Rabu, 05 Oktober 2016

Pesona Gelar Budaya Desa Sendangagung



Desa wisata dan desa budaya adalah dua jenis desa yang berbeda. Jika desa wisata lebih mengedepankan pesona tempat wisata, desa budaya adalah desa yang mengedepankan pesona budayanya. Untuk kali pertama tanggal 1 Oktober 2016 kemarin aku mengunjungi salah satu desa budaya di Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, tepatnya Desa Sendangagung.
Dalam perjalanan menuju Desa Sendangagung bersama tiga teman blogger, Rian, Bundcha, dan Tari, kami sekilas bicara tentang Sendangagung. Sebelum aku berangkat, aku lebih dulu searching tentang Sendangagung. Rupanya ada beberapa desa yang juga menggunakan kata Sendang, seperti Desa Sendangmulyo, Sendangarum, Sendangrejo, dan Sendangsari.
Para blogger "blusukan" ke Sendangagung. :D
"Sendang itu apa sih artinya?" tanyaku kepada Rian, yang bapaknya asli Sendangagung, tapi sudah lama tidak tinggal di Sendangagung. "Sendang itu artinya wadah atau kolam," jawab Rian. Nah, iseng aku cek di KBBI, ternyata ada lho kata “sendang”. Huwaaa, editor payah aku ini!
Jam setengah sebelas siang kami sampai di Desa Sendangagung. Kami melewati Lapangan Kebonagung, yang menjadi tempat Gelar Budaya Sendangagung dari jam 12 siang sampai nanti malam. Sehabis shalat Zuhur di rumah warga tempat kami menginap, segera kami meluncur ke Lapangan Kebonagung.
Panggung Gelar Budaya Desa Sendangagung sudah siap. Para pemain musik tradisional Jawa dengan pakaian Jawa juga telah siap tampil. Alunan gamelan mulai terdengar menyemarakkan suasana. Di samping panggung, tampak beberapa orang berkostum panggung mempersiapkan pertunjukan dari berbagai dusun.


Di area Lapangan Kebonagung terdapat stand-stand yang memamerkan hasil karya warga desa. Ada berbagai kerajinan yang terbuat dari janggel (bonggol) jagung, bambu, kain shibori, telur asin, ikan wader, wingko, cap jaek, keripik talas, moci, dan beberapa makanan lainnya.
Antusiasme warga Sendangagung patut diacungi jempol. Meski gerimis mulai menyapa, mereka tetap berdiri memadati depan panggung. Ada yang duduk, berdiri tanpa payung atau dengan payung. Pertunjukan diawali dengan wayang, lalu dilanjutkan dengan pertunjukan-pertunjukan dari beberapa dusun. Meski aku tidak terlalu paham dengan bahasa Jawa, acara seperti ini selalu bisa kunikmati. Misalnya, saat pertunjukan Bandung Bondowoso yang pemainnya semua anak-anak. Mereka benar-benar menghayati peran yang mereka mainkan, jadi aku sebagai penonton pun jadi sangat menikmati. Tak hanya ditunjang oleh kostum yang memukau, tapi juga kepiwaian mereka dalam memerankan tokoh perlu diapresiasi.
Para pemain Bandung Bondowoso
Adat-istiadat dan budaya adalah nilai kekayaan bangsa Indonesia. Hal yang membedakan Indonesia dengan negara-negara lain di dunia adalah keragaman budayanya. Desa Sendangagung berpotensi sebagai desa budaya yang wajib dijadikan destinasi oleh para pelancong dari dalam negeri maupun luar negeri. Keragaman budaya pun dipertontonkan oleh masyarakat Desa Sendangagung, baik itu anak-anak, remaja, maupun orang dewasa.  
Acara Gelar Budaya Sendangagung siang itu berjalan lancar. Pertunjukan demi pertunjukan ditampilkan oleh berbagai kalangan. Ada jathilan, macapat, shalawatan, ketoprak bocah, dolanan bocah, badui, jeber jues, nyadran, wiwitan, nyadran, wayang kulit, dan kunthulan.
Pertunjukan Jathilan.
Di tengah acara, gerimis berganti hujan deras. Apakah penonton berkurang? Oh, tidak! Penonton semakin banyak dengan payung di tangan masing-masing. Anak-anak mengerumuti depan panggung karena ingin melihat pertunjukan lebih dekat, tak peduli air hujan membasahi kepala mereka. Panitia mau tidak mau berulang kali menegur anak-anak agar tidak menghalangi penonton di belakang. Aih, senangnya melihat antusiasme anak-anak itu. Satu hal yang membuatku kagum dengan Gelar Budaya Desa Sendangagung ini. Meski sudah banyak warga asli Sendangagung yang merantau ke luar kota bahkan luar pulau, setiap ada perayaan seperti gelar budaya ini mereka akan hadir dan turut menyemarakkan acara.
Hujan tak menyurutkan semangat para penonton.
Satu saran saja sih buat panitia Gelar Budaya Desa Sendangagung kemarin: Sediakan tempat sampah. Ahiks, aku sampai bingung mau buang sampah di mana. Sampah-sampah “menghiasi” Lapangan Kebonagung. Entah mungkin karena kebiasaan buang sampah sembarangan atau tidak ada fasilitas tempat sampah. Kan panggung dan lapangan kelihatan lebih asri kalau minim sampah.
Salam budaya.

Jogja, 051016  

11 komentar:

  1. Wah budayanya masih kental banget ya mbk. Seru banget itu pertunjukannya, pemeran bandung bondowoso kok imut2 hehe

    BalasHapus
  2. Sempat roaming dg nama desa, kak. Hihi

    BalasHapus
  3. Sempat roaming dengan nama sendang, kak?

    BalasHapus
  4. Sempat roaming dengan nama sendang, kak?

    BalasHapus
  5. Masak editor keren gini ndak tahu sih. Hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak prnah denger di keseharian, Koh. Kerennya luntur. 😂

      Hapus
  6. wadernya itu lho gak nahan enaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wadernya uenaaak, apalagi telurnya. 😆

      Hapus
    2. Wadernya uenaaak, apalagi telurnya. 😆

      Hapus