Senin, 07 Maret 2016

Bersahabat denganmu, Bersahabat dengan Blog

Sumber ilustrasi: terbaikhosting.com

Dunia blog adalah dunia yang baru buat saya. Menurut saya, dulu blog itu tidak ada keistimewaannya. Meski sudah mengenal blog sejak tahun 2012, saya tidak tertarik untuk ngeblog. Saya pikir ngeblog itu sangat sulit. Saya termasuk orang yang gaptek dan tidak gampang terbuka dengan dunia komunikasi terbaru, termasuk dunia internet (blog khususnya). Tapi, lama-lama pemikiran saya itu terbantahkan. Saya mulai tertarik menulis di blog. Semua berawal dari hobi saya “stalking” beberapa blog. Yup, saya suka membaca tulisan blogger. Ada blog yang membahas travelling, food, dan parenting. Saya benar-benar terkesima dengan tulisan para blogger.
Tahun 2013 saya mulai ngeblog setelah beberapa kali “dikomporin” seorang sahabat sekaligus ibu. Ya, saya menganggap dia ibu. Apakah dia ibu yang baik? Ternyata tidak (Duh, jadi takut dijewer). Sumpah, dia itu ibu yang sukanya ngomporin! Ngomporin saya yang kudet (kurang update) banget sama perkembangan teknologi dan informasi. Ngomporin saya yang masih betah sembunyi dalam tempurung kegaptekan.
“Hah? Kamu baru kenal dunia internet setelah lulus kuliah? Ih, dodol banget! Aku saja dari tahun 90-an sudah aktif di dunia online.” Ini salah satu pernyataannya ketika saya bercerita tentang masa kuliah saya. Yup, saya baru mengenal dunia internet secara intens saat kuliah,  menjelang KKN. Itu pun karena tugas kuliah dan mau skripsi. Tahu dunia medsos hampir dua tahun setelah kuliah. Memang dodol banget. :D Yang paling parah kalau dia ngomporin status kejombloan saya. Ahiiiks!!! (Kunyah bata).
Dia adalah Mama Van dan Bas alias Elisa Koraag. (Jangan salah menyebut namanya, lho. Koraag. Double A. Pelafalannya “Koraah”). Teman-teman di sebuah komunitas biasanya memanggilnya “Bunda”. Saya sendiri biasa memanggil “Bundcha”, singkatan dari Bunda Icha. Icha adalah nama kecilnya. 
Kalau dilihat dari perbedaan umur kami sekitar 21 tahun, dia memang pantas dipanggil ibu atau bunda.  Yaaah, meski dia sering protes karena berasa tua dipanggil begitu (Lah, memang tua gitu! Sadar umur, Buuu! #dikemplang).
Back to topic. Ceritanya, tahun 2013 itu Bundcha ngomporin agar saya bikin blog. “Nggak ada rugi-ruginya, deh, bikin blog. Kamu bisa menulis apa saja. Mending ngeblog daripada kamu nulis status galau mulu.” Pletak!
Tahun 2013, Bundcha mengundang Mbak Shinta Ries buat mengajar tentang blog secara online. Pesertanya anggota grup kepenulisan, termasuk saya. Yang diajarkan Mbak Shinta Ries sederhana banget, yakni cara membuat blog, baik Blogspot ataupun Wordpress. Karena disuruh mengisi konten blog edisi perdana sesuai minat, saya posting tulisan untuk pertama kali dengan puisi. Itu pun puisi-puisi copasan dari status Facebook saya. :D
Bagaimana selanjutnya? Duh, ternyata menulis di blog cuma bertahan dua bulanan. Blog saya jadi sarang laba-laba sampai 2014. :D Entah faktor apa yang membuat saya malas banget posting tulisan. Lagi-lagi, Bundcha jadi kompor yang benar-benar kompor. Tahun 2015 saya diajak ikut acara blogger. Ada acara peluncuran produk, Sunday Sharing Blog Detik, hingga baca puisi di beberapa event (termasuk baca puisi di depan Menteri Kesehatan). Oh, ya, kami sama-sama suka puisi dan membaca puisi.
Momen kebersamaan dengan teman-teman blogger.
“Menulislah dengan hati.” Ini pernyataan Bundcha yang selalu saya ingat. Jika kita menulis tidak dengan hati, menulislah dengan pena atau keyboard PC. Gubrak! Ini serius, Dib, serius! Okey, soal dengan hati ini memang relatif banget. Kadang juga tidak bergantung suka atau tidak, melainkan mood atau tidak menuliskannya. Huhu! Ini penyakit saya. Sering menyalahkan mood, padahal sebenarnya malas.
Saya benar-benar belajar ngeblog dari dasar. Perkembangan ilmu blog saya pun tidak lantas bergerak cepat seperti cepatnya melupakan sang mantan (ehem!). Bayangkan, cara memasang banner saja saya masih kelimpungan. Saya juga bingung memasukkan link hidup di postingan. Pada siapa saya bertanya? Lagi-lagi Bundcha tidak pernah bosan menjawab dan membantu saya. Perkara dia ngedumel “Duh, ini anak kok dodolnya amit-amit!”, saya mah tidak urus. Wakakak!
Pokoknya Bundcha dengan sukarela membagikan pegetahuan dan pengalamannya soal blog. “Kita harus punya waktu khusus buat ngajarin kamu blog,” ucapnya suatu hari. Memang, meski kami sering bertemu sebulan atau dua bulan sekali (kalau kebetulan saya ke Jakarta), kami tidak pernah punya waktu khusus untuk sharing ilmu blogging. Pertanyaan saya tentang blog selalu ketika saya di Jogja, sedangkan Bundcha di Jakarta, alias via online.
Bundcha juga mengenalkan saya dengan komunitas-komunitas blogger. “Gabung dengan komunitas itu perlu. Selain membuka pertemanan baru, kamu juga bisa belajar dari pengalaman para blogger.” Dan, memang benar. Berkat gabung dengan komunitas, saya bisa melebarkan sayap pertemanan. Kenal dengan blogger-blogger Jogja dan daerah lain. Tak kalah penting, pintu informasi terbuka lebar. Saya bisa mengikuti event-event blog.
Beberapa bulan lalu saya mengikuti Fun Blogging di Jakarta. Infonya saya dapat dari Bundcha. Paling tidak, meski belum pernah kursus blog secara privat dengan Bundcha, informasinya tentang Fun Blogging sangat membantu saya untuk mengetahui bagaimana menulis yang baik dan benar, bagaimana mengelola blog agar enak dibaca orang, bagaimana memaksimalkan fungsi medsos dalam ngeblog, dan sebagainya.
Satu hal yang saya suka dengan sikap Bundcha. Dia tidak sungkan-sungkan memberikan saran dan kritik. Misal, kalau postingan blog saya kurang gereget isinya, dia langsung berkomentar dan memberikan saran bagaimana seharusnya isi tulisannya. Kritik Bundcha tidak asal kritik,lho. Bundcha juga memberikan saran dan solusi yang benar-benar berguna. Dia tidak segan memberikan masukan topik apa yang saya tulis.
Apalagi kalau sudah berhubungan dengan komunikasi, siap-siaplah Anda dikritik Bundcha. Talenta dia soal ilmu komunikasi patut diacungi jempol. Saya sendiri sering tidak berkutik kalau sudah “kena tembak”. “Kamu tidak menjawab pertanyaan saya, Dib. Coba, deh, kamu ulang lagi jawabanmu.” Pletak! Hayooo, ngaku yang pernah “kena tembak”?
Keahliannya dalam komunikasi jelas terlihat dari tulisan-tulisan Bundcha di blog. Membaca tulisan Bundcha sering membuat saya senyum-senyum sendiri, seperti mendengarkan dia berbicara langsung di depan kita. Tulisan dia “hidup banget”. Paling suka tulisan Bundcha tentang anak-anaknya, Vanessa dan Bastian, juga cerita tentang pengalaman kerja dan perjalanannya keliling Indonesia.
Beberapa momen kebersamaan: Mbolang bersama, hadir acara blogger, dan baca puisi.
“Saya tidak punya materi dan uang yang berlebih. Saya bukan orang kaya. Tapi, saya terus ingin berbagi dengan apa yang saya miliki. Salah satunya berbagi informasi kepada orang lain. Dalam ngeblog, saya tidak mengejar materi dan kekayaan. Kalau mau kaya, sudah dari dulu saya kaya. Jika ada yang bilang saya ngeblog karena mengejar uang, dia tidak tahu siapa saya. Saya ngeblog karena saya suka menulis. Saya ngeblog jauuuh sebelum topik ‘blog menghasilkan uang’ booming. Kalaupun sekarang saya dapat uang dari ngeblog, itu semata-mata karena bonus dari Tuhan.” Begitulah ucapan Bundcha ketika kami ngobrol.
“Apakah kamu terpaksa saya ajak ngeblog?” tanya Bundcha suatu hari.
Iya, saya terpaksa… terpaksa menanggalkan kemalasan saya karena ajakan Bundcha untuk ngeblog benar-benar membuat saya tahu arti berbagi meski sekadar tulisan. Terima kasih banyak. Hanya itu yang bisa saya haturkan, Bundcha. Pola pikir kami memang kadang tak sama. Dalam menyikapi berbagai hal, kadang kami berbentrokan. Kadang saya juga teramat kurang ajar tidak mengikuti wejangannya (kalau menjangan enak kali, ya). Kadang juga kami saling beda pendapat. Tapi, ada hal yang membuat perbedaan itu jadi indah, yakni keinginan kami untuk berbagi dan berbagi lewat tulisan atau blog.
Salam hormat! Edib.

Jogja, 070316
"Tulisan ini diikutkan dalam Irly & Diah's GA Collaboration: Teman Nge-Blog"

Irly Diah's GA Collaboration

19 komentar:

  1. Takut komen. Takut jadi materi tulisan. Hmmm. Mau jitak, jauh. Mau disumpahin, gimàna ya. Sumpah saya manjur. Semoga ngeblog beri kamu banyak manfaat. #bighug

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, jangan main sumpah2an. :p
      Amiiin. #peluk

      Hapus
  2. Hahahaha
    Suka deh, ngalir banget. Kayak FF. eh

    BalasHapus
  3. Persahabatannya berarti ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berbagi hal positif pasti sgt berarti, Mbak Ade. :)

      Hapus
  4. tulisannya enak dibaca.. Asik juga ya punya teman yang ngasi semangat ngeblog.. Hihihi. Semoga menang GA nya ya Maaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Semoga saya gak males2an lagi, Mak Adriana. :D

      Hapus
  5. Mama icha orangnya welcome banget sama pemula kayak aku, asiiik orangnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Mbak Titis. Orang humble. #ah, dia pasti batuk2 sekarang. :D

      Hapus
  6. Bahagia pastinya punya sahabat yang senantiasa 'mendorong' untuk kebaikan dan kemajuan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangeeet, Mbak. Persahabatan itu memang kudu saling brbagi kebaikan. ^_^

      Hapus
  7. Seneng pasti ya punya sahabat baik seperti mbak Icha di dunia blogging yang katanya penuh intrik *kata siapa* wkwkwkkk...

    BalasHapus
  8. Sayangnya banyak, "benci"nya dikit, sialnya malah "benci"nya yang bikin ngangenin yak?

    Senang bacanya, beginilah seharusnya dunia maya, mendekatkan , bukan menjauhkan.

    Terima kasih sudah ikut Ga ini.
    Salam kenal..^^

    BalasHapus
  9. Senang yah Mbak, ada yg "jerumusin" ke jalan yg lurus, xixiix. Sama banget ini Mbak ma saya, sering mengkambinghitamkan mood sebagai alasan gak update/posting, padahal mah sok sibuk, malas :p

    Saya sudah lumayan lama ngeblog, tp blm kenal Bundcha ini, aiihh kudetnya saya :D

    Salam kenal yah Mbak.:)

    BalasHapus