Minggu, 22 April 2018

Gaya Hidup Sehat ala Sembutopia


Kumpul-kumpul dengan teman-teman, tidak lengkap rasanya jika tidak sambil makan dan minum. Ayo, ngaku deh, ketika berencana kumpul-kumpul, pasti yang dicari tempat nongkrong dengan makanan dan minuman yang enak. Kalaupun tidak berkumpul di satu cafe, resto, dan sebagainya, ya di rumah. Lagi-lagi, konsumsi itu wajib ada.
Roti berbahan tepung kentang.
Bicara tentang makanan tidak pernah ada habisnya. Pernah dengar ungkapan “Makan untuk hidup”? Nah, kita makan biar kuat menjalani hidup. Jangan kebalik, ya, bukan hidup untuk makan. :D Makanan apa sih yang harus dimakan? Tentu saja makanan itu harus bergizi dan menyehatkan. Enak saja tidak cukup, saudara-saudara. Ada yang harus diperhatikan ketika kita makan sesuatu, yaitu apakah pola makan kita sudah sehat?

Semakin maju zaman, semakin banyak varian makanan yang diproduksi dan semakin banyak pula pilihan makanan. Contoh sederhana nih, roti. Roti yang kita tahu selama ini kebanyakannya terbuat dari tepung terigu dan gandum. Manusia tambah cerdas. Olahan roti tidak hanya terbuat dari terigu ataupun gandum. Ada pula roti yang ditambah komposisi jenis tepung lain.
Chef Jojo, dari Grand Aston Jogja. Ini dia chef yang mengolah berbagai camilan dari kentang.
 
Arifatun, Food Specialist, menjelaskan tentang roti kentang.
Salah satu jenis tepung yang bisa dipakai untuk mengolah roti adalah tepung kentang. Dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Dunia (World Health Day), Sembutopia mengadakan acara temu blogger di Cielo 37, Grand Aston Jogja. Sembutopia adalah sebuah komunitas yang peduli terhadap malasah kesehatan masyarakat Indonesia.
Kafi Kurnia, pendiri Sembutopia.
 
Leonard Cahyadi dari Potatoes USA.
Pendiri Sembutopia, Kafi Kurnia, menjelaskan secara ringkas tentang alasan dinamakan Sembutopia. Aku juga penasaran, sih, mengapa Sembutopia, bukan Sehatopia, misal? Pemberian nama komunitas Sembutopia itu berdasarkan kebiasaan sebagian rakyat Indonesia yang nunggu sakit dulu baru berobat alias pengin sembuh. Aku banget nih. -_-

Kembali ke masalah roti kentang tadi, ya. Pembuatan roti kentang menggunakan 70% tepung terigu dan 30% tepung kentang. Jadi, tidak 100% tepung kentang, ya. Kelebihan penggunaan roti kentang. Apa bedanya roti tanpa tepung kentang dan pakai tepung kentang? Pertama, dari segi kualitas, karbohidrat tepung kentang lebih bagus daripada jenis tepung lainnya. Karbohidrat yang cocok untuk dikonsumsi adalah complex carbohydrate, bukan simple carbohydrate. Kedua, tepung kentang mengandung serat yang tinggi sehingga bagus untuk diet. Ketiga, roti yang menggunakan tepung kentang teksturnya lebih padat, keempukannya tahan lama, serta remah-remahnya sedikit.

Karbohidrat kentang malah lebih bagus daripada karbohidrat gandum, lho. Kentang juga sangat gampang ditemukan di Indonesia. Tahu sendirilah, gandum di Indonesia itu semuanya hasil impor dari luar negeri. Sementara, kentang diproduksi di Indonesia. Kamu tinggal ke pasar, dapat deh kentang. Iya, kan? Kentang pun bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan.



Semuanya berbahan kentang.

Masyarakat Indonesia itu pengonsumsi nasi. Bagi kebanyakan orang Indonesia, belum “makan” kalau tidak makan nasi. Padahal, sebelumnya sudah makan roti dan bakso. :D Unjuk jempol sini, siapa yang kayak begini? Kebiasaan ini mestinya harus diubah. Karbohidrat itu tidak cuma nasi.

Dulu, aku terbiasa selalu makan nasi. Sarapan nasi, makan siang nasi, makan malam juga nasi. Tapi, dulu kok badanku nggak bisa gemuk, ya? -_- Sekarang, kebiasaan makan seperti itu sudah kuubah. Sarapan tidak harus nasi. Aku bisa makan roti (kue) dan buah. Buah dan sayur penting lho bagi tubuh. Makan malam pun sekarang mulai jarang. Kalau dirasa lapar banget, baru makan nasi saat malam. Mudah-mudahan pola makanku masih bertahan, ya.
Sehat itu penting banget. Sangat penting! Selain pola makan, hal yang harus diperhatikan adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang paling gampang dilakukan itu jalan kaki. 
 
Jangan lupa konsumsi buah. Salah satu jenis Apple Washington.
Ternyata, dalam sehari, kita harus berjalan kaki sebanyak 10.000 langkah. Melihat angkanya terlihat banyak sekali, ya. Padahal, itu cuma sekitar 3,5 kilometer, lho. Oke deh, ini bakal aku biasakan secara bertahap. Kalau ke warung yang jaraknya cuma 500 meter, jalan kaki saja. Kalau ke pasar yang jaraknya cuma 1 kilometer, jalan kaki juga, tidak perlu naik ojek online. :D

Kita yang tahu kondisi tubuh kita sendiri. Mulailah lebih peka dengan kesehatan kita sendiri. Yuk, Sembuhkan Indonesia dengan Gaya Hidup Sehat. Oh ya, Sembutopia mengadakan lomba blog, lho. Lomba ini tentu saja berhubungan kesehatan. Ceritakan pengalaman sehatmu. Dengan berbagi cerita, kamu akan menginspirasi banyak pembaca Indonesia untuk bergaya hidup sehat. Mau ikut lombanya? Cek link di sini, ya >>> https://bit.ly/2HUM324

2 komentar:

  1. Makanannya unik2 mbak hehe
    Saya jd pengen cek lomba blognya nih

    BalasHapus
  2. Berjalan kaki 10.000 langkah. What? Berjalan kaki 3,5 km? Tentu bukan aktivitas yang ringankan?

    Alhamdulillah, sudah puluhan tahun saya lakukan aktivitas tersebut. Apalagi kalau pas di desa. Tinggal hitung saja. Ke masjid 5 kali sehari. Jarak rumah ke masjid 500 m. Jadi sehari paling tidak harus berjalan 5 km.

    Cukup sederhana sebenarnya. Tapi kita sering abai.

    BalasHapus