Minggu, 31 Januari 2016

Mengapa Tidak Boleh Merokok di Ruangan Ber-AC?



(sumber gambar: http://designbump.com/38-brilliant-and-disturbing-anti-smoking-ads/)

Ketika berada dalam sebuah ruangan ber-AC dan terpaksa menghirup asap rokok, apa yang harus kita lakukan? Protes atau hanya diam saja? Kalau diam, kok kesannya saya jadi tipikal yang nrimo-nrimo saja. Kalau bersuara, kok saya kasihan dengan orang-orang yang saya tegur. Ya, saya kasihan dengan mereka yang merokok tidak melihat situasi dan tempat. Kalau mereka orang yang awam informasi, okelah saya tegur. Lah, ini orang berpendidikan tinggi. Jangan-jangan nanti saya malah dituduh mencemarkan nama baik. Kan, bisa berabe. Jadi teringat kasus seorang teman yang menagih utang ke seseorang. Di-SMS tidak membalas, ditelepon tidak diangkat, diinbox tidak dibalas juga. Terpaksa si teman menagih lewat status Facebook. Eh, malah dikatakan pencemaran nama baik. Huhu!
Terkadang saya merasa tidak enak menegur secara langsung. Yah, sering juga saya “tegur” secara tidak langsung, misal batuk-batuk (Ini betulan batuk. Tidak direkayasa. Cukup si Camelia Malik yang punya "Rekayasa Cinta".). Alasannya, saya paham betul merokok membantu mereka lebih maksimal berkreativitas. Merokok sambil bekerja sepertinya sudah menjadi habit mereka. Iya toh? Saya mah pengertian pakai banget. Sama dengan pengertiannya saya sama kamu, iya, kamu yang ditunggu-tunggu tapi belum datang jua. (Abaikaaan!)
Namuuun, ada baiknya saya menuliskan perasaan yang saya pendam. Ada baiknya saya menuliskan apa yang saya tahu. Mungkin saja mereka belum mengetahui asap rokok mereka itu tidak hanya berbahaya bagi orang lain, tapi juga bagi mereka sendiri? Kok bisa? Ya, bisa dong! Merokok di tempat terbuka saja berbahaya bagi kesehatan, apalagi merokok di ruangan ber-AC.
Ruangan ber-AC itu termasuk ruangan tertutup. Tidak ada udara luar yang masuk. Udara yang sudah tercemar oleh asap rokok menjadi semakin beracun. AC mengandung gas freon. Menurut  sejarah, awalnya, penggunaan gas freon dalam AC oleh Henry Du Pont secara tidak sengaja. Henry Du Pont gagal membuat senjata kimia yang berbahan gas freon. Henry Du Pont kecewa, lalu menyemprotkan gas itu ke sembarang benda. Di sinilah asal mula AC. Benda yang disemprotkan itu menjadi es atau membeku. Sayangnya, gas freon bisa mengurai menjadi zat yang beracun dan mematikan jika terkena asap panas, termasuk asap rokok.
Di ruangan ber-AC, terdapat titik-titik embun. Nah, titik embun itu akan mengikat zat-zat yang terkandung dalam asap rokok: Nikotin, tar, dan karbon monoksida. Karena sirkulasi udara di ruangan ber-AC sangat terbatas, asap itu akan kembali terhirup kembali oleh si perokok aktif dan menempel di paru-paru. Bahkan, perokok pasif juga akan terkena dampaknya. Dua kali lipat lebih berbahaya dibanding merokok di ruangan terbuka.
Apa asap rokok di ruangan ber-AC langsung benar-benar mematikan? Tentu tidak. Entah jika mungkin ada kasus yang langsung membuat orang mati. Yang jelas, udara di ruangan ber-AC yang sudah tercemar itu sangat berbahaya bagi pernapasan. Mungkin bagi perokok aktif tidak akan merasa berbahaya, tapi bagi perokok pasif yang berada satu ruangan dengan mereka jelas ini sangat berbahaya, khususnya orang yang punya gangguan kesehatan dan memerlukan lingkungan sehat. Misalnya, orang berpenyakit asma, kanker, TBC, dan sebagainya.
Duhai para perokok, teruslah merokok di ruangan tertutup dan di ruangan ber-AC jika kalian sendirian! Tidak ada yang melarang kalian merokok, tapi mulailah berpikir ada orang lain di sekitar kalian, mulailah merokok dengan bijak. Tidak semua orang bisa berkonsentrasi kerja jika menghirup aroma rokok. Tidak semua orang punya kestabilan kesehatan seperti kalian. Ada orang lain yang perlu lingkungan sehat. Ada orang lain yang sedang berjuang untuk sehat, tapi kalian malah membuatnya lebih parah.

Sumber: http://jaringnews.com/hidup-sehat/medika/2016/merokok-di-ruang-ber-ac-bisa-sebabkan-kematian

Selasa, 26 Januari 2016

Aroma Mistis



Mak, ketika hujan, aku terpasung kenangan tak bertuan
Wajahmu, senyummu, dan langkah kaki jelang Subuh
Duh, adakah yang lebih gaduh dari rindu yang buncah?
Aroma tanah rantau tentu tak semistis aroma ketiakmu
Tempat ‘ku berteduh dari keriuhan jalanan
Tempat ‘ku belajar detak jantung tanpa kepalsuan

Mak, ketika hujan, siapakah yang terisak dalam diam?
Gigil memintal doa, khusyuk memeluk semesta
Sedang rinduku kian kebasahan
Air mata dan peluh lelahku begitu hilang rupa
Aku bernyanyi lagu kepulangan, tapi aku lupa cara berdansa
Jika aku petapa, doamulah serupa hujan

Mak, ketika hujan, aku mabuk menghitung kenakalan
Isi kepala penuh bualan dan dosa
Sementara angin mengetuk kaca jendela
Ia sampaikan larik-larik yang kubuang
Dulu kaupungut diam-diam, kausimpan dalam kotak kayu
“Yang terbuang jadilah mantra rindu,” ucapmu

Jogja, 190116

Selasa, 19 Januari 2016

Sungai Guring


“Bah, kenapa, sih, sungai di depan gang itu dinamakan Sungai Guring?” tanyaku saat aku masih kelas 3 SD.
Aku sangat penasaran dengan nama itu. Guring dalam bahasa Banjar artinya tidur. Masa sungainya tidur? Apa sungainya habis minum obat tidur? Jangan-jangan dulu di sini ada pabrik obat tidur? Apa mungkin Putri Tidur dulu tinggalnya di sungai itu? Imajinasiku meliar. Rasa penasaranku hanya dibalas senyuman oleh Abah. Aku cemberut saja. Kata Mamak, dibanding dengan tujuh saudaraku yang lain, aku anak yang paling “bawel” bertanya dan berkomentar. Pantaslah, wong aku anak cerdas. (Ups! Skip!)
“Mau tahu ceritanya?”
Aku cuma mengangguk. Aku duduk bersila sembari mengunyah dulinat buatan Mamak. Dulinat adalah kue yang terbuat dari parutan singkong, diisi gula merah, lalu digoreng.
“Sungai Guring ini sungai kecil. Letaknya juga terpencil. Sungai ini nyambung ke Sungai Kelayan, Sungai Martapura, sampai Sungai Barito. Sebelum ada rumah-rumah, kampung kita ini hanyalah hutan rawa yang penuh pohon rumbia. Saking terpencilnya, tempat ini dulu sering dijadikan tempat persembunyian maling-maling. Awalnya, maling-maling itu kabur membawa barang curian dengan naik jukung. Karena kecapaian, maling-maling itu tertidur di dalam jukung hingga sampailah di ujung sungai yang sepi tidak ada rumah satu pun. Sejak itu, sungai dan kampung ini dijadikan tempat persembunyian para maling. Makanya, dinamakan Sungai Guring,” cerita Abang panjang lebar.
 “Oooh, begitu….” Aku manggut-manggut. Jukung itu semacam perahu tanpa mesin. Kalau yang pakai mesin, orang Banjar menyebutnya kelotok.
   
        “Loh, kok mau-maunya dinamakan Sungai Guring. Kan sejarahnya jelek banget,” komentarku.
“Sungainya tidak pernah protes ini,” jawab Abah sembari tertawa.
Betul juga. Memang sungai pernah bisa protes diberi nama jelek dengan sejarah yang jelek pula? Memang sungai bisa teriak “Aku tidak mau dikasih nama Sungai Guring!!!”? Hehe, ada-ada saja.
“Lah, terus sekarang masih ada maling-maling yang sembunyi di kampung kita, Bah?” tanyaku lagi. Ngeri juga kalau kampungku jadi sarang maling.
“Ya jelas tidak ada lagi. Kan sudah banyak rumah. Sudah jadi kampung. Si maling juga bakal takut dikeroyok orang-orang kampung,” kata Abah.
Revitalisasi Sungai Guring November 2015 kemarin. (sumber: di sini)
Sekali lagi aku manggut-manggut. Rupanya imajinasiku meleset semua. Tidak ada putri tidur, apalagi polisi tidur (Kalau sekarang mah banyak polisi tidur di jalan-jalan). Tidak ada pabrik obat tidur, apalagi pabrik obat pemusnah jomblo. Ingat, tidak ada itu! (Topiknya mulai sensitif. Pletak!)
Begitulah sejarah Sungai Guring di kampungku. Namun, sudah bertahun-tahun, Sungai Guring tak lagi tidur, melainkan mati! Ya, sungai itu sudah mati. Hiks, betapa sedihnya hatiku ketika pulang liburan kuliah sekian tahun lalu, yang tampak hanya sungai serupa selokan. Miris, duh, miris banget. Tidak ada lagi jukung, tidak ada lagi kelotok, tidak ada lagi anak-anak yang berenang, tidak ada lagi ikan-ikan, tidak ada lagi ibu-ibu yang mencuci pakaian, bahkan tidak ada lagi jamban.
Dulu, cerita tentang maling itu awal sejarah Sungai Guring. Sekarang, maling apakah yang membuat sejarah Sungai Guring mati? Hmmm, bertanya sama Abah? Paling Abah cuma bernyanyi, “Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang.” Mungkin aku perlu bertanya pada jalan tol dan perumahan itu. Tapi, mereka paling cuma menangis tersedu, “Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku.”
Ah, sudahlah, lama-lama semua lagu jadul aku nyanyikan di postingan ini. Dududu….
  
Jogja, 190116*Lathifah Edib, kelahiran dan asli Banjarmasin, tapi sekarang tinggal dan bekerja di Jogja. Sungai Guring yang tinggal nama itu terletak di Jl. Prona, Jl. A. Yani km. 4,5, Banjarmasin. Semoga revitalisasi sungai semakin maksimal agar sebutan Kota Seribu Sungai bukan sekadar kenangan.

Ini Dia Sejarah-sejarah Menarik di Indonesia


Senin, 18 Januari 2016

Pentingkah Kesaksian JK untuk Kasus JW?



Kasus Jero Wacik (JW) kembali menarik minat saya untuk menuliskannya, terutama setelah Jusuf Kalla (JK) bersedia hadir menjadi saksi dalam persidangan JW. Sangat mengherankan, seorang JK mau menjadi saksi di persidangan itu. Siapakah JW? Mengapa JK berkenan jadi saksi, sementara banyak menteri di pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga terjerat kasus korupsi? Bahkan, seorang SBY, mantan RI 1, menuliskan sebuah surat panjang berisi prestasi-prestasi Jero Wacik.
Jero Wacik adalah seorang tokoh kelahiran Bali. Sebelum memutuskan berkecimpung di dunia politik, dia seorang pengusaha yang sangat sukses. Dunia pariwisata adalah bidang yang digelutinya. Sebelumnya, dia juga lama bekerja di sebuah perusahaan industri otomotif. Keberhasilannya di dunia usaha membuatnya menjadi orang yang mapan secara materi. JW membuktikan bahwa seorang yatim piatu, seorang dari keluarga sangat sederhana (bahkan bisa dibilang dari keluarga miskin), bisa juga sukses dengan prestasi yang patut diacungi jempol.
Suasana persidangan tanggal 14 Januari 2015 (sumber foto: Elisa Koraag)
Tidak heran ketika dia diangkat sebagai Menteri Pariwisata oleh SBY tahun 2004, harta yang dia laporkan ke BPK cukup banyak sebab hasil bisnis. Tahun 2004, harta JW yang terdata di BPK Rp 15,5 miliar. Tahun 2009 terdata sekitar Rp 12,3 miliar. Tahun 2012 Rp 11,6 miliar dan USD 430.000. Jadi, sebelum diangkat sebagai menteri, harta JW sudah sangat banyak. Dari angka-angka di atas, dari tahun ke tahun, adakah yang bisa menyimpulkan JW mengumpulkan kekayaan selama sepuluh tahun menjadi menteri? Banyak orang yang menyimpulkan hanya dari angka terakhir yang terdata di Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Mereka tidak melihat berapa harta Jero Wacik dari hasil usahanya sebelum terjun ke dunia politik.
Abraham Samad, Ketua KPK yang “mengangkat” kasus JW pun dengan blak-blakan menuduh JW hidup berfoya-foya selama menjabat sebagai menteri. Pertanyaannya, apa Abraham mengenal dekat siapa Jero Wacik sehingga bisa menyimpulkan JW sosok yang berfoya-foya? Apakah wajar semua tuduhan itu, padahal faktanya harta JW tidak bertambah banyak setelah sepuluh tahun menjadi menteri?
Analogi sederhananya begini. Si A berkata si B suka mengintip orang mandi. Lalu, si C yang tidak mengenal dekat pun ikut-ikutan berkata si B tukang ngintip, si D juga berkata begitu, dan seterusnya. Apa bukti si C sehingga bisa menyimpulkan si B tukang ngintip? Apa dan siapa yang berperan penting di sini? Telinga dan mulut, itu jelas. Media tentu berperan penting menggiring opini publik.
Saya tidak menampik hebatnya sosok Abraham Samad dalam menjerat berbagai kasus korupsi di Indonesia. Sayangnya, untuk kasus JW perihal DOM di Kementerian Pariwisata dan anggaran dana di Kementerian ESDM, saya pikir KPK “kecolongan”.
Untuk kasus penyalahgunaan DOM, perlu pemeriksaan lebih jauh sebelum tuduhan itu dilayangkan. “DOM itu memang untuk membantu menteri dalam menggunakan anggaran pada kegiatan yang tidak resmi, tapi itu seperti representasi. Seolah-olah pribadi, tapi itu tidak bisa dipisahkan antara urusan menteri dengan urusan pribadi,” kata Jusuf Kalla saat memberikan keterangan sebagai saksi untuk terdakwa Jero Wacik, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (14/1/2016).
JK juga menambahkan, setiap menteri diberi keleluasaan dalam penggunaan DOM. Sebagai Menbudpar sangat wajar JW perlu DOM untuk mendukung aktivitasnya. Tugas JW tidaklah mudah. Dia harus mengembalikan citra pariwisata Indonesia setelah musibah yang berturut-turut menghantam Indonesia, seperti kasus bom Bali, gempa Jogja, serta tsunami Aceh.
Jika yang dipermasalahkan “Kok menteri sering jalan-jalan ke luar negeri?”, lah begitulah tugas Menbudpar. Mencari jaringan, menanamkan kepercayaan ke pihak luar negeri bahwa Indonesia aman dan nyaman dikunjungi. Mengajak relasi makan di sebuah resto, misalkan, itu adalah hal yang wajar dalam penggunaan DOM. Gaji seorang menteri tidak akan cukup untuk mendukung tugasnya yang tanpa kenal waktu. Penggunaan DOM sebelumnya diatur di dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 3 Tahun 2006 (lihat di sini). Sekarang, peraturan tersebut telah diganti dengan PMK Nomor 268 Tahun 2014 (lihat di sini).
Penggunaan DOM dilaksanakan secara fleksibel dengan memperhatikan asas kepatutan dan kewajaran. Pihak Jaksa Penuntut Umum meminta kuitansi penggunaan DOM dari pihak ketiga. Jelas permintaan itu tidak sesuai dengan ketentuan seperti yang tercantum dalam PMK Nomor 268 Tahun 2014, Pasal 3 ayat (2). Dana sebesar 80% diberikan secara lumsum (dibayar sekaligus tanpa perlu rincian kuitansi) kepada Menteri. Sisa dana yang 20% untuk dukungan operasional lainnya.  Kata Jusuf Kalla, di setiap kementerian, berbeda aturan penggunaan DOM. Misal, seorang Menteri Hukum dan HAM tentu tidak wajar jika mengajak relasi makan di resto.
Dalam penggunaan DOM, selama bertahun-tahun Jero Wacik tidak terlalu memikirkannya. Dia hanya penerima dana. Setiap diaudit oleh BPK pun penggunaan DOM selalu lolos diaudit. Pertanyaannya, mengapa DOM dipermasalahkan setelah JW bertahun-tahun tidak menjabat sebagai Menbudpar?
Kehadiran Jusuf Kalla sebagai saksi dalam persidangan Jero Wacik bukan sekadar meringankan status hukum Jero Wacik, melainkan menjadi angin segar bagi kasus-kasus menteri lainnya yang berkaitan dengan DOM. Jusuf Kalla mengharapkan hakim dapat berindak adil dan bijak dalam menangani kasus ini.
Dalam kesaksiannya, Jusuf Kalla mengungkapkan perihal tuduhan kepada Jero Wacik. Selama ini JW dituduh menerima dana gratifikasi senilai 340 juta untuk perayaan ultah di Hotel Darmawangsa. JK mengungkapkan, acara di Hotel Darmawangsa bukanlah perayaan ultah semata, melainkan peluncuran buku Jero Wacik di Mata 100 Tokoh. Saat itu JK hadir sebagai salah satu penulis buku dan memberikan pidato. Bahkan, SBY juga hadir memberikan sambutan.
Ada lagi tuduhan KPK yang sangat tidak berdasar. JW dituduh memberikan uang sebesar 3 miliar ke Don Kardono, Pemred Indopos, untuk pencitraan sosok JW. Disebutkan, JW pernah memberi arahan secara pribadi ke Don Kardono. Padahal, menurut kesaksian Don Kardono sendiri, ia tidak pernah bertemu JW secara langsung. Don Kardono memang pernah berada  dalam satu forum dengan Jero Wacik, tapi dalam forum pertemuan JW bersama dengan pemred media massa lainnya.
Kalau soal “pencitraan” Kemenbudpar, memang betul. Sekali lagi, itu bukan pencitraan secara personal Jero Wacik. Pencitraan di sini maksudnya keterbukaan informasi kepada publik tentang kegiatan kementerian. Semua itu ada dananya, tidak hanya Kemebudpar, tapi juga semua kementerian atau lembaga pemerintahan. Don Kardono dalam kesaksiannya di persidangan menyampaikan, kesepakatan Indo Pos dan Kemenbudpar dilakukan oleh Sekjen Kemenbudpar, Waryono Karno, bukan Jero Wacik. Awalnya, kesepatan “pencitraan” selama setahun dengan bayaran Rp 3 miliar. Tapi, setelah tiga bulan, perjanjian terputus, jadi pihak Indopos cuma menerima Rp 2 miliar.
Kasus lainnya perihal dugaan penyimpangan anggaran dana di kementerian ESDM. Pada 16 Juli 2014, KPK memanggil Jero Wacik atas tuduhan penyimpangan anggaran dana di Kementerian ESDM pada tahun 2010. Lagi-lagi ini sesuatu yang “aneh”. Bukankah Jero Wacik baru menjadi Menteri ESDM pada Oktober 2011? Mengapa penyimpangan anggaran dana tahun 2010 dia yang harus menanggung? Bantahan Jero Wacik pun dianggap angin lalu. Kasusnya terus bergulir, beberapa media massa terus menggiring opini publik bahwa “JW seorang koruptor”.
Jero Wacik mencanangkan kembali Indonesia Visit Year pada tahun 2008 setelah 17 tahun tidak diberlakukan. Program ini meningkatkan devisa negara yang semula cuma rata-rata USD 3 miliar/tahun menjadi USD 6 miliar/tahun atau Rp 84 triliun pada tahun 2009.
Selain itu, JW menghidupkan kembali Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 2004 setelah mati suri selama 12 tahun. Industri perfilman nasional pun berkembang pesat. Pendidikan kepariwisataan pun turut berkembang seiring semakin majunya pariwisata Indonesia. Pada tahun 2009, Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung dan STP Bali diakui oleh United Nations World Tourism Organization (UN-WTO) sebagai lembaga pendidikan tinggi di bidang kepariwisataan yang berkelas dunia. Indonesia menjadi negara pertama di ASEAN yang mendapat sertifikat UN-WTO. Masih banyak lagi prestasi JW saat menjabat sebagai Menbudpar.
Sebagai Menteri ESDM, JW berhasil merenegosiasi harga kontrak LNG Tangguh dengan pihak CNOOC Fujian sehingga bisa mengubah harga yang semula USD 2,7/mmbtu menjadi USD 8/mmbtu. Renegosiasi ini berhasil menambah penerimaan negara sekitar Rp 214 triliun. Keberhasilan lainnya, antara lain pertumbuhan ekonomi lewat pembangunan pembangkit listrik dalam kurun waktu 2011-2014 sebesar Rp 576 triliun, membangun kembali proyek Migas Exxon Mobil Cepu yang sempat mati suri, dan lain-lain.
Mengapa JK bersedia hadir menjadi saksi JW? Mengapa SBY memberikan pembelaan melalui surat panjang berisi prestasi-prestasi yang sebagiannya saya tulis di atas? Semua itu tidak lain karena prestasi gemilang JW selama menjabat sebagai Menbudpar dalam dua periode (2004-2011) dan Menteri ESDM (2011-2014).

Selasa, 12 Januari 2016

Jadilah Pembaca yang Cerdas


Semakin hari, media online semakin membuat hati miris. Entahlah, saya tidak begitu paham dengan dunia pers. Apakah boleh judul berita memancing komentar negatif, menimbulkan interpretasi bermacam-macam? Apakah boleh judul berita tidak sinkron dengan isi berita? Biarlah sang ahli menjawabnya.  Saya hanya fokus ke tipikal pembaca. Sebagian besar pembaca semakin tidak cerdas. (Hati-hati, Dib, nanti didemo pembaca). Lah, wong saya juga pembaca berita. :v
Biasanya, saya hanya elus-elus lutut kalau sudah tak sengaja membaca sebuah berita serta ratusan sampai ribuan komentar. Semua jadi asyik sendiri, semua jadi merasa benar sendiri, semua jadi jago menyimpulkan sendiri. Sepertinya metode menelaah dan menyaring berita sudah tidak dipakai. Fenomena begini apakah media yang disalahkan? Teknologi yang perlu disalahkan? Tidak, bukan salah media dan teknologi. Otak dan hati manusianya saja yang perlu di-upgrade.
Teknologi semakin berkembang. Jika dulu orang berkirim kabar hanya dengan surat via burung merpati, sekarang merpati cukup bersantai di dahan pohon. Jika dulu menyampaikan rindu ke kekasih hanya dengan tulisan di dinding kelas atau surat dengan kertas warna-warni (Uhuk!), sekarang cukup kirim SMS, WA, status Facebook, dan sebagainya. Jika dulu mendengarkan berita hanya lewat radio yang baterainya kalau dilempar ke kepala Edib bisa bikin Edib kembali normal, sekarang cukup memantau beranda Facebook. Begitulah, teknologi semakin maju. Namun, apa otak kita semakin turun ke dengkul?
Media sosial dengan fitur share juga salah satu media yang membuat berita menyebar ke seantero dunia. Siapa pun bisa membaca. Manusia semakin “dibebaskan” berbicara lewat berita. Tak peduli berita itu valid, sekadar hoax, bahkan berita penuh modus supaya menyebar luas. Lewat status Facebook dan kicauan di Twitter pun orang leluasa menyampaikan pemikirannya, yang kadang tanpa “dipikirkan” lebih dulu.
Beberapa hari lalu, sebuah status lewat di beranda Facebook. Seorang teman share status seseorang berisi foto uang kertas dengan caption: “Uang baru 2016?, biasanya gambar Pahlawan, kok yg ini kenapa jadi gambar GENDORUWO."
Dua kalimat di atas asli dari sumbernya, tidak saya edit. Dua ribuan orang menge-like dan dua ribuan orang menge-share status itu. Terhitung seratusan orang berkomentar di statusnya. Hanya berdasar foto uang kertas dan dua kalimat itu, banyak komentator menghubungkan mata uang itu dengan pemerintahan sekarang. Contoh beberapa komentar: “rezim dajjal”, “gambaran ekonomi setan”, dan sebagainya.
Syukurlah ada komentator yang jeli. Dia kemukakan kalau foto itu mata uang pada tahun 1975. Mata uang Indonesia yang sudah langka alias kuno (Lihat di sini). Namun, meski sudah ada yang berkomentar cerdas seperti itu, tetap saja ada yang “tidak tergugah untuk menjadi cerdas”. Si pemosting foto itu berhasil memancing reaksi pembaca. Terlepas apa maksud statusnya, saya tidak pikirin. Tergantung pembacanya saja lagi, bisa apa tidak menahan diri?
Saya bukan bermaksud membela siapa pun. Saya menuliskan ini karena sudah tidak tahan menahan sesak di dada (Gubrak!).  Wong waktu pilpres saja saya golput. Keponakan saya meninggal tepat saat pilpres. Saya buta politik, tapi saya tidak pernah membutakan mata dan menulikan telinga untuk mengetahui perkembangan politik. Saya tidak pernah membenci politik meski banyak yang bilang politik itu penuh kepalsuan. Sebagai warga negara, saya tidak bisa lepas dari dunia politik.
Permasalahan di atas hanya contoh kasus. Masih banyak kasus lain yang berlalu-lalang di dunia online. Apa, sih, yang harus kita lakukan ketika membaca tulisan-tulisan yang bertebaran di jagat maya? Langsung menelan mentah-mentah? Bagaimana caranya agar kita tidak menjadi pembaca yang asal terima, asal komen, dan asal share?
Pertama, kita harus belajar menahan diri. Sepasang kekasih saja kalau tidak pandai menahan diri bakal tak bertahan hubungan mereka. Sebentar-sebentar cemburu, sebentar-sebentar curiga, marah, dan sejenisnya. (Tahu apa kamu soal hubungan kekasih, Dib? Pletak!). Menahan diri di sini termasuk “menahan jempol”. Yup, jangan buru-buru berkomentar dan share berita.
Kedua, sebagai pembaca kita harus punya daya saring. Gunakanlah internet buat cari informasi dari berbagai sudut pandang. Masa internet cuma dipakai buat game atau cari jodoh? (Huuusss!). Jangan lupa, berdiskusilah secara sehat.
Ketiga, bersikap netral untuk hal yang kita tidak tahu pasti kebenarannya. Apalagi di dunia politik, kebenaran itu ibarat bau kentut di kerumunan orang. Bau, tapi sulit ditebak siapa yang kentut, kecuali ada yang mengakuinya.
Keempat, merenung dan dengarkan hati nurani. Benarkah kita bertindak sesuai hati nurani atau sekadar menuruti hawa nafsu? Jangan pakai emosi ketika membaca sebuah tulisan atau berita. Yang paling riskan tulisan dan berita yang menyangkut SARA. “Belum tentu tindakan yang kita anggap benar itu tepat.” Pola pikir instan membuat orang bertindak instan pula.
Kelima, sering-sering mengajak saya piknik atau travelling, ya. Hohoho.

Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Namun, saya terus berusaha mengurangi kesalahan dengan cara menjadi pembaca yang cerdas menelaah berita walau beritanya sekadar embusan angin.

Jogja, 120116