Rabu, 13 Mei 2015

Radio, I Love You!

Aku mengenal radio sejak sekolah dasar. Kira-kira sejak tahun 1996 (kelas 4 SD). Waktu itu zamannya request lagu lewat kertas request dan telepon koin. Tahu telepon koin? Kalau tidak tahu, berarti kau tak bisa menyaingi kejadulanku. Pletak! Padahal, telepon umum lumayan jauh dari rumah. Aku dan tetanggaku yang usianya tiga tahun di atasku, mesti jalan kaki sejauh dua kilometer. Lagu yang aku request dari berbagai genre, dari rock metal, melayu, sampai pop. Beda dengan temanku yang setia banget dengan genre "Gerimis Mengundang". :v

Tape Abang di rumah rusak. Aku pun sering nebeng mendengarkan radio di rumah temanku itu. Kemudian, aku bela-belain menabung buat beli walkman. Tidak tahu walkman? Ah, sekali lagi kau tidak tahu, kau benar-benar generasi teranyar (eufemisme aku generasi tua. -_-). Saat kelas 2 tsanawiyah (setingkat SMP) aku berhasil membeli walkman merek... ah, aku lupa mereknya. Paling ingat warnanya saja, yakni biru tua. Kenapa aku ngotot banget beli walkman? Itu karena aku tidak bisa membeli a man. Ah, ngacooo.... Oke, ini jawaban seriusnya. Di rumah tidak ada televisi. Abah pernah bilang dia tidak suka televisi. Dia sengaja tidak beli televisi supaya tidak ganggu belajar. Jadilah saat sekolah dasar hingga tsanawiyah, aku sering nebeng nonton televisi di rumah tetangga. Kasihan kasihan kasihan.... Eh eh, tapi bagus juga, sih, aku selalu juara pertama sejak SD (Akhirnya ada juga yang dibanggain. Aku mah begitu orangnya).

Beginilah penampakan walkman. Tapi, walkman-ku dulu mah merek abal-abal. Murah meriah. ^_^
(sumber gambar: http://krenmaut.blogspot.com/2010/10/walkman-disahkan-mati-pada-umur-31.html)

Setelah sekolah aliyah (setingkat SMA), aku tidak pernah nebeng lagi. Bukan karena di rumah sudah ada televisi. Sama sekali bukan. Tapi, karena aku tinggal sama Kakak. Di rumah Kakak ada televisi. Televisi baru menghiasi rumahku (rumah ortu, woi!) setelah aku kuliah di Pulau Jawa. Pas kuliah itulah aku baru tahu Abah cuma cari alasan waktu bilang televisi akan mengganggu belajar anak-anaknya. Alasan yang tepat adalah dia tidak punya uang untuk membeli televisi. Kalaupun ada, uangnya selalu terpakai buat mencukupi biaya hidup sehari-hari, termasuk membiayai sekolah anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Hiks, maafkan anakmu, Abah.... :(

Kembali ke topik postingan. Meski berbagai jenis hiburan sekarang serbaada dan serbacanggih, kebiasaanku mendengarkan radio tidak pernah berubah. Televisi mah kalah. Game online apalagi. Aku tidak hobi nge-game. Kalau dulu zaman sekolah aku cuma kenal request lagu, beranjak dewasa dan tetap langsing (aih!), aku mulai mengenal diskusi via radio, mendengarkan berita, dan sebagainya. Apalagi setelah komunikasi kian canggih karena adanya short message service alias SMS, semua menjadi serbamudah. Tidak perlu lagi jalan kaki sejauh dua kilometer, bukan? :v

Seperti saat ini. Saat aku mulai menjadi seorang karyawan (cieee...), radio tetaplah hiburan pertamaku. Tak peduli orang bilang game online paling asyik, nonton film paling menarik, atau stalking mantan paling bikin mewek (eh!), radio mah tetap bikin aku goyang-goyang badan dan tambah ilmu, pastinya.

Jogja, 130515

4 komentar:

  1. Request dong Kak, Teluk Bayur! 😌😌😌

    BalasHapus
    Balasan
    1. jiahaha.... ernie djohan, nik! :v

      Hapus
  2. Radioku dulu merk aiwa, pengen sony kayak gambar diatas ga cukup duitnya. 1996 hrgnya 60rb :) nostalgia

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mbak murtiyarini, sony gak sesuai isi dompet. :v
      nostalgia itu bkin awet manis katanya, mbak. jiahaha....

      Hapus