Rabu, 28 April 2021

Peran Bidan dalam Edukasi Bebas Susu Kaleng

 

Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar frasa “kental manis”? Apakah susu, minuman, atau kue manis? Jika kamu masih berpikir bahwa kental manis itu adalah minuman atau susu, sebaiknya segera jernihkan pikiranmu sekarang juga. Bagaimana cara menjernihkannya? Tentu saja kamu harus tahu kandungan gizi pada kental manis yang sering dikemas dalam bentuk saset dan kaleng. Kandungan gizi pada kental manis tidak tepat dikonsumsi sebagai minuman ataupun susu. Jika dikonsumsi dengan cara tidak tepat, masalah kesehatan akan muncul, misalnya diabetes, stunting, dan obesitas.

Kental manis mengandung gula yang tinggi. Semua sudah tahu, kandungan gula yang berlebih pada tiap jenis makanan dan minuman akan mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang.  Lebih-lebih buat anak-anak usia pertumbuhan. Konsumsi susu buat anak-anak itu penting karena susu mengandung kalsium dan protein. Sementara, kental manis hanyalah mengandung gula dengan rasa susu. Jadi, susu bukan kandungan utama, sekadar perasa susu saja. Namun, masalahnya sekarang masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa kental manis itu minuman susu.



Persepsi ini yang perlu diubah lewat edukasi terus-menerus. Kesalahan persepsi tentang kental manis terjadi karena beberapa faktor. Pertama, iklan kental manis yang keliru. Dulu iklan kental manis ditampilkan dengan model anak-anak yang sedang minum kental manis. Masalahnya, meski sekarang iklannya sudah berubah, persepsi ini tetaplah ada. Terbukti dari hasil penelitian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama PP Aisyiyah dan PP Muslimat NU, satu dari empat anak-anak usia balita di provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, dan Maluku, mengonsumsi kental manis setiap hari. Sebanyak 48% dari para ibu mengakui, kesalahan persepsi itu didapat dari iklan di berbagai media, baik televisi, media sosial, iklan sinetron, maupun media massa.

Kedua, peletakan produk kental manis di deretan minuman. Inilah yang menyebabkan persepsi kental manis adalah susu semakin mengakar di masyarakat. Penjual perlu benar-benar memperhatikan masalah ini. Peletakan produk kental manis sebaiknya diletakkan di deretan topping makanan, bukan minuman susu. Kampanye kental manis bukan susu ini bukan melarang produksi kental manis ya. Kental manis bisa dikonsumsi sebagai topping saja, bukan minuman utama, khususnya bukan untuk dikonsumsi anak-anak.

Lalu, bagaimana solusi menghapus persepsi yang salah? Salah satu solusinya adalah edukasi terus-menerus oleh bidan. Bidan adalah ujung tombak demi berkurangnya konsumsi kental manis oleh anak-anak. Bidan bisa menyampaikan informasi secara berkala sejak awal masa kehamilan. Bahkan, informasi bisa diberikan jauh sebelum masa kehamilan. Seperti diketahui, masa 1.000 HPK (Hari Pertama Kelahiran) perlu dipersiapkan dengan matang oleh calon ibu dan calon ayah. Bidan memberikan informasi tentang makanan yang tepat untuk ibu hamil dan janis, makanan apa saja yang tidak layak konsumsi, serta pola makan seimbang. Informasi ini tidak hanya diketahui oleh calon ibu, tapi calon ayah juga perlu mengetahuinya.

Mengapa harus tahu jauh sebelum kehamilan? Generasi yang cerdas dan sehat perlu disiapkan sejak dini. Langkah awal yang perlu disiapkan adalah kesehatan ibu. Ibu yang sehat akan berpengaruh ke kondisi kesehatan anak. Oleh sebab itu, orang tua perlu selalu update informasi tentang gizi dan kesehatan anak. Orang tua bisa aktif bertanya ke bidan atau tenaga medis apa saja yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Saat hamil, pemenuhan gizi untuk dua orang, yaitu ibu dan janin. Bukan hanya soal kuantitas makanan, tapi juga kualitas gizi makanan.

Konsumsi kental manis khususnya. Dampak buruknya adalah stunting, obesitas, dan diabetes. Dampak buruk konsumsi kental manis memang tidak langsung terlihat. Terkadang dampaknya baru dirasakan dalam jangka panjang. Dr. Dr. Tubagus Rachmat Sentika Hasan, Sp.A, MARS mengatakan dalam webinar pada 27 April 2017, orang tua harus peka dengan kondisi dan perubahan tubuh anak. Misalnya berat badan anak, perkembangan tubuh, fungsi organ tubuh, dan sebagainya. Masalah stunting adalah masalah serius. Stunting berhubungan dengan sistem kerja otak dan mempengaruhi perkembangan kecerdasan pada anak. Maka, sebagai langkah awal, orang tua berperan aktif dalam menjaga tumbuh kembang anak. Tentu saja perlu juga peran bidan sebagai penyampai informasi ke para orang tua.



Sudahkah peduli dengan anak-anak di sekitarmu? Tidak hanya anak kandung sendiri, tapi juga anak saudara, anak teman, maupun anak tetangga. Apa yang anak-anak konsumsi tentu tidak lepas dari peran orang tua dan orang terdekatnya. Mulailah dari hal sederhana, misalnya menyampaikan informasi terkait konsumsi kental manis ini (kemasan saset maupun kaleng). Kental manis bukanlah minuman, bukanlah susu. Dengan berbagi informasi ini, kamu turut serta dalam mencerdaskan generasi bangsa. Salam sehat!

1 komentar:

  1. Miris sih masih saja disejumlah daerah pengetahuan orang tua mengenai kebutuhan gizi anak yang masih rendah adalah penghalang pengentasan stunting di Indonesia. Karena itu menggiatkan edukasi dan penyuluhan gizi ke masyarakat perlu terus di lakukan untuk bebas dari susu kaleng

    BalasHapus