Jumat, 18 November 2016

Setelah Ibu Kos Berkata, “Bulan Ini Naik, Ya!”


Ini edisi curcol pakai banget. Ceritanya awal November tadi ketika aku mau menyerahkan uang kos, tiba-tiba Ibu Kos berkata, “Bulan ini naik, ya. Tambah lima puluh ribu. Listriknya naik.”
Whaaat??? Sumpah, ini cuma reaksi dalam hati. Di permukaan mah kalem banget. “Kenapa bilang mendadak, Bu. Mungkin lebih baik bilangnya sebelum pembayaran,” ucapku berlagak kalem. Si Ibu selalu bilang naik saat aku mau menyerahkan uang kos di awal bulan. Nggak ada mukadimahnya gitu, deh.
“Kemarin lupa bilang,” kata Ibu.
“Maaf, Bu, naiknya bisa bulan depan sajakah?”
“Bolehlah. Bulan depan, ya,” jawab Ibu.
Urusan naik ongkos kos pun menemukan titik final: Ongkos kos tambah lima puluh ribu rupiah bulan depan. Berapa, sih, besarnya lima puluh ribu? Mungkin bagi yang terbiasa nongkrong di kafe ala Teko dan Asbak duit lima puluh ribu mah kecil. Apa ruginya menambah duit lima puluh ribu sekali sebulan? Namun, bagiku ini bukan soal kecil atau besar (meski uang segitu berharga banget bagi karyawan baru dan jauh dari keluarga sepertikuuu! Bisa buat makan tiga hari kalau di Jogja. Hahaha). Semenjak memutuskan merantau, semua biaya hidup otomatis ditanggung sendiri. Lah, kalau dulu mah tinggal numpang di Kakak dan ortu, nggak mikir biaya rumah. Makan tinggal ambil. Minum tinggal pencet dispenser. Mau masak tinggal ambil bahan di kulkas. Sekarang? Boro-boro. Semua serba diurus dan bayar sendiri. Aku kos sudah satu tahun tujuh bulan. Beberapa bulan lalu baru dinaikkan kosnya sama Ibu Kos. “Nambah lima puluh ribu, ya. Listrik naik. Tenang, nanti nggak bakal dinaikin lagi, deh,” kata si Ibu.
Nah, omongan ini yang kupegang >>> “Tenang, nanti nggak bakal dinaikin lagi.” So, kenapa dalam waktu beberapa bulan sudah dinaikin? Listrik naik? Oke, aku cek penggunaan listrikku. Malah berkurang, lho. Beberapa bulan ini aku jarang sekali menyalakan laptop. Setrika pun sudah tidak kupakai karena aku mencuci pakai jasa laundry (ngelaundry di sini murah banget. Sekilo cuma dua ribu lima ratus rupiah). Terakhir, aku tidak pernah nyuci baju kecuali pakaian dalam. So, penggunaan air yang tentunya pakai listrik itu berkurang.
Sebenarnya tarif kos di sini jauh lebih mahal dari kos lainnya. Dari awal sampai naik yang pertama saja sudah lebih mahal, apalagi kenaikan yang kedua ini. Kamar kos pun lebih gede kamar kos temanku. Aku masuk kamar setelah membayar uang kos. Semadi! Jeda sepuluh menit, segera aku hubungi teman di kos depan. “Yun, ada kamar kosong nggak?” Aku kirim pesan ke Ayun, teman satu kantorku yang kos di depan, dekat jalan raya. Nah, kosku sekarang di sebelah kantor, tapi jauh dari jalan raya dan toko-toko.
Setelah menunggu sekian menit, Ayun mengabarkan ada dua kamar kos kosong. Aku tanya tarif kos. Lumayan lebih murah 150 ribu (paling sedikit 100 ribu) dari kos di sini. Jarak ke kantor pun sebenarnya nggak terlalu jauh, sekitar 400 meter saja.
“Oke, Yun, tolong bilang ke Ibu, ya, aku pindah akhir bulan, ya. Baru bayar kos soalnya. Nanti besok-besok aku ke ibu kosmu,” jawabku ke Ayun.
Jadi, sekarang sibuk mau (penekanan: mau!) beres-beres kamar buat pindahan akhir bulan ini. Awalnya rada mikir capek duluan. What? Pindahan? Pindahan, bagaimana pun hal yang rempong bin melelahkan. #inidrama Bungkus ini itu, angkut ini itu, bongkar ini itu, susun ini itu. Huuusss! Drama kumaaat!
Beberapa hari kemarin sempat sakit lumayan bikin badan lemas dan nggak bisa ke mana-mana. Jumat malam-Senin full di kamar. Selasa masuk kerja meski badan masih lemas banget. Hari ini sudah lumayan, makanya bisa update blog yang penuh debu dan dosaaah. Sempat mikir, “Ini gimana mau pindah akhir bulan ini?” Hahaha, lebay parah. Padahal, masih lama, setengah bulan lagi. Wajarlah. Pertama, aku nggak pernah pindah kos (Eh, pernah ding waktu kuliah, pindah kamar ke gang lain. Pernah bantu Kakak pindah rumah juga. Tuh kan si Edib lebaynya nggak ketulungan). Kedua, karena jauh dari orang tua dan keluarga. Lah, dulu kuliah juga jauh dari orang tua. Tapi, dulu pindahnya barengan sama teman-teman satu asrama. Tukaran kamar gitu. Mungkin karena aku lebay aja. Harus melakukan sendiri. Mau minta bantuan teman juga lucu dong. Masa pindahan seuprit gini aja mesti manggil bala bantuan. :D Intinya kecemasan aku saja sih karena kondisi ngedrop kemarin. Cemas bakal tertunda pindah kos. Cemas bla bla bla….
Sudahlah berhenti curcolnya. Ini pikiran sudah tersusun rencana pindah. Ransel gede dan tanggung diisi pakaian semua (Buseeet, bajuku kebanyakan kaus branded. Branded kecap ini, smartphone itu, film anu. Hasyeeem!). Dua kantong belanja supergede diisi buku-buku. Plastik gede diisi perkakas makan dan alat dapur yang seuprit. Ransel kecil diisi perkakas lainnya. Dus kipas angin dan magic com, meja kecil, bantal, dan satu plastik berisi macam-macam benda entah apa saja. Halah, ini bungkusan-bungkusan masih dalam bayanganku, saudara setanah air sebangsa senasib sekos sekalian! Masih sepuluh hari lagi, kan. Belum bilang teman juga buat bantuin ngangkut barang-barang di hari H. Bahkan, belum bilang ke Ibu Kos mau pindah. Pikirku, nanti aja pas mepet harinya. Hasudahlah! :v