Minggu, 21 Februari 2016

Gagal Move On dari Kelas Inspirasi



Para siswa SDN 1 Pakel Pule, Trenggalek (sumber gambar: relawan dokumentasi SDN 1 Pakel Pule)
Pertama kali tahu tentang Kelas Inspirasi Maret tahun 2015 lalu. Saat itu aku menginap di sebuah hostel di Yogyakarta dan sekamar dengan dua orang gadis dari Jakarta. Sejak tengah malam, mereka sudah sibuk menggunting kertas warna-warni. Aku bertanya, mereka lalu menjawab bahwa sedang ikut Kelas Inspirasi. Mereka menjelaskan sekilas kegiatan Kelas Inspirasi. Semakin penasaran, aku searching perihal Kelas Inspirasi di internet, dan aku jatuh cinta!
Bagiku, mengikuti Kelas Inspirasi Trenggalek menuntaskan “kerinduan terpendam” pada dunia mengajar. Basic pendidikan sarjanaku memang mengajar, tapi sudah lama aku memutuskan bekerja sebagai editor freelance, kemudian full time di sebuah penerbit di Yogyakarta. Sehari-hari aku berkecimpung dengan naskah dan buku anak.
Ini aku. ;) (sumber gambar: relawan dokumentasi SDN 1 Pakel Pule)
Seperti halnya orang yang menuntaskan rindu, menjelang, sedang, dan setelah kegiatan Kelas Inspirasi, perasaanku senang tak terkira. Bahkan, sampai seminggu setelahnya aku gagal move on. Selalu terkenang pengalaman bercengkerama dengan anak-anak, menyampaikan materi profesi dengan menyenangkan, serta keakraban dengan para fasilitator dan relawan Kelas Inspirasi Trenggalek.

Sebagian relawan pengajar dan fasilitator SDN 1 Pakel Pule (sumber gambar: relawan dokumentasi SDN 1 Pakel Pule)
Mengapa aku memilih Trenggalek, bukan kota lain? Sebenarnya aku ingin memilih Yogyakarta, tapi sewaktu mendaftar, jadwal Kelas Inspirasi Yogyakarta belum update di website. Alasan lainnya, tahun 2014 aku pernah berkunjung ke Trenggalek dan aku belum puas menikmati alam Trenggalek. Aku terhipnotis oleh Trenggalek yang merupakan sebuah kabupaten kawasan pegunungan. Ke mana mata memandang, pasti akan disuguhi pemandangan pegunungan.
Alam pegunungan. Segeeer. ^_^ (sumber gambar: relawan pengajar SDN 1 Pakel Pule)
Terus terang, aku sangat grogi menjelang Kelas Inspirasi. “Bagaimana nanti di depan para siswa, ya?”; “Aku harus ngomong apa?”; “Kira-kira mereka bakal mudheng nggak sih dengan pengajaranku?”, dan pertanyaan lainnya bergumulan sepanjang waktu. Saking bingung dan groginya, materi ajar baru benar-benar siap saat tengah malam tanggal 23 Januari 2016, saat teman-teman fasilitator dan relawan sudah tertidur lelap. Itu pun setelah diskusi dengan seorang sahabat dan mendapat masukan teman-teman relawan.
Base camp kami di sebuah rumah warga. Pemiliknya namanya Pak Ateng. Beliau sekeluarga baik sekali. Terima kasih. ^_^ (sumber gambar: dokpri)
Satu hal yang aku khawatirkan adalah kondisiku yang tidak bisa bicara bahasa Jawa. Aku asli orang Banjarmasin. Ternyata kekhawatiran itu sirna sebab para siswa sangat lancar berbahasa Indonesia. Meskipun mereka tinggal di desa, bahasa Indonesia bukanlah hal asing dalam percakapan mereka sehari-hari (Pengalaman dulu waktu KKN menghadapi anak-anak yang tidak lancar bahasa Indonesia). Tentang lokasi sekolah, ini yang juga tidak bakal dilupa. Menuju SDN 1 Pakel Pule melewati “jalanan ular”. Menanjak, menurun, menukik, benar-benar uji adrenalin. Tapi, pemandangannya amazing banget!
Apa, sih, yang membahagiakanku selama ikut Kelas Inspirasi? Pertama, fasilitator dan relawan sangat kompak. Kedua, para siswa SDN 1 Pakel Pule sangat antusias saat kegiatan mengajar berlangsung. Wajah mereka begitu semringah dan bersemangat. Proses mengajar yang memang dibuat sesantai mungkin membuat suasana kelas riuh dan menyenangkan. Siswa SDN 1 Pakel Pule berjumlah 77 orang. Karena jumlah siswa tidak terlalu banyak, khusus Kelas Inspirasi, kelas dibagi menjadi tiga kelas. Siswa kelas 1 digabung dengan siswa kelas 2, siswa kelas 3 dengan siswa kelas 4, dan siswa kelas 5 dengan siswa kelas 6.
Senam pagi sambil bernyanyi. (sumber gambar: relawan dokumentasi SDN 1 Pakel Pule)
Kegiatan diawali dengan apel pagi. Ada sambutan kepala sekolah, sambutan salah satu relawan, senam pagi ala Kak Taukhid (salah satu relawan pengajar yang berprofesi sebagai perawat), dan foto bersama. Senam ini pun dijadikan sebagian relawan sebagai pengisi ice breaking supaya anak-anak tidak jenuh. Tidak hanya itu, menyanyi dan berbagai game juga bisa menghidupkan suasana kelas.
Menyampaikan materi profesi kepada para siswa gampang-gampang susah. Semua tergantung cara mengajar para relawan. Materi ajar harus disampaikan secara gamblang dan jangan terlalu banyak teori. Saat jeda mau masuk mengajar ke kelas 1 dan 2, terpikir lagi apa yang harus aku sampaikan tentang profesi editor? Relawan lain juga rupanya berpikiran sama, terutama yang profesinya asing terdengar, misalnya drafter. Tapi, Tuhan menciptakan akal untuk berpikir, hati untuk bersikap tenang. Proses mengajar di kelas 1 dan 2 berjalan lancar.
Senyum siswi kelas 1 dan 2. Momen setelah nyanyi bersama, belajar bersama. ^_^ (sumber gambar: dokpri)
Ada satu orang siswa di kelas 2 yang menarik perhatianku. Postur badannya lebih tinggi dari siswa lainnya. Siswa berusia 13 tahun itu anak berkebutuhan khusus (ABK). Saat relawan lain mengajar, dia hanya diam tanpa ekspresi. Aku berpikir keras bagaimana cara membuatnya paling tidak tersenyum. Saat mendongeng di dalam kelas (pertama kalinya aku mendongeng di depan puluhan anak, biasanya di depan dua keponakan saja), aku melihat senyumnya yang manis dan merekah. Dia menikmati dongengku itu saja sudah cukup membahagiakanku. Setelah mengajar, aku bicara dengannya meski dia diam tanpa respon.
Mejeng dulu di pohon cita-citaku. Berasa muda kalau gabung sama anak kelas 6. Lah, emang masih muda. ^_^ (sumber gambar: dokpri)
Kehangatan para siswa, keramahan para guru SDN 1 Pakel Pule, serta keakraban para fasilitator dan relawan, membuatku gagal move on dari Kelas Inspirasi. Mudah-mudahan aku bisa ikut Kelas Inspirasi berikutnya. Berbagi kepada sesama itu sebuah keharusan. Berbagi keceriaan itu menyenangkan. Kelas Inspirasi bukanlah menginspirasi para siswa  saja, tapi juga menginspirasi para relawan dan fasilitator untuk hidup lebih jujur dan lebih baik. Salam Kelas Inspirasi!

Jogja, 13 Februari 2016

6 komentar:

  1. Aih keren mbak pengalamannya. Kegiatan kelas inspirasinya juga bisa menjadi selingan diantara kerjaan utama ya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Rindang. Sekalian refresh dari rutinitas karyawan. hehe. :D

      Hapus
  2. "saling memfasilitasi" ya namanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Tanti, biar saling mengisi hati. Eaaa... :D

      Hapus
  3. Kamu menulis ini trlalu terburu-buru. Harusnya bisa dipecah menjadi beberapa tulisan. Saya belum bisa sepenuhnya menangkap kisahmu. yo tuliskan lagi bagian per bagian. Mulai dari persiapan, keberangkatan, acara dan pulang. Jadikan tiap baak sebagai sebuah cerita. Masukan semua perasaan dan pengharapanmu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, tau banget. Emang buru2 karena baru tau modul KI. :D Nanti sy tulis ulang edisi lengkapnya. Makasih, Bundcha...

      Hapus