3. Kamar-kamar dibuat seperti rumah di perkampungan yang berbahan utama kayu. Jadi, bukan bentuk kamar, tapi rumah kecil. Fasilitas kamar ada TV, AC, kamar mandi, desk, lemari. Kalau saya pribadi sih bangunannya mengingatkan pada kampung halaman di Banjarmasin. Bedanya, di Banjarmasin sulit menemukan view seperti di Batoer ini.
Mengingatkan kampung halaman...

Jalan setapak

4. Bangun pagi kamu bisa langsung menikmati sunrise, embun, dan kabut. Saat senja, kamu bisa menikmati sunset. So, menikmati sunrise dan sunset tidak cuma di pantai, ya. Cocok banget buat kamu yang hobi berburu sunrise dan sunset. Saat malam hari pun kamu masih bisa menikmati terangnya bintang-bintang di langit.
Senja menuju malam.
 
Joglo yang dibangun atas dukungan pemerintah.
5. Ada fasilitas kolam renang di lereng, lho. Ini ciri khas Batoer Hill Resort &Resto nih. Kamu bisa berenang dengan pemandangan pepohonan, sawah, dan pegunungan di depan mata. Oh ya, sambil berenang, kamu juga bisa menikmati sunrise dan sunset. Takut dingin? Tenang, di kolam ini juga disediakan air hangat bagi yang ingin berenang sambil menikmati sunrise.


Gimana? Sudah tertarik mau menginap di sini? Ada beberapa poin lagi di bawah ini.

6. Ada spot-spot cantik buat foto, lho. Ada gardu pandang, spot kekinian. Gardu pandang di Batoer Hill Resort & Resto ini tentunya berbeda dengan gardu pandang di tempat lain. Ada juga kursi-kursi kayu tempat untuk bersantai dan ngopi cantik. Saat senja menuju malam, cuaca di tempat ini agak dingin dan berangin, lho. Jadi, buat kamu yang sensitif dingin, sebaiknya pakai jaket, ya. Syukurlah di menu resto ada wedang jahe. Lumayan bikin badan lebih hangat.

Gardu pandang

Bersantai sambil ngopi, ngobrol, atau nulis puisi juga bisa.

7. Bakal ada fasilitas outbound, seperti ayunan langit, seluncuran, jaring laba-laba, flying fox, pin ball, rumah-rumahan pohon di hutan jati. Di dekat area resort ini, ada hutan jati yang tetap akan dilestarikan dan dimanfaatkan sebagai area bermain.

8. Nilai plus dari Batoer Hill Resort & Resto ini adalah komitmen para investor untuk memajukan Batoer dan masyarakatnya. Di resort ini disediakan gratis satu show room untuk masyarakat Batoer dan desa sekitarnya yang ingin menjual hasil karyanya. Masyarakat tidak dipungut biaya sepeser pun.

Konsep pengelolaan resort ini tergolong unik. Para investor tidak mengambil keuntungan sendiri, melainkan ada sistem kemitraan dan pemberdayaan, serta bagi hasil untuk dusun dan pemerintahan Batoer. Konsep ini disambut baik oleh masyarakat Batoer dan pemerintah setempat. Tanah punya desa, lalu dikembangkan oleh para investor, hasilnya dibagi bersama demi kemajuan desa.

9. Karena mengedepankan visi demi terwujudnya peningkatan ekonomi desa, segala bahan pokok kuliner di Batoer Hill Resort & Resto bersumber dari produk lokal Batoer dan sekitarnya. Dalam hal ini bekerja sama dengan Bumdes (Badan Usaha Milik Desa). Menu-menu di resto ini juga Indonesia banget.
Tidak hanya itu, dalam hal peningkatan budaya desa, akan ada pertunjukan tarian dan musik tradisional yang secara khusus ditampilkan oleh masyarakat Batoer dan sekitarnya. Pertunjukan musik dan tarian ini dipertontonkan saat event tertentu, sesuai permintaan customer, atau penyambutan tamu.
 
Ingkuuung...


Wedang jahe, penghangat badan saat menikmati malam di Batoer.
Musik tradisional mengiringi jam makan malam.

10. Meski terletak di Pathuk, Gunung Kidul, DIY, resort ini sangat gampang dicari lho. Apa kamu masih bisa menikmati tempat wisata di luar Batoer saat menginap di Batoer Hill Resort & Resto? Ya jelas bisa dong. Tempat ini berdekatan dengan Pantai Baron dan pantai lainnya, Gua Pindul, Air Terjun Srigethuk. Ke pusat kota, seperti Malioboro, Keraton, Gembira Loka, Museum Affandi, dan lain-lain, juga tidak makan waktu lama. Ish, Jogja itu provinsi kecil, kawan. Jarak antarkabupaten tidak terlalu jauh. Dari pusat kota Yogyakarta ke Batoer Hill Resort & Resto paling lama 1,5 jam.

11. Apa alasan kesebelas? (Saya tidak mau menyebut yang terakhir karena pasti ada tambahan alasan. Ya kan?). Kamu mesti coba menginap di Batoer Hill Resort & Resto. Masa selama ini setiap ke Jogja selalu menginap di tengah kota? Oh ya, menginap sendirian di tempat ini bisa sih, tapi lebih baik bareng keluarga atau temanmu. Kamarnya cukup luas, lho. Kamu bisa tambah ekstra bed hingga lima orang. Pengin merasakan tidur ala pendaki? Kamu juga bisa tidur di tenda (ini mah alasan keduabelas, ya.)
Ada ruang tamu di setiap kamar/rumah.


Memang selalu ada alasan untuk menunda melakukan sesuatu, namun banyak juga alasan untuk mencoba rasa yang lebih indah dan lebih fresh, seperti menginap dan berwisata di Batoer Hill Resort & Resto ini. Yang terpenting dan perlu diingat, Batoer Hill Resort & Resto ini dibangun demi memajukan dan memberdayakan masyarakat Batoer dan sekitarnya. Jadi, dengan menginap di resort ini, kamu otomatis membantu mengembangkan perekonomian dan pelestarian budaya desa.

Dengan fasilitas yang lengkap dan view yang memukau banget, budget menginap di sini tergolong murah dibanding resort lainnya. Rate harga per malamnya sekitar 600.000-800.000 rupiah. Mau menikmati kolam renang dan berfoto di gardu pandangnya saja juga bisa, tapi ya tidak puas kalau tidak menginap, kan?
 
Kamu kapan ke sini?
Sudah cek kalender, kawan? Sudah dilingkari tanggal merah dan libur panjangmu? Setelah dilingkari, jangan lupa kasih catatan: Liburan di Batoer Hill Resort & Resto. Ingat, Batoer dengan segala keindahannya menantimu sepenuh cinta.


Jogja, 060817

Senin, 31 Juli 2017

Apa yang Mesti Dilakukan Ketika Berkunjung ke Desa Wisata?


Perjalanan ke desa wisata itu perjalanan satu paket. Kita tidak hanya mengunjungi tempatnya, melainkan penghuni desanya dan segala yang berkaitan dengan adat istiadat desa. Beda halnya dengan berwisata ke pantai, misal. Beberapa orang mungkin cukup dengan menikmati keindahan pantai, tak perlu mengenal penduduk sekitar dan budayanya.

Setiap desa wisata punya ciri khas masing-masing. Selain ciri khas yang bersifat material (arsitektur dan sebagainya), ciri khasnya adalah budayanya. Contoh, desa wisata di Jogja tentu berbeda sekali dengan desa wisata Badui.

Apa saja sih yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan ketika berkunjung ke desa wisata?

1. Sebelum mengunjungi desa wisata, sebaiknya cari tahu seluk-beluk desa wisata tersebut. Info bisa didapat lewat searching di Google atau tanya teman yang pernah ke sana. Paling tidak, kamu tidak gagap dan kaget ketika sampai di desa wisata tersebut.

2. Kendalikan diri. Jika melihat sesuatu yang asing dan di luar kebiasaan kita, jangan buru-buru berkomentar. Kendalikan lidah yang tak bertulang itu. Hargailah adat dan budaya setempat.

3. Ini yang penting, jangan meninggalkan sesuatu apa pun kecuali jejak. Jangan meninggalkan sampah, coretan, dan lain-lain.

4. Rugi deh ke desa wisata tidak sekalian mengenal penduduk desanya. Silaturahmilah dengan penduduk desa. Akrabkan diri dan gali pengalaman sebanyak mungkin.
Salah satu desa wisata di Malang. 
(Sumber: https://travel.dream.co.id/destination/wah-ada-desa-wisata-keren-di-malang-170411w.html)

5. Soal bahasa. Jika kamu tidak bisa berbahasa asli penduduk desa wisata, gunakan saja bahasa Indonesia. Jika kamu tidak terlalu lancar bahasa aslinya, tetaplah berbicara dengan bahasa Indonesia saja. Karena kadang tidak paham apakah bahasa yang digunakan sudah bahasa halus atau bahasa umum (bahasa kasar). Intinya jangan sotoy, ya. 😄 Tapi, kamu juga bisa belajar bahasanya, lho. 

6. Kalau kamu punya uang lebih, belilah produk yang dijual di desa wisata tersebut. Terkadang penduduk desa punya produk home made sendiri, baik kerajinan maupun makanan. Masih mikir mahal? Beli kuota berkali-kali juga bisa, masa beli hasil karya penduduk desa demi perekonomian desa saja tidak mau? 😄
Pusat gerabah di Desa Wisata Kasongan (umber: http://www.lihat.co.id/wisata/desa-wisata-kasongan.html)

7. Jika punya waktu lebih, menginaplah di desa wisata. Itu pun jika ada fasilitas penginapan atau izin dari warga setempat. Menginap di satu daerah membuat kita lebih mengenal habit penduduknya, mengenal lebih jauh adat dan budayanya.

8. Berkunjung ke desa wisata itu tujuannya intinya ya refresh pikiran. Lepaslah gadget selama berkunjung, kecuali untuk keperluan dokumentasi bolehlah. Usahakan sesantai mungkin, tidak dikejar-kejar e-mail kerjaan, misal. 😂

9. Tidak semua desa adat itu desa wisata, lho. Tidak semua penduduk desa adat tampak welcome dengan pengunjung. Jadi, bersikaplah sewajarnya saja. Ramah dan sopan.

10. Berpakaianlah yang sopan dan pantas.

11. Jangan menolak pemberian warga. Disuguhi makanan ya dimakan. Usahakan jangan ditolak.

12. Saat ingin melakukan sesuatu, minta izinlah. Misal, ingin masuk ke rumah yang unik, izin dulu ya. Taati aturan yang ada di desa wisata.

Ada yang mau menambahkan?

Senin, 10 Juli 2017

Dari Wisata Sungai di Siring Tendean Hingga Makan Malam di Pusat Kuliner Baiman


Tiga tahun lalu tempat ini biasa-biasa saja. Aku pun jarang mengunjunginya secara khusus. Kalau lewat mah sering banget. Namun, sekarang kawasan Siring Tendean yang berseberangan dengan Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin ini mulai tertata apik dan ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik wisatawan lokal maupun luar daerah/negeri. Sehabis Lebaran kemarin dua kali aku Siring Tendean. Nggak pernah bosen nih.
 
Dulu, yang aku ingat, Sungai Martapura tampak kotor. Aku cukup sering menaiki kelotok untuk perjalanan lumayan jauh ke Tamban, tempat tinggal acil (tane). Sekarang sudah lebih terawat. Di kawasan ini juga dibangun Menara Pandang, tempat yang dibuat khusus untuk memandang kawasan sekitar sungai. Namun, sampai sekarang aku belum pernah naik ke menara pandang karena selalu ditutup. Beberapa komunitas sering tampak berkumpul di area sekitar Menara Pandang.


Maafkan kenarsisan saya. ^_^

Tak jauh dari Menara Pandang, ada pasar terapung mini. Kusebut mini karena nggak seluas Pasar Terapung Kuin dan Pasar Terapung Lok Baintan. Awalnya, para pedagang berjualan di atas jukung (perahu tanpa mesin), tapi sekarang sudah dipindah ke atas lanting (rakit kayu). Kebanyakan sih berjualan buah-buahan lokal seperti limau (jeruk), pisang, sirsak, jajanan khas Banjar seperti lupis, apam, lamang, serta makanan berat seperti soto banjar, lontong, ketupat kandangan, dan nasi kuning. 


Beli jeruk dan makan lupis di Pasar Terapung Siring Tendean

Di dekat pasar terapung ini berjejer kelotok (perahu mesin). Para pengunjung bisa menaiki kelotok dan menikmati perjalanan sungai selama kurang lebih 15 menit dengan membayar harga tiket sebesar Rp 5.000/orang. Cukup murah, ya. Penumpang kelotok pun bebas memilih apa mau duduk di dalam kelotok atau di atap kelotok. Lebih enak memang di atap kelotok karena lebih leluasa memandang sekitar sungai. Tapi, bagi yang bawa anak kecil, harus dijaga benar, ya. Takut kecebur.


Ke Banjarmasin nggak afdol kalau nggak cobain makan soto Banjar di atas kelotok

Hal yang unik dan menarik di dekat pasar terapung adalah patung maskot Kalimantan Selatan, yaitu bekantan. Ada yang tahu apa bekantan? Itu lho sejenis monyet berhidung panjang yang lihai berenang menyelam dan berenang. Hewan ini sudah sangat langka dan sulit sekali ditemui karena hutan tempat tinggalnya mulai rusak. Bekantan dikenal suka sekali memakan buah rambai.
 
Ini di bekantan. Buah yang dia pegang buah rambai, buah hutan khas Kalimantan
Di dekat Menara Pandang, berjejer para pedagang makanan dan mainan. Jalan-jalan sambil wisata kuliner tentu jadi pilihan setiap orang. Siring Tendean bisa kamu jadikan destinasi selanjutnya. Bagaimana cara menuju Siring Tendean? Gampang banget. Siring Tendean terletak di tengah kota Banjarmasin. Kalau dari Bandara Syamsudin Noor, jaraknya sekitar 30 km. Oh ya, di Banjarmasin sudah transportasi online Go*ek. Mau ke mana pun jadi gampang. Kemarin aku pas mudik, ke mana-mana naik Go*ek. Yah, nggak di Jogja, nggak di Banjarmasin, transportasinya online. 

Wisata sungai di Banjarmasin memang sedang mengalami perkembangan. Pemerintah terus berupaya memperbaiki sistem dan kualitas pariwisata di Banjarmasin. Tata kota Banjarmasin pun sudah mulai baik, lho. Bagi perantau yang lama nggak mudik, jangan kaget melihat perubahan besar kota Banjarmasin, lho. Di area Jalan A. Yani sudah tampak hijau dan segar dipandang mata.
 
Makan malam di Pusat Kuliner Baiman.
Sepulang dari Siring Tendean, aku singgah di Pusat Kuliner Baiman di dekat fly over Gatot Subroto, sekitar 1 km saja dari rumahku. Semua pedagang kaki lima yang dulu berjualan di sepanjang Jalan A. Yani sudah dipindahkan di Pusat Kuliner Baiman. Pantas saja Jalan A. Yani km 1-6 kelihatan lebih rapi, ya. Pusat kuliner yang buka dari jam 3 sore hingga tengah malam ini nggak pernah sepi. Tempat parkir selalu penuh mobil dan motor. Variasi makanan yang dijual memang sangat beragam, jadi orang-orang lebih memilih Pusat Kuliner sebagai tempat makan bareng.

Kayaknya aku masih gagal move on dari libur panjang kemarin nih. Masih terngiang-ngiang gemuruh mesin kelotok dan kelezatan makanan khas Banjar. Tentunya, tak ketinggalan, masih saja rindu sama keluarga dan kampung halaman. Bagaimana ceritamu liburan kemarin, Kawan? Semoga selalu bahagia, ya. Amiiin.

Jogja, 110717