Rabu, 05 Desember 2018

Berawal dari PIN ATM


Beberapa bulan lalu, aku mau transfer lewat mesin ATM. Namun, selalu gagal. Aku pun pindah ke mesin ATM yang lain, tapi gagal transaksi juga. Kode PIN yang aku masukkan selalu ditolak. Padahal, aku belum pernah ganti PIN. Aku pindah lagi ke mesin ATM yang sesuai bank rekeningku. Kebetulan mesin ATM-nya lumayan jauh dari kos. Aku ganti PIN, lalu melakukan transaksi. Yes! Berhasil! Ternyata, setelah aku cari tahu di Google dan tanya teman, aku harus ganti PIN secara berkala.
Namun, tiga bulan kemudian terjadi masalah lagi. Di mesin ATM mana pun, ATM-ku tidak bisa digunakan. Waduh, panik dong. Soalnya saat itu uangku cash-ku pas-pasan buat mudik. Kali ini infonya beda lagi, yaitu “ATM Anda diblokir.” Sudah ada rasa cemas nih. Jangan-jangan ATM-ku dibobol.
Tidak mau menunda-nunda, besoknya aku pergi ke bank unit terdekat. Sesampai di bank, aku disuruh ke bank cabang. “Mbak, buat pengurusan ATM yang diblokir, urusannya ke bank cabang,” kata si petugas. Okelah, aku segera ke bank cabang.
Rupanya ujian tidak sampai di situ, saudara sekalian.“Maaf, Mbak, sistem online kami sedang bermasalah, jadi belum bisa diurus hari ini. Besok aja,” kata petugas security.
“Oow!” Besok aku sudah mudik. Ya, sudahlah diurus di bank tempatku membuat rekening dulu saja deh, di dekat rumah. Akhirnya, titik masalah ketemu saat aku ke bank.
“Beberapa waktu lalu, kami menghubungi Mbak, tapi nomornya tidak aktif. Kami juga mendatangi alamat rumah, tapi sedang nggak ada di rumah,” kata si petugas bank yang cantik.
“Maksudnya gimana?” tanyaku.
“Kami melakukan pembaharuan ATM. Rekening Mbak termasuk salah satu yang masuk data,” sahutnya.
“Waduh, Mbak, maaf sekali. Saya lupa konfirmasi. Nomor handphone sudah ganti. Saya juga sekarang nggak tinggal di Banjarmasin, tapi di Jogja. Alamat di data itu rumah Kakak. Mungkin pas petugas bank ke sana, semua lagi di luar,” kataku.
Tidak perlu waktu lama, kartu ATM-ku berubah fisiknya, dan akhirnya bisa digunakan kembali.
 Ada beberapa pelajaran yang kudapat dari dua kejadian yang kualami perihal ATM. Pertama, pahami aturan bank tempatmu membuatmu rekening. Selalu update berita tentang bank tersebut. Kedua, jika ada perubahan informasi/data pribadimu, segera lakukan konformasi ke pihak bank. Ketiga, ubah PIN secara berkala. Kebetulan saat itu, dalam beberapa bulan, aku jarang bertransaksi lewat ATM.
Poin ketiga di atas penting banget, lho. Aku sih awalnya berpikir, karena aku tidak melakukan transaksi, ya kartu ATM tetap dibiarin di dompet. Padahal, tidak begitu. Kita tetap harus tetap ke mesin ATM, lalu ubah PIN ATM secara berkala. Kartu ATM juga punya perasaan, masa dianggurin saja di dompet selama berbulan-bulan. :D Mengubah PIN ATM secara berkala juga sebagai tindakan aman bertransaksi.
Bicara tentang keamanan bertransaksi, ada lagi nih masalah transaksi via ATM yang kadang aku lupakan. Kalau sedang buru-buru, aku sering lupa menutup/melindungi jemariku ketika memencet PIN. Ini penting banget juga. Ada beberapa kasus pembobolan ATM karena pelaku mengetahui password nasabah dari kamera tersembunyi. Sebaiknya lalukan transaksi di mesin ATM yang sudah menggunakan keypad cover.
Ada baiknya juga sebelum bertransaksi, kita memperhatikan lingkungan sekitar. Aku selalu pilah-pilih mesin ATM kalau bertransaksi, apalagi saat malam hari yang sepi. Aku tidak bakalan bertransaksi di mesin ATM yang lingkungannya sepi banget.
Sekarang ini transaksi tidak hanya dilakukan di bank dan mesin ATM, tapi juga lewat uang elektronik dan transaksi online. Tanpa perlu keluar uang cash, kita bisa bertransaksi pakai uang elektronik. Tanpa perlu jalan ke mesin ATM atau bank, kita bisa bertransaksi online hanya dengan HP dan internet. Semua jadi serbamudah.
Namun, sebagai nasabah, kita juga harus memperhatikan keamanannya. Apa saja yang harus dilakukan?
Pertama, selalu cek saldo terakhir. Jangan sampai saldo hilang tanpa diduga. Kehilangan saldo sama saja kehilangan uang dalam bentuk fisik, lho. Apa yang harus dilakukan jika ternyata saldomu hilang? Hubungi call center bank penerbit uang elektronik.
Kedua, hati-hati ketika membuka sebuah link website. Jangan pernah memasukkan data di link website. Pelaku cyber cryme biasanya membuat website palsu yang sangat mirip dengan website aslinya. Sebab itu, harus cari tahu dulu website yang benar-benar resmi. Jika kamu memasukkan datamu ke website palsu, datamu akan diambil oleh pelaku dan disalahgunakan.
Apa yang harus dilakukan jika mengalami masalah dalam bertransaksi? Segera lakukan pengaduan, baik secara tertulis maupun lisan, ke Bank Indonesia.
Contact Center Bank Indonesia (BICARA)
   Telp   : 021-131
   E-mail          : bicara@bi.go.id
   Fax     : 0213861458
           Surat  : Visitor Center, Lt.1 Menara Sjafruddin Prawiranegara
     Bank Indonesia, Jl. M.H Thamrin No. 2 Jakarta Pusat 10350
 
 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar