Sabtu, 25 Januari 2014

25 Januari


Tak ada lukisan dan foto keluarga di kamar ini. Kalender? Oow! Barang yang sangat langka. Aku bukan pengingat yang baik. Lho?! Bukannya malah perlu kalender? Aku benci tanggal-tanggal yang berjejer rapi, bahkan penuh lingkaran. Ya, aku benci semua yang berhubungan dengan kalender. Winda—anak tunggalku yang setia menemaniku—pernah mencoba memasang kalender, tapi kubakar hingga sebagian kasur ikut hangus.
Sebabnya hanya satu, yakni 25 Januari. Tanggal inilah hari bersejarah yang tak mungkin terlupa, sekaligus tanggal tumbuhnya embrio kebencian. Tentang air mata samsara. Tentang sosok ruksa… akh! Gila.
“Sayang, aku ingin melupa, tapi pikiran terus mencari tuannya,” ucapku pada sunyi yang kian menggigit.
Lalu, kubaca sehelai kertas di meja kerja yang entah kapan terakhir dipakai untuk bekerja.
KAU DAN AKU SATU!
Irfan & Hana
25 Jan ‘04
Kenapa tulisanku ini masih ada? Bukankah sudah kuhapus. Hei, bukankah sudah kukatakan aku benci hari demi hari yang bertanggalan!
“Kau dan aku yang tak lagi satu. Bertanggalan dilibas waktu,” bisikku pada foto lusuh—lelaki dan wanita sedang menikmati makan siang di sebuah restoran.
“Aku mencintaimu. Kau sudah tahu, kan? Tapi, kenapa kau tega mengkhianatiku?”
Maaf, aku khilaf. Percayalah, aku tak berniat selingkuh. Aku mencintaimu. Masih terngiang perkataannya waktu itu. Aku hanya diam menahan sesak. Aku tidak boleh terlihat lemah.
Kulihat lagi foto lusuh yang seperti mencemooh kediamanku. Wanita di foto itu—ibu kandungku—telah tewas di tanganku. Tepat di malam 25 Januari 2004. Saat dia bugil dalam dekapan suamiku.
Seketika aku teringat…. “Winda…, ayahmu mana, Nak? Winda! Jawab pertanyaanku!” Aku berteriak panik. Setelah malam “luka dibalas luka”, suamiku menghilang. Dia tak pernah kembali, bahkan setelah aku dipenjara bertahun-tahun.
 “Ibu, Ayah mati kaubunuh, Bu!” kata Winda tersedu di ambang pintu kamar.
“Kau bohong! Aku mencintainya, Nak.”
Sudah kukatakan sebelumnya, aku bukanlah pengingat yang baik. Malam itu... satu atau dua nyawa? Hahaha....

Bjm, 250114

"Ditulis dalam rangka ulang tahun Monday FlashFiction yang pertama"

10 komentar:

  1. Waduh,serem amat ya. Iba sama tokoh utama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung Mbak Dian. ^_^ Maaf, blognya kacau. :D

      Hapus
  2. Nice. Diksinya keren :D

    Makasih Mbak, udah ikutan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banget. Kripik pedes level atas manaaa? :v

      Hapus
  3. aku suka suspense dan diksinya.
    tapi agak bingung di bagian endingnya. ibunya menghantui? siapa yang membunuh bapaknya? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semacam gak sadar kalau yg dinantinya juga dibunuhnya di malam 25 Januari itu. :D

      Hapus
  4. Balasan
    1. Trima kasih, Mbak Evi. Lama bgt sy gak nengok blog yg superacakadul ini. :3 :D

      Hapus
  5. Balasan
    1. Terima ksih udah mmpir, Mbak Rindriane. ;)

      Hapus