Rabu, 14 Februari 2018

Hal-hal yang Harus Dilakukan Orang Tua di 1.000 Hari Pertama Kehidupan Anak


Seribu hari pertama kehidupan anak adalah penentu masa depan anak. Seribu hari pertama ini terdiri atas 270 hari selama dalam kandungan sang ibu dan 730 hari (dua tahun) setelah masa kelahiran. Pada masa 1.000 hari pertama kehidupan, nutrisi anak harus diperhatikan. NUB (Nutrisi untuk Bangsa) adalah sebuah gerakan meningkatkan kepedulian akan masalah gizi di Indonesia. Tak ketinggalan, pada 11 Februari 2018 kemarin, NUB mengadakan event Health and Nutrition Discussion di Mezzanine Eatery, Yogyakarta. Para ibu, para ayah, dan blogger turut aktif berdiskusi tentang 1.000 hari pertama kehidupan anak di acara diskusi ini. Apa saja yang harus dilakukan orang tua di 1.000 hari pertama kehidupan anak?

Fase Kehamilan

Ibu yang sehat akan melahirkan anak yang sehat. Apa yang dimakan oleh seorang ibu hamil tentu saja berimbas kepada si janin. Pembentukan organ si janin terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.
 
Dr. Endy dan Ibu Nunik sebagai narasumber.


Salah satu cara bagi ibu hamil untuk menjaga kesehatan janin, antara lain tidak pilih-pilih makanan atau makan sebanyaknya. Dr. Endy Prayanto Prawirohartono, MPH, SpAK, narasumber di acara Health and Nutrition Discussion yang diadakan oleh NUB (Nutrisi untuk Bangsa), mengatakan bahwa ibu hamil itu jangan pilih-pilih makanan. Selain karena ibu harus sadar bahwa dia makan tidak hanya untuk dirinya sendiri, hal ini juga bagus untuk perkembangan janin dan masa depannya.

Dokter Endy juga menyatakan, “Jika si janin sudah dibiasakan memakan apa pun sejak dalam kandungan, nanti setelah lahir dan tumbuh dewasa, si anak akan lahap makannya. Tidak pilih-pilih.”

Benar juga kata Dokter Endy ini. Aku punya dua keponakan yang masing-masing punya kebiasaan makan berbeda. Satu anak suka makan, tidak pilih-pilih makanan. Satunya lagi lebih sulit makan. Rupanya, saat masih di dalam kandungan, pola makan ibunya pun berbeda.

Hal yang penting yang ahrus dilakukan ibu hamil adalah rutin memeriksakan kandungannya, minimal 4 (empat) kali selama masa kehamilan. Nah, ini yang sering dilupakan ibu hamil. Kadang, ibu hamil merasa baik-baik saja, jadi malas untuk memeriksakan diri. Padahal, pemeriksaan rutin ini perlu sekali untuk masa depan janin.

Masa Menyusu

Ais susu ibu (ASI) adalah nutrisi terbaik untuk bayi. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) harus diketahui oleh para orang tua. Ingat ya, “menyusu”, bukan “menyusui”. Tentu keduanya berbeda. Menyusu itu anak yang berinisiatif menyusu kepada sang ibu, sedangkan menyusui adalah sang ibu yang berinisiatif memberikan susu kepada anaknya. Jadi, IMD adalah bayi sendiri yang mencari sumber asi. Dalam praktiknya, si bayi akan merangkak menuju puting susu, lalu menyusu. Tentunya, IMD harus terus disosialisasikan kepada calon ibu.

Tak berbeda dengan masa kehamilan, saat fase menyusu pun ibu harus memperhatikan nutrisi. Kualitas makanan si ibu akan berpengaruh pada kualitas asi, tentunya berpengaruh pula ke kesehatan anak. Seorang temanku yang sedang menyusui pernah berkata, “Kok aku makan banyak sekali, ya. Cepat lapar.” Wajar saja, lah dia makan buat dua orang. Saat menyusui, ibu bisa memakan buah dan sayuran yang bisa memperlancar asi, misal sayur daun katuk dan daun kelor.
Para peserta cek kesehatan.


Pemberian MPASI

Pada umumnya, fase MPASI dimulai saat si bayi berusia 6 bulan. Apakah harus dimulai saat berusia 6 bulan? Kata ibu bidan Nunik Endang S, SST, SH, M.Sc, MPASI tidak harus dilakukan saat usia bayi 6 bulan. Ibu harus melihat apakah si bayi siap MPASI atau tidak. Kesiapannya itu dilihat dari cara bayi mengunyah makanan. Tentunya, ibu juga bisa dibantu bidan untuk mengetahui kesiapan si bayi.

Saat bayi sudah MPASI, bayi tidak bisa sesuka hati minum ASI. Masih bisa diberi ASI, tapi tidak sesering saat fase menyusu. Makanan yang harus dimakan bayi pada fase MPASI harus benar-benar diperhatikan kualitasnya.

Fase Anak

Saat dalam kandungan disebut janin. Setelah lahir hingga berusia satu tahun disebut bayi. Nah, setelah menginjak usia satu tahun baru disebut anak. Pada fase ini, MPASI sudah tidak dilakukan. Namun, ASI tetap diberikan hingga anak berusia 2 (dua) tahun. Si anak sudah mengalami perkembangan sistem pencernaan. Saat usia setahun, si anak bisa makan sesuai makanan menu keluarga. Jika keluarga makan nasi sebagai makanan pokok, anak pun harus makan nasi ditambah sayur dan lauk. Pembiasaan makan makanan yang baik dimulai secara intensif pada fase usia setahun ini.
Orang tua harus kreatif mengolah makanan.

Orang tua harus membiasakan anak-anak memakan sayuran dan buah. (Tentu saja pembiasaan ini sebenarnya sudah harus dilakukan sejak masa kehamilan). Banyak orang tua yang mengeluh anaknya tidak mau makan sayur dan buah. Sebenarnya ini bukan lagi sebuah masalah jika orang tua kreatif. Sayur dan buah bisa diolah menjadi makanan yang menarik, lezat, dan menyehatkan.
 
Demo masak setelah diskusi.
Selama melewati 1.000 hari pertama kehidupan, orang tua (ayah dan ibu) harus rutin mengawasi kesehatan anak. Sejak hamil, ibu harus punya KIA (Kartu Ibu Anak). Pemantauan berat badan, tinggi badan, dan lingkar bayi dilakukan secara berkala. Kata ibu bidan Nunik Endang, sebaiknya pemantauan kesehatan anak sejak masa kehamilan hingga lahir dilakukan oleh satu orang bidan saja. Hal ini untuk mempermudah pemantauan kesehatan anak.

Mengapa 1.000 hari pertama kehidupan sangat penting? Sejak dalam kandungan, nutrisi dan gizi anak harus tercukupi. Jika tidak tercukupi anak akan mengalami kekurangan gizi. Kekurangan gizi ini sangat berbahaya bagi kesehatan anak ke depannya. Risiko kesehatan bagi anak yang kekurangan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan ini, antara lain kemampuan kognitif terhambat, gangguan pertumbuhan tinggi badan (stunting), gangguan ginjal, dan sebagainya. Yuk, jaga nutrisi 1.000 hari pertama kehidupan anak!