Kamis, 31 Maret 2016

Bela Tanah Air itu Menjadi Tim Nusantara Sehat



Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat majemuk. Masyarakat Indonesia menyebar ke seluruh pelosok dan seluruh lapisan masyarakat, dari pedalaman, pedesaan, perkotaan, hingga rakyat pinggiran (orang jalanan). Rakyat Indonesia hidup dalam perbedaan suku, agama, kebiasaan, adat istiadat, namun menyatu dalam satu naungan Pancasila. Lebih 70 tahun sudah Indonesia merdeka. Sudah tujuh presiden yang memimpin bangsa berlambang Garuda ini.
Saya teringat penggalan alinea dalam Pembukaan UUD 1945:
"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”
Tim Nusantara Sehat 2015 (Sumber: http://maluku.wartakesehatan.com/)
Merdeka adalah mengisi kemerdekaan dengan cara memajukan kesejahteraan dan mencerdaskan rakyat Indonesia. Itulah tujuan utama dari kemerdekaan, seperti diungkapkan juga oleh Ketua MPR RI, Pak Zulkifli Hasan, beberapa waktu lalu dalam acara gathering dengan netizens Jogja. Pertanyaannya, apakah tujuan kemerdekaan itu sudah tercapai hingga sekarang?
Kesejahteraan rakyat Indonesia sangat berkaitan erat dengan peningkatan kesehatan masyarakat. Masyarakat yang sehat secara fisik jelas sangat menunjang peningkatan kecerdasan. “Di dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat” atau dalam bahasa asingnya “Mens sana in corpore sano.” Kita analogikan dengan kamar. Bayangkan, kamar yang tanpa ventilasi, tanpa jendela, tanpa penerangan, tanpa sirkulasi udara yang cukup, pasti akan penuh debu di mana-mana. Apakah kamar seperti itu tempat yang bagus untuk ditempati? Jelas kamar itu tidak sehat secara fisik. Secara mental, siapa yang tertarik istirahat bahkan bekerja di kamar yang sumpek? Bukannya membuat semangat, malah menimbulkan penyakit dan pikiran jadi stres.
Begitu juga kondisi bangsa kita. Dari tahun ke tahun terus melakukan pembenahan di segala bidang kehidupan. Jika ada yang bilang bangsa kita tidak ada perkembangannya, mungkin dia selama ini menutup mata atau mengamati secara sekilas saja. Pendidikan, kesehatan, pembangunan tata kota, sudah berkembang secara baik. Hanya saja, kita tidak bisa menafikan ada beberapa bagian yang kurang maksimal penanganannya.
Di bidang kesehatan, pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), terus melakukan pembenahan dan berinovatif mengadakan program kesehatan. Sebagai negara berkembang, permasalahan kesehatan bangsa Indonesia adalah tingginya angka kematian ibu dan bayi serta gizi buruk. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menyebutkan bahwa angka kematian ibu (AKI) di Indonesia adalah 359 per 100 ribu kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi (AKB) adalah 32 per seribu kelahiran hidup.
Pada periode 2015-2019, Kemenkes RI memfokuskan pemantapan Pelayanan Kesehatan (Yankes) Primer di segala penjuru tanah air, yaitu pembenahan fisik, sarana, dan sumber daya manusia. Ketiganya saling mendukung. Ada fisik (infrastruktur) dan ada sarana (fasilitas), tapi kurang sumber daya manusia (tenaga kesehatan), bagaimana bisa berjalan maksimal?
Jumlah rakyat Indonesia per 1 Juli 2015 adalah 255,461,700 jiwa (peringkat ke-4 di dunia). Jumlah SDM  kesehatan pada tahun 2012 sebanyak 707.234 orang dan meningkat menjadi 877.088 orang pada tahun 2013. Dari seluruh tenaga kesehatan yang ada, sekitar 40% bekerja di Puskesmas. Pada tahun 2014, jumlah tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, kefarmasian, dan lain-lainnya mencapai 891.897. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya, yakni sebesar 877.098. Memang dari tahun ke tahun, tenaga kesehatan selalu mengalami peningkatan. Tapi, itu masihlah angka yang kurang dibandingkan dengan jumlah rakyat Indonesia yang 250 juta jiwa lebih.
Sebagai orang yang tidak berkecimpung di dunia kesehatan selaku tenaga medis, saya rasanya ingin sekali terjun langsung mendatangi berbagai pelosok di tanah air. SDM yang kurang ditambah kondisi fisik yang sulit ditempuh, seperti daerah pedalaman di Papua, NTT, NTB, dan daerah Indonesia timur lainnya, serta beberapa daerah di semua pulau di Indonesia (termasuk Pulau Jawa sendiri masih banyak menyimpan “eksotis”nya desa pedalaman yang sulit dijangkau transportasi darat).
Program Jaminan Kesehatan Nasional dan Kartu Indonesia Sehat tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan seluruh lapisan masyarakat. Kebijakan membentuk Tim Nusantara Sehat oleh Kemenkes RI adalah langkah konkrit dalam memaksimalkan tujuan program pemerintah. Inilah salah satu warna dan langkah nyata bela tanah air. Siapa, sih, yang tidak mau mengabdikan diri kepada tanah air, tanah pusaka?
Dengan adanya program Nusantara Sehat, diharapkan tenaga kesehatan menyebar hingga segala pelosok. Saya jadi terpikir, andai saya diberi kesempatan menjadi Tim Nusantara Sehat. Selain sebagai wujud cinta tanah air, menjadi Tim Nusantara Sehat adalah cara saya berbaur dengan masyarakat, serta mengenal dan memberi solusi pada permasalahan negeri secara langsung tanpa tuding sana tuding sini. Zaman sekarang, bicara harus disertai aksi nyata. Zaman sekarang, tidak ada untungnya menghujat pemerintah tanpa memberi solusi dan membuktikan “kita adalah putra bangsa yang peduli pada tanah air.”
Seperti yang saya katakan sebelumnya, tujuan kemerdekaan Indonesia telah termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Siapa yang memegang kendali kemerdekaan? Kita. Rakyat Indonesia. Pengisi kemerdekaan. Tim Nusantara Sehat, salah satunya.
Jika saya jadi Tim Nusantara Sehat, tentu saya tidak akan menyia-nyiakan berkah dan amanat yang diberikan. Saya tidak akan mendengarkan perkataan-perkataan negative. Misal, “Ngapain repot-repot bantu orang yang kaitan darah pun nggak ada.”; atau, “Realistis saja. Cari duit yang banyak. Bantu orang sakit atau orang di desa-desa itu tugasnya pemerintah.” Pemikiran di balik pernyataan-pernyataan itu yang perlu diluruskan. Tugas membantu sesama adalah tugas rakyat Indonesia, tugas semua elemen masyarakat.
Jika saya jadi Tim Nusantara Sehat, selain membantu secara medis ke masyarakat Indonesia, saya juga berusaha menularkan semangat bela tanah air ke lingkungan terdekat saya. Mungkin, ada beberapa tenaga medis yang tidak bisa ikut Tim Nusantara Sehat karena tidak diizinkan keluarga. Mungkin, ada beberapa orang yang terlalu memasang tameng dan sekat antara profesi dan masyarakat. Bergerak dan bergerak. Dalam mewujudkan tujuan, kita tidak bisa sendirian. Perlu tim, perlu kerja sama, dan perlu regenerasi. Dalam hal ini, tularkan semangat berbagi itu ke keluarga terdekat lebih dulu, seperti pasangan, anak, keponakan, dan lain-lain.
Jika saya jadi Tim Nusantara Sehat, saya juga harus senantiasa sehat. Menjaga kesehatan diri sendiri tetap nomor satu. Membantu orang lain juga hal yang utama. Persiapan fisik dan mental itu harus dilakukan sebelum saya memutuskan menjadi bagian Tim Nusantara Sehat. Tugas Tim Nusantara Sehat tidak hanya mengobati, tapi melakukan bimbingan, penyuluhan, dan edukasi tentang kesehatan ke masyarakat. Kita ketahui bersama, kondisi sosial dan budaya masayarakat Indonesia sangat beragam. Sebagai Tim Nusantara Sehat (jika saya jadi Tim Nusantara Sehat), saya harus komunikatif kepada masyarakat. Mendekati masyarakat dengan tingkat kemajemukan yang tinggi tentu skill komunikasi harus mumpuni.
Jika saya jadi Tim Nusantara Sehat, saya ingin menjadi bulir padi yang merunduk meski tambah gemuk dan menguning. Saya ingin menyenangkan petani-petani yang telah berusaha menyemai benih, memangkas rumput, dan memanen hasil tanamnya. Saya ingin tersenyum ketika melihat masyarakat (baca: pasien) tersenyum.
Sebagai penutup, jika saya jadi Tim Nusantara Sehat, satu puisi untuk semua Tim Nusantara Sehat:
Nusantara Sehat

Di bawah langit Nusantara kita bernaung
Lantunkan Indonesia Raya agar tetap bergaung
Di tepi pantai, di hutan, di pedalaman
Banyak wajah yang rindu senyuman
Banyak raga yang menunggu pengobatan
Duduklah sebentar, duhai kawan
Desir angin menemani pertemuan
Tersenyumlah pada setiap sapa di tepi jalan
Tersenyumlah pada setiap wajah yang mengharap bantuan
Tersenyumlah, maka tak ada yang lebih sempurna dari segala doa sesama

Di atas tanah Pertiwi kita berpegangan erat
Sang Saka berkibar jiwa bersemangat
Saling berbagi demi masyarakat sehat
Pandang ke depan, cakrawala luas membentang
Ulurkan tangan, mari berkumpul dalam kasih sayang
Nusantara Sehat jadikan tujuan

Salam sehat!

Jogja, 310316

Referensi:
http://www.depkes.go.id/resources/download/info-publik/Renstra-2015.pdf http://nusantarasehat.kemkes.go.id/content/sekilas-nusantara-sehat

11 komentar:

  1. Balasan
    1. Kebetulan temanya pas cucok ama obrolan. Heheh

      Hapus
  2. Wah..calon berangkat ke Batam ini. Sukses yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Kebetulan obrolan dgn teman topik ini. Jd lngsung capcus. :D

      Hapus
  3. Sehatkan saudara kita sampai pulau terluar dan pelosok Negeri ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Semoga smakin sehat. Kamu juga, andini. 😊

      Hapus
  4. Wah, semoga terpilih ya mbak.
    Keren bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin, mbak mely. Terima kasih doanya. ;)

      Hapus
  5. ayo mbak Edib kita bergandeng tangan untuk Indonesia yang lebih sehat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, mak iruuul. Ayo kita tularkan smangat Tim Nusantara Sehat! :)

      Hapus
  6. Bangga ya jadi bagiannya
    semoga sukses Mbak :)

    BalasHapus