Senin, 20 Mei 2013

Imaji Si Pencandu Kopi


KOPI hitam kental sedikit gula. Selalu kunikmati menemani hari-hari setengah gila. Kopi, bagiku bukan tameng penghalau kantuk. Melainkan, sahabat sejati di kala imaji kian terkutuk. Pahitnya menguatkan luka, manisnya meredupkan lara.

          Setelah lima tahun berlalu, aroma kopi bebal kuhidu, dan laguku masih pilu. Opini setengah gila meragu. Secangkir kopi di tangan, bertanya aku pada malam yang kian kelam. Benarkah hanya dengan kopi ini imaji terkutuk menemu tuahnya? Bukankah kecamuk rasa pada akhirnya menjadi ampas. Pahit dan manis lenyap tak berbekas. Menumpuk tanpa curahan mata air kesejukan nurani. Jika pun hilang ketika cangkir dicuci, besok si ampas kembali lagi. Bahkan mungkin dengan volume yang lekat hampa tak berarti.

          Kopiku bukan candu, bukan pula kafein empedu. Hatikulah yang membuat langkahku membenalu, menggurita di ranah rancu. Dia tetaplah salah satu sahabat paling rindu. Sejak cercah pelita tersibak di sudut laku, kusemai benih-benih syahdu di ranah imaji yang biru. Opiniku kembali menyiar, melenyapkan jelaga, menjemput suarga tanpa bisu.
          Kopi hitam kental sedikit gula: imaji terkutuk menemu tuahnya. Semoga....

Bjm, 2013

4 komentar:

  1. Poetic, with cool dictions, tipically Linggis. I like it! :)
    http://johansyahtanjung.blogspot.com/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hadeeehh.... Berasa dalam kulkas nih. :D
      Thanks atas apresiasinya, bang Joe Cangkul. :p

      Hapus
  2. "Pahitnya menguatkan luka, manisnya meredupkan lara."

    Suka dengan pilihan katanya. Menggelitik....

    Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir.
      Salam. :)

      Hapus