Minggu, 03 Januari 2016

Libur Panjang Tanpa Travelling (LPTT)



Tulisan kali ini edisi bercerita dari a sampai z. Mulut lagi bawel dan jemari lagi rajin. Klop banget jadinya.
“Liburan ke mana?” tanya seorang teman beberapa hari menjelang liburan Natal.
“Nggak ke mana-mana,” jawabku.
“Tumben?” Dia heran.
Aku cuma tertawa pelan. Empat orang lainnya juga bertanya hal serupa. Jawabanku tetap sama dan reaksi mereka juga (mungkin) sama. :D Liburan Natal kali ini berdampingan dengan liburan Maulid Nabi Muhammad serta liburan akhir pekan. Jadi, total liburan empat hari (24—27 Desember 2015). Ini liburan terlama (selain liburan Ramadan) bagiku yang sudah sembilan bulan ini menjadi karyawan. Gimana mereka tidak heran, wong libur Sabtu—Minggu saja biasanya aku keluyuran ke mana-mana. Lah, ini libur empat hari masa mau mendekam dalam kamar? Matang, iya! (Bolu kaleee).
"Mobil sepeda" di Alun-alun Selatan
Sebenarnya rencana liburan akhir tahun sudah aku agendakan dari jauh-jauh hari. Rencana pertama, mudik ke Banjarmasin. Namun, rencana ini sudah tereleasikan pada bulan November kemarin. Tidak mungkin aku mudik lagi (Kempes kantongku. Huhuhu!). Rencana kedua, travelling ke Gunung Bromo bareng teman-teman di Surabaya. Jadwal sudah ditentukan dan beberapa teman dari luar Surabaya juga bakal ikut. Namun, rencana ini gagal (Mudah-mudahan tertunda saja, sih). Tiba-tiba saja terlintas di pikiranku, tidak ke mana-mana sampai waktu yang entah kapan.
“Yakin nggak ke mana-mana? Nggak tergoda?” tanya si Bundcha.
“Yakin, dong! Masa nggak yakin,” jawabku.
“Beneran?”
“Iya! Tapi, nggak ke mana-mana itu berlaku untuk perjalanan lebih dari tiga jam,” jawabku sambil cengengesan.
“Hahaha.... Sama aja kali, Dib,” ucap Bundcha.
Malioboro, 31 Desember 2015, sebelum jalur kendaraan ditutup.

Kata si Emak Sutil, “Jalan-jalan versi kamu itu beda, Ai. Tetep aja namanya jalan-jalan kalau keliling Jogja.” Gubrak!
Itu satu pengecualian. Pengecualian lainnya, jadwal ke Trenggalek akhir Januari nanti masih berlaku. Sebelum berniat tidak jalan ke mana-mana, aku sudah mendaftar di Kelas Inspirasi Trenggalek #2. Ada lagi perjalanan yang termasuk pengecualian, yakni ke Salatiga bareng teman-teman kantor di pertengahan Januari. Dua-duanya wajib dan tidak bisa digagalkan, kecuali sebab yang sangat mendesak (Jadi vampir atawa drakuli, misal. Semoga tidak!).
Malioboro ramai banget.
Liburan tahun baru pun cukup lama, 1—3 Januari 2016. Yes, berhasil! Dua momen liburan aku lewati dengan tenteram dan sentosa. Aku menghabiskan waktu di Yogyakarta. Jalan-jalan cuma seputaran Malioboro, kebetulan menemani kerabat dan sahabat yang datang dari luar kota. Rencana pengin jalan-jalan ke Solo, tapi kehabisan tiket Prameks setelah mengantre lumayan lamaaa.... Aku termasuk salah satu calon penumpang yang bersorak kecewa macam kehabisan kuota internet.
Liburan tahun baru rencana aku mau ke Purworejo, kangen sama adik yang kerempeng dan brekele. Tapi, ternyata dia mau berlibur ke Bandung. Ya sudah, memang niat tidak ke mana-mana, jadinya diijabah oleh Allah. :D Tanggal 1 Januari, si brekele itu baru bilang dia kehabisan tiket. Hatiku sudah dimantapkan tidak tergoda ke mana pun. Yuhuuu!!!
Malam tahun baru aku habiskan di Malioboro dan sekitarnya (Alun-alun Utara dan Selatan), menemani seorang sahabat yang terdampar di Yogyakarta. Kasihan, lho. Bisa berabe kalau sampai dia masuk koran gara-gara kelaparan. Yang disalahkan aku pastinya. Jangan sampai perkumpulan jomblo se-Nusantara menyerangku.
Kakek pengamen di Alun-alun Utara
 Tanggal 31 Desember 2015 aku baca informasi di Twitter: Jalan Malioboro akan disterilkan dari kendaraan bermotor. Pikirku, Malioboro akan jadi surga pejalan kaki. Sebelumnya aku jalan ke Alun-alun Selatan. Di sana ramai sekali oleh pengunjung. Banyak pengunjung yang menyewa “mobil sepeda” penuh lampu aneka warna serta berkarakter binatang dan kartun. Bingung menyebutnya apa. Bentuknya mobil, tapi tidak bermesin dan dijalankan dengan mengayuh pedal. Tarif sewa satu “mobil sepeda” sekitar 80.000 rupiah. Mahal juga, ya. Kalau aku mah yang penting bisa narsis, tidak tertarik menaikinya. :v
 Sekitar jam setengah sepuluh, aku jalan kaki ke Malioboro. Dasar si temanku tukang nyasar. Masa aku dibawanya menuju jalan ke Keraton. Kami sampai ke area Keraton! :D Muter-muter nemu jalan lewat GPS, tapi gagal. Jalannya ditutup karena ada acara pertunjukan. Terpaksa balik arah. Kami masuk ke Polsek Keraton. Kami pikir jalan di samping Polsek itu jalan umum. Ternyata itu jalan kompleks dan buntu. Warga kompleks tampak asyik menyiapkan panggangan. “Malu bertanya, sesat di jalan.” Aku pun bertanya ke seorang ibu. Dia lalu menunjukkan jalan yang benar.
Melewati Polsek Keraton, aku bertanya lagi ke seorang polisi. Rute yang dia sampaikan sama dengan yang disampaikan si ibu, tapi kali ini lebih jelas. Bapak polisinya ramah banget.
“Lupa tadi nggak selfie sama Pak Polisi,” kataku sambil jalan. Haha! Dasar otak narsis! :D
Pertunjukan wayang di Dinas Pariwisata
Sampailah kami di Alun-alun Utara, kemudian jalan lagi ke Malioboro. Alamak! Malioboro, kok, seperti lautan manusia??? Oalah, ini rupanya tujuan kendaraan tidak boleh lewat di Malioboro. Ribuan manusia (Sepertinya begitu jumlahnya) berjubel di kawasan Malioboro. Mereka duduk di jalan raya sekadar menunggu momen pergantian tahun. Ah, gawat ini. Aku jelas tidak mau berdesak-desakan di sini.
“Kita jalan terus aja sampai tempat yang agak sepi. Nggak usah duduk di sini. Aku nggak bisa ngebayangin nanti pas bubarannya,” kataku ke temanku setelah dia beberapa kali menawarkan duduk di tempat yang agak lowong. Temanku manut saja. Perlu perjuangan untuk melewati jubelan manusia. Jalan yang bisa kami lewati sempit banget.
Ada beberapa kelucuan ketika kami berjuang untuk keluar dari impitan manusia. Ada sejoli yang duduk di lantai atas gedung B*I. Mereka ditegur polisi di posko dengan menggunakan pengeras suara. Alhasil, ratusan orang di sekitar gedung menyoraki mereka.
“Kok  bisa sejoli itu duduk di sana?” tanyaku, heran.
“Mungkin sejoli itu karyawan B*I,” ucap temanku. Benar juga.
Senyum, Pak Poool! ;)
Di sekitar Monumen Serangan Umum Satu Maret, lebih heboh lagi. Dua orang pengamen banci dengan pakaian minim dan “menyolok” sedang mendendangkan lagu dangdut sembari bergoyang di tengah-tengah pengunjung. Sontak semua orang bersorak dan tertawa ngakak. Pintar banget dua banci itu memanfaatkan kesempatan. Pasti mereka dapat penghasilan banyak malam ini. :D
Satu area di depan Gedung Agung disterilkan dengan dibatasi pagar putih. Di dalamnya, beberapa polisi sedang berjaga-jaga. Oh, ya, sepanjang jalan tadi juga tampak beberapa anggota PMI. Rupanya area itu digunakan untuk evakuasi. Dari kejauhan, seorang pengunjung yang pingsan ditangani petugas PMI.
Pyuuuh! Akhirnya sampai juga di kawasan yang lumayan sepi di sekitar Mal Malioboro. Di Gedung Dinas Pariwisata, sedang ada pertunjukan wayang. Ada juga panggung karaoke. Kami pun duduk menyaksikan wayang. Jogja memang unik. Setiap momen selalu menarik sebab warganya sangat menjunjung nilai budaya.
Angkringan dan pengamen tak bisa dipisahkan dari Jogja.
Rencananya kami mau nongkrong di minimarket, tapi pengunjungnya penuh. Tak tersisa satu pun kursi. Lalu, kami jalan lagi ke arah Stasiun Tugu. Jogja gitu, lho, tak pernah sepi tempat nongkrong meski sekadar ngopi. Di depan Stasiun Tugu, warung angkringan berjejer dipenuhi pembeli. Kami duduk lesehan di angkringan. Karena di Alun-alun Selatan tadi sudah makan nasi, sekarang kami cuma memesan kopi dan camilan. Indonesia banget. Camilan itu harus! :D
Sebenarnya tidak berniat sama sekali menyambut tahun baru di Malioboro. Bahkan, aku tidak pernah merayakan tahun baru di luar. Tahun-tahun baru sebelumnya kulewati di rumah saja. Bakar-bakar jagung dan ikan bersama keluarga dan tetangga. Sekadar berbagi bahagia dan canda, merekatkan rasa kekeluargaan. Tahun baru kali ini semua di luar rencana. Pun ketika menyaksikan kembang api di langit dan mendengar suara terompet bersahut-sahutan tepat di 1 Januari 2016, yang kuingat hanya keluargaku di rumah, senyum Mamak Abah yang meneduhkan, adik-adikku yang sering berantem, kebawelan Fuza dan Shafa yang lama tak kudengar.... Di tengah keramaian, tetaplah keluarga tempat paling hening.
Suasana tahun baru dari depan Stasiun Tugu
Sudah jam dua pagi, tapi kawasan Stasiun Tugu hingga Malioboro masihlah ramai. Baterai handphone mulai lemah. Kembali kuajak temanku ke minimarket. Syukurlah, ada kursi kosong yang bisa kami tempati. Malam tahun baru kami habiskan di Malioboro yang sampai Subuh pun masih ramai pengunjung, baik yang sengaja begadang ataupun yang baru turun dari kereta. Setelah salat Subuh, kuantar temanku ke stasiun. Jadwal keretanya berangkat jam tujuh pagi.
Kembali kulangkahkan kaki menyusuri Malioboro. Menatap sisa-sisa perayaan: Sampah-sampah berserakan, petugas kebersihan menyapu jalanan, pedagang membersihkan warung, para pelancong yang tidur di beranda masjid, serta antrean pengunjung di depan kamar mandi, termasuk aku. Selesai mandi, kurebahkan diri sejenak di beranda masjid. Sekitar dua puluh menit aku tidur dan terbangun sebab suara hujan. Alhamdulillah, hujan di awal tahun setelah seminggu lamanya Jogja tak diguyur hujan.
Pagi 2016 di Malioboro
Hujan reda, tersisa gerimis. Ada yang harus kutunaikan: MAKAN! Lapar. Sebungkus nasi kucing, sepotong bakwan, dan segelas susu panas, sarapanku di awal tahun. Rencana mau langsung pulang ke kos, gagal. Tahun baru, tahun memanjakan diri, menikmati hasil jerih payah tanpa memikirkan harus berhemat. Pletak! Makan enak (Entah kenapa perutku penginnya diisi mulu), pijat enak, belanja ini itu. Uang yang disiapkan buat bayar kos pun ludes. Duh....

8 komentar:

  1. Jadi kangen aku lama tinggal di Jogja, loh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asli Jogja, Mas Dede? Mbak Icha asli Jogja juga?

      Hapus
  2. Kalau lagi musim libur juga biasanya saya lebih memilih berdiam di tempat sepi atau di rumah aja. Suka malas dengan keramaian hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hee, Mbak Myra. Hening itu adem. Berada d keramaian kalo lg nyari suasana yg berbeda aja. ^_^

      Hapus
  3. liburan cuman diem di jogja kayaknya udah cukup deh haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. jogja gak habis2nya tmpat yg asyik... :D

      Hapus
  4. Liburan enaknya memang istirahat total buat ngecharge energi ya, Mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe... bener bgt, mbak ani. full leyeh2. :D

      Hapus