Senin, 02 November 2015

Mencetak Generasi Cerdas



Ilmu parenting tidak hanya berlaku bagi seseorang yang sudah berkeluarga, melainkan untuk semua orang, termasuk seorang single seperti saya. Ya, jelaslah, sebagai seorang perempuan dan calon ibu (uhuk!), wajib hukumnya mempelajari ilmu tentang pendidikan anak. Seorang ibu yang pintar akan menghasilkan generasi yang cerdas pula. Iya toh? ;)
25 Oktober 2015, untuk pertama kalinya saya menghadiri seminar parenting, memenuhi undangan seorang sahabat blogger, Mak Ida Nur Laila. Beliau adalah seorang pakar parenting, trainer, blogger, writer, dan tentunya ibu rumah tangga yang cerdas mengasuh anak-anaknya.


Seminar bertajuk “Menjadi Orang Tua Cerdas di Era Global. Be Smart Kids and Love Rasulullah” ini dilaksanakan di Goebog Resto, perempatan ring road Jl. Wonosari. Kebetulan tempat acara dekat dengan tempat tinggalku. Acara seminar dimulai sekitar jam 08.30. Dipandu seorang moderator, seminar berjalan lancar dan “hidup”. Mak Ida Nur Laila atau di kalangan blogger biasa dipanggil Mak Ida, begitu lihai membuat suasana seminar tak terkesan kaku. Peserta antusias mendengarkan. Begitu pula ketika ada sesi pertanyaan. Waktu rasanya kurang karena banyak yang terus ingin bertanya.

Materi seminar cukup aktual dan faktual karena dilengkapi macam-macam video yang berkaitan dengan pola kembang anak. Tidak bisa dimungkiri, generasi zaman sekarang tak terpisahkan dengan gadget. Sebab itulah, banyak yang menyebutnya “generasi gadget”. Namun, apakah orang tua harus terlena dengan perkembangan teknologi itu? Di sinilah peran orang tua sangat diperlukan dalam mengarahkan anak-anak. 

Anak-anak akan mencontoh perilaku orang tua, tak terkecuali anak-anak usia dini. Jika orang tua setiap hari membaca buku dan anak-anak melihat aktivitas itu, anak-anak tentunya akan mencontoh perilaku membaca. Jika orang tua sering mengaplikasikan ajaran agama dalam kitab suci, tentu anak-anak akan meneladani sikap orang tua.
Sebaliknya, jika anak-anak hanya melihat orang tua memainkan gadget, menonton televisi, bergosip dengan tetangga, anak-anak pun akan mengikuti sikap orang tua tersebut. Suri teladan dari ruang lingkup terkecil, yakni keluarga, sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak dan memandu anak dalam berinteraksi dengan lingkungan luar, baik sekolah maupun masyarakat.

Orang tua adalah kontrol utama. Kehidupan anak-anak di era globalisasi perlu filter yang kuat. Banyak bukti di sekitar kita yang menunjukkan anak-anak zaman sekarang lebih cepat dewasa. Penyebabnya adalah terlalu banyaknya tontonan, dan miskinnya tuntunan. Keluarga, pendidik, tokoh masyarakat, dan tokoh agama berperan penting dalam memperbaiki kemerosotan akhlak anak-anak. Mirisnya lagi, banyak kasus bullying yang dilakukan anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah. Kasih sayang semakin berkurang, sedangkan kekerasan semakin merajalela. Pornografi dan pornoaksi menghiasi layar kaca, bahkan terdapat dalam game-game online di gadget.

Lalu, bagaimanakah peran Rasulullah dalam pendidikan anak-anak seperti tema seminar di atas? Bagi umat Islam, Rasulullah adalah suri teladan nomor satu. Beliau adalah tokoh dunia yang segala perkataan dan sikapnya diteladani oleh seluruh umat Islam. Secara khusus, beliau sering mencontohkan bagaimana bersikap kepada anak-anak. Rasulullah selalu bersikap lemah lembut kepada anak-anak.
Suatu saat, Rasulullah berbincang dengan seorang sahabat. Anak si sahabat yang masih kecil memainkan cincin Rasulullah. Si sahabat memarahinya. Namun, Rasulullah sama sekali tidak marah. Malah membiarkan anak kecil itu bersenang-senang dengan cincin Rasulullah. Rasulullah tidak ingin mengganggu keasyikan anak-anak bermain. Dunia anak adalah dunia bermain. Masih banyak lagi kisah Rasulullah yang perlu diteladani oleh para orang tua dalam mendidik anak-anak.
Menumbuhkan kecintaan anak-anak kepada Rasulullah adalah salah satu cara agar anak-anak senantiasa bersikap di jalur yang tepat. Tidak hanya anak-anak, orang tua juga perlu menanamkan sikap cinta Rasulullah dan meniru cara Rasulullah mendidik anak-anak.

Hasil candid Mak Yosi Suzitra. ^_^
Di tengah acara seminar, Mak Ida menampilkan satu video anak-anak tentang Rasulullah. Di video itu, seorang anak memuisikan kecintaannya kepada Rasulullah. Tiba-tiba, Mak Ida meminta peserta seminar membacakan puisi yang telah diterjemah ke bahasa Indonesia. Aku jelas merasa tertarik untuk membacanya. Sayang, aku kalah cepat dengan peserta di depan. Pokoknya, kalau nggak diminta baca lagi, aku mau nunjuk tangan pengin baca, ucapku dalam hati. Menanamkan rasa percaya diri wajib hukumnya toh? :D Eh, tahu-tahu Mak ida menawarkan siapa lagi yang mau membaca puisi. Tanpa pikir panjang, aku maju dengan langkah anggun (halah halah!).
Hadir di acara seminar parenting bagi seorang gadis, wajib, dong. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar