Kamis, 12 Mei 2016

Keindahan Danau Batur, Jero Wacik, dan Owner Toya Devasya



Selama ini yang saya ketahui dari Bali adalah pantai dan pulau. Saya tak pernah terpikir bahwa ada pesona lain dari Bali. Danau Batur dan Gunung Batur adalah pesona Bali yang tak terbantahkan dan membuat saya gagal move on ingin menikmati pemandangan Danau Batur dan Gunung Batur lagi.
Toya Devasya dengan pemandangan Danau Batur dan Gunung Batur.
Dua malam menginap di The Ayu Kintamani Villa, Batur, benar-benar membuat saya refresh dari segala kesibukan kantor. Lebih-lebih lagi saya bisa menikmati pemandian air panas murni di Toya Devasya Natural Hot Spring & Camping Resort, pemandian air panas yang satu paket dengan The Ayu Kintamani Villa. Di tempat inilah, dulu mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengadakan rapat dan menghasilkan keputusan penting.
Ada keunikan tersendiri dengan vila dan pemandian yang berada tepat di Toya Bungkah, di tepi Danau Batur ini. I Ketut Mardjana, owner Toya Devasya, mengatakan bahwa pembangunan vila dan pemandian ini tidak merusak alam dan mengikuti topografi tanah.
Ngeksis dulu di tepi danau.
Batu-batu besar tampak kokoh di beberapa sudut jalan. Begitu juga pepohonan besar yang entah sudah berumur berapa tahun masih berdiri dengan gagahnya. Bukan alam yang menyelaraskan bangunan, tapi bangunan yang harus menyesuaikan dengan alam.
Wah, pantas saja jalan di kawasan vila dan pemandian ini terasa “membingungkan”. Ssst, saya pernah bingung, lho, menuju kamarku karena jalannya yang belok sana-belok sini. :D
“Satu lagi, air pemandian ini sangat murni dan tidak berbau belerang sama sekali,” lanjut I Ketut Mardjana.
Ini dia primadonanya, air panas! Saya sampai tidak ingat waktu ketika mandi di bawah pancuran air yang kecil dan yang besar! Padahal, waktu itu hampir jam check out dari vila. :D Serasa sedang terapi air mancur! Beberapa kali mandi di pemandian air panas, saya menilai pemandian ini paling jempol! Tak berlebihan jika tempat ini saya rekomendasikan untuk wisatawan yang ingin menikmati liburan yang wah. Benar-benar tidak berbau belerang dan airnya bening sekali. (Kalau dapat pemandangan bule-bule ganteng berendam, mah, itu bonus. Wkwkwk).

Seperti mimpi sampai di tempat indah ini. Lihatlah kabut itu.
Sebagai putra Batur, I Ketut Mardjana tahu betul bagaimana membangkitkan wisata di Batur. Sahabat Jero Wacik dari kecil ini tidak hanya mengandalkan cari keuntungan ketika memutuskan membuka tempat wisata Toya Devasya ini.
Setelah pensiun sebagai Direktur Pos Indonesia, I Ketut Mardjana lebih fokus mengurus tempat wisata ini. Dia ingin memberikan manfaat kepada kampung halaman. Dengan pembangunan vila dan pemandian air panas, dia mencoba membuka mata pencaharian bagi masyarakat Batur, khususnya masyarakat Desa Kintamani.

Pendapat I Ketut Mardjana tentang Jero Wacik
Sama-sama berjuang sejak kecil dan sama-sama berkecimpung di dunia pariwisata, tentunya I Ketut Mardjana tahu betul siapa Jero Wacik. Menurut I Ketut Mardjana, dia belajar banyak dengan sosok Jero Wacik, mantan Menteri Menbudpar dan Menteri ESDM. I Ketut Mardjana tahu seluk-beluk perjuangan Jero Wacik dari kecil, dari nol, hingga sukses seperti sekarang. Satu hal yang paling dia ingat adalah ketika mereka berdua harus memakan jambu klutuk karena tidak ada makanan lain yang bisa dimakan.
“Sampai sekarang, setiap melihat jambu klutuk, saya selalu teringat perjuangan masa sekolah bersama Jero Wacik,” kenangnya. Ketika I Ketut Mardjana melepas saya dan teman-teman menuju Denpasar, tak sengaja dia melihat jambu klutuk di mobil. “Boleh saya minta jambu itu?” pintanya. Rupanya jambu klutuk seperti simbol perjuangannya bersama Jero Wacik yang tak akan pernah bisa terlupakan.
Saya, para sobat JW, dan I Ketut Mardjana
Saya dan teman-teman mengobrol lebih dekat dengan I Ketut Mardjana setelah makan malam. Dengan tegas, I Ketut Mardjana mengatakan bahwa dia tahu siapa dan bagaimana sosok Jero Wacik. Orangnya pantang menyerah, sederhana, dan jujur. “Segala tuduhan kepada Jero Wacik sangat tidak mungkin. Lagi pula tuduhan itu tidak terbukti di persidangan,” ucapnya.
Menurut I Ketut Mardjana, Jero Wacik adalah sosok inspirator, sosok yang memberi inspirasi kepada masyarakat Batur bahwa orang Batur juga bisa mengenyam pendidikan tinggi. Bolehlah Batur desa yang terpencil dan sebagian masyarakatnya masih memegang teguh “berdiam di kampung halaman saja”, tapi Jero Wacik mengajarkan pendidikan harus didapat setinggi mungkin. Untuk mendapatkannya, ya, harus berani keluar dari desa. Jero Wacik satu-satunya orang Batur, bahkan satu-satunya orang Bali yang menduduki jabatan tinggi sebagai menteri.
“Bedanya saya dengan Jero Wacik adalah Jero Wacik sangat tertarik dengan dunia politik, sedangkan saya tidak,” ucapnya sembari tertawa pelan.
Obrolan kami berakhir. Satu kesimpulan yang saya dapat, yakni I Ketut Mardjana dan Jero Wacik adalah dua sosok yang sama-sama punya andil dalam membangkitkan pariwisata di Bali. Meski berpendidikan tinggi dan sudah menjelajah berbagai negeri, keduanya tak lupa dengan asal mereka, tanah Batur yang tercinta.

Jogja, 120516

1 komentar: