Kamis, 26 November 2015

Teh Javana Candi ke Candi, Bangga Indonesia!


Menikmati Teh Javana dingin dalam kemasan botol, benar-benar membuat segar dan rasa haus hilang. Kesegaran dan cita rasa asli teh asli Indonesia dalam Teh Javana rupanya diaplikasikan dalam programnya. Teh Javana, salah satu produk Wings Food, kali ini mengadakan acara keren dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang pertama.




Tidak tanggung-tanggung, Teh Javana mengadakan program maraton dari candi ke candi. Tujuannya adalah untuk mengenalkan wisata Indonesia, secara khusus candi yang merupakan ikon wisata Indonesia, sembari berolahraga. Acara ini sejalan dengan Undang-undang No. 11 tahun 2010, bahwa pemanfaatan cagar budaya harus memberikan manfaat guna meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan kelestariannya.

 
Maudy Ayunda sebagai Brand Ambassador Teh Javana.

Dengan adanya program Candi ke Candi, Teh Javana berupaya mengampanyekan rasa bangga akan budaya dan wisata bangsa Indonesia kepada masyarakat. Tempat wisata, seni budaya, sumber daya alam, serta kuliner Indonesia sangat beragam. Sebagai bangsa Indonesia, rasa bangga harus dipupuk dan ditularkan ke generasi bangsa. Salah satu bentuk kampanyenya adalah dengan menyebarkan hashtag #manaIndonesiamu dan #manaIDmu dalam setiap postingan tentang Indonesia di Twitter (@manaIDmu), Facebook (manaIndonesiamu), dan Instagram (@manaIndonesiamu).

 
Tito Prabowo, Race Director dari Tempo Impresario

Program Teh Javana Candi ke Candi didukung oleh Tempo Impresario, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Pariwisata, Taman Wisata Candi (TWC), PB PASI, Personil Kepolisian dan TNI dari Klaten dan Sleman, komunitas lari Jakarta deBrads, dan komunitas lari Jogja Playon.



Seperti yang diungkapkan oleh Tito Prabowo dalam siaran pers, 21 November 2015, di FX Sudirman, bahwa program Teh Javana ini adalah kegiatan positif mengenalkan budaya Indonesia. Keunikan acara ini tentunya adalah mengenal budaya sembari berolahraga. Kata Aristo Krisdayanto, Group Head of Marketing Beverages Wings Food, program serupa akan menjadi agenda tahunan Teh Javana.




Acara ini diadakan pada tanggal 29 November 2015. Lari maraton sembari berwisata ini mengambil titik start dan finis di Candi Prambanan, tepatnya di Lapangan Brahma. Kategori maraton terbagi atas dua, yakni 5 km dan 10 km. Total hadiah 30 jutaan rupiah!



Syarat-syaratnya antara lain harus berusia minimal 15 tahun, berkewarganegaraan Indonesia, dan kondisi badan sehat. Yang berusia kurang dari 15 tahun boleh ikut jika didampingi orang tua. Start maraton dari Lapangan Brahma, melewati Candi Bubrah, Candi Sewu, Candi Lumbung, dan Candi Plaosan. Finis di Lapangan Brahma.




Setelah lari maraton yang berakhir pada pukul 08.00 WIB, dilanjutkan dengan festival kuliner dan musik di Lapangan Brahma, sehari penuh! Peserta lari marathon dan pengunjung lainnya bisa merasakan kenikmatan kuliner khas Nusantara, menikmati sajian musik dari band-band indie, seperti Shaggy Dog. Siapa yang belum kenal Shaggy Dog? Aih..., jadi ingin berdansa lewat lagunya "Hei, sobat, hei, kawan. Sambutlah kami datang. Membangunkan semangat yang dulu pernah hilang. Membesarkan api kecil yang hampir padam. Walau sedikit tertatih kita 'kan bangun. Marilah kemarin berdendang? Marilah menuju kemenangan...."
 
Yes, band favorit! ^_^
Keren, bukan? Yuk, berkunjung ke Prambanan di hari Minggu, 29 November 2015 nanti! Jangan lupa ajak keluarga, kerabat, dan sahabat Anda! Tularkan semangat bangga budaya Indonesia! #manaIndonesiamu #manaIDmu


Rabu, 11 November 2015

Fuza dan Sekolah Baru


Fuza, keponakanku superchubby itu kategori anak kritis dan tak segan-segan mengekspresikan perasaannya. Apa yang dia lihat, selalu dia komentari. Apa yang dia rasakan, tak pernah lama dipendamnya. Sikap kritis dan cerdasnya itu menjadikan Fuza anak yang tidak mempan dibujuk rayu dan diiming-imingi macam-macam. Namun, Fuza juga anak yang agak ngototan atau keras kepala. Ah, aku tidak mau menyebutnya begitu, deh. Sebut saja, Fuza itu anak yang teguh pendirian.

 
Unyu-unyu... <3

Tahun ini, Fuza mulai sekolah di madrasah ibtidaiyah. Fuza belum genap enam tahun. Tapi, dia tidak mau lagi menambah satu tahun di TK. "Bosan. Uza udah bisa nulis, membaca, berhitung tambahan, kurangan, kalian," kata Fuza. Dia pernah mengerjakan soal-soal matematika semester satu kelas 1 SD tanpa disuruh. Soal-soal itu dia kerjakan sendiri dan benar semua. Bahkan, dia meminta buku semester dua. Dilihat dari kemampuan membaca dan berhitungnya dan setelah melalui tahap tes psikologi, Fuza memang layak masuk sekolah dasar.



Hal yang tidak disangka terjadi setelah dua hari Fuza masuk sekolah. Dia malas-malasan sekolah dan tampak tidak semangat. Aku tertawa geli mendengar cerita kakak, ibu Fuza. Fuza bosan mengikuti “MOS”. Jadi, di awal masuk sekolah ada semacam MOS berupa pengarahandari pihak sekolah. Semua siswa baru disuruh duduk di lantai, mendengarkan pengarahan dari guru. Nah, bagi Fuza, suasana pengarahan itu sangat tidak menyenangkan. Sepanjang pengarahan, Fuza cuma jongkok, tidak mau duduk di lantai. Selain tipe pembosan, Fuza itu anak yang sangat peduli kebersihan. Alasan dia tidak mau duduk adalah: Lantai itu kotor. Alasan kedua, dia maunya belajar langsung, duduk di bangku sekolah, bukan cuma duduk-duduk “tidak jelas”. Tipikal pembelajar memang.

 
Kebersamaan di Pantai Kukup

Fuza bersekolah di sekolah tempat ibunya mengajar. Tentunya semua guru mengenal dia dengan baik. Melihat Fuza jongkok sepanjang pengarahan, guru-guru yang melihatnya tersenyum geli. “Tuh lihat kuat banget Fuza jongkok, padahal badannya gemuk,” ucap mereka.




Pengarahan dan pengenalan yang entah tentang apa, berjalan tiga hari. Di hari ketiga, Fuza tidak mau masuk sekolah. Ibunya sudah waswas saja, takut besoknya Fuza tidak mau sekolah lagi. Di hari tidak sekolah itu, Fuza ternyata “curhat” dengan Shafa. Anak kecil pun perlu teman curhat, ya. Ada lagi alasan ketiga. Shafa bercerita ke ibunya, bahwa Fuza tidak mau sekolah karena dipanggil “kakak” oleh temannya yang badannya lebih kecil. Fuza hilang semangat dan merasa tidak senang dipanggil begitu.
 
Di Pantai Baron. Akur selalu, ya... ;)
Setelah diberi pengertian dan diyakinkan bahwa besok mulai aktif belajar, Fuza akhirnya mau sekolah di hari keempat. Sejak sekolah TK, Fuza tergolong anak yang tidak mau absen masuk sekolah. Beberapa waktu lalu, dia diajak jalan-jalan ke Yogyakarta. Oalah, dia tidak mau karena tidak mau bolos sekolah. Orang rumah sibuk membujuknya. Akhirnya, dia mau dengan syarat harus diberi 3 PR oleh gurunya! Ada-ada saja. :D 
Fuza dua tahun lalu sewaktu berkunjung ke Tamban, Kalsel. Duduk di atas jukung yang lama tak terpakai.


 
 

Senin, 09 November 2015

Ketupat Kandangan Selalu di Hati



Aku seorang pencinta masakan kampung khas Indonesia. Berbagai menu makanan berbahan dasar nasi, lontong, dan ketupat, sudah pasti menjadi menu favoritku. Karena aku  urang Banua asli, jelas aku sangat mencintai makanan khas Banjar. Salah satu makanan paling favorit adalah ketupat Kandangan.

Ketupat Kandangan adalah masakan primadona di Kalimantan Selatan. Kekhasan ketupat ini terletak pada kuah santannya yang kental dan ikan gabus asap. Kandangan sendiri berasal dari nama kota di Kalsel, yaitu nama ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Jadi, secara khusus, makanan ini adalah makanan khas Hulu Sungai Selatan. Bila Anda berkunjung ke Kalsel, jangan lupa berkunjung ke Kandangan. Warung makan yang menjual ketupat Kandangan sangat banyak dari pertama memasuki kota Kandangan. Bahkan, di luar Kandangan juga banyak warung yang menjualnya, khususnya di Banjarmasin.
 
Memasuki Kandangan, disambut tugu ketupat. 




(sumber: http://bubuhanbanuahss.blogspot.co.id/)
Aku lahir dan besar di Banjarmasin. Namun, kedua orang tuaku asli Kandangan. Sejak tahun 1972, setelah punya satu anak, Mamak dan Abah hijrah ke Banjarmasin. Meskipun begitu, aku dan keluarga sering mudik ke kampung halaman. Dalam hal masak-memasak, Mamak memang jagonya, apalagi memasak ketupat Kandangan. Sempat Mamak menerima pesanan ketupat Kandangan, tapi tidak diteruskan karena cukup menguras tenaga. Ketupat Kandangan olahan Mamak selalu dicari-cari saat Lebaran. Saat Lebaran tahun kapan, lupalah aku, Mamak tidak membuat ketupat Kandangan. Beberapa tamu bertanya, "Kok nggak ada ketupat?" Gubrak! Lebaran saat itu kami, anak-anaknya, menyuruh Mamak tidak usah memasak karena Mamak kecapekan sehabis sebulan penuh memasak buat buka puasa di langgar.

Memasak ketupat Kandangan memang lumayan ribet. Membuat urung ketupat dari daun kelapa, membersihkan ikan dan membakarnya, membuat bumbu kuah santan, hingga membuat sambal terasi. Memang, sih, urung ketupat (apa, sih, bahasa Indonesia urung?) bisa beli yang sudah jadi. Tapi, jika membuat ketupat Kandangan dalam porsi banyak, itu sangat mahal dan pemborosan. Biasanya Abah mendapat daun kelapa yang masih muda dari tetangga atau keluarga yang punya banyak pohon kelapa. Pohon kelapanya yang kecil, lho. Tenaga mengayam daun kelapa pun banyak, yakni tetangga dan saudara-saudaraku. Sssttt, aku mah pemerhati saja. Sudah sering diajari mengayam sama Mamak, tak pernah bisa. Sungguh terlalu!
 
Ini dia namanya ikan haruan atau ikan gabus (sumber: http://umpanmancingikan.blogspot.co.id/2014/11/umpan-jitu-mancing-ikan-haruan-ikan.html)
Bagian kerjaan yang paling melelahkan adalah menyiangi iwak haruan (ikan gabus) dan mengasapinya. Asapnya bikin perih mata dan badan panas keringatan. Biasanya ini kerjaannya Abah. Sesekali Mamak dan aku membantu Abah.Yah, lumayan jadi tukang kipas-kipas. :D Namun, sekarang ada lebih praktis. Sejak dua tahun lalu, kami memesan iwak haruan yang sudah diasap dan siap pakai. Harganya tidak mahal. Sangat sesuai dengan proses dan hasilnya.
 
Pasar Kindai Limpuar, Gambut (sumber: http://aroundguides.com/16145444)
Kami selalu beli di penjual ikan gabus di Pasar Cindai Limpuar, Gambut. Selain menjual ikan segar, acil penjual iwak gabus itu juga menjual ikan gabus yang sudah digoreng dan dibakar. Lebih praktis, hemat tenaga, dan bumbunya sesuai dengan resep Mamak. Resep Mamak? Memang beda dengan resep lain? Ya, bedalah. Bahkan, beda dengan resep ketupat Kandangan ala almarhumah Uwak, kakak Abah. Sini aku bisikin rahasianya. Ini kata Mamak, lho, jangan pernah memakai kunyit di bumbu baceman ikannya, juga di bumbu kuah santannya. Gitu doang. Nah, ini bikin aku enggan menyantap ketupat Kandangan ala almarhumah Uwak. Dia memakai kunyit, baik ikan maupun kuahnya.

Santan kelapa? Ini lebih gampang lagi. Tinggal beli kelapa yang sudah diparut. Bahkan, sekarang ada alat pemeras kelapa di penjualnya. Tinggal minta peras dan tentunya dengan harga yang berbeda. Tapi, Mamak tidak mau pakai alat peras itu. Rasanya beda, kata Mamak. Kalau mau pakai santan kelapa instan juga boleh. Tapi, ya, sensasi kenikmatannya jelas beda jauh.

Bicara tentang resep bumbunya, duh, aku jadi galau. Mamak selalu memasak dengan hati dan perasaan. Ceileeeh.... Aku dan kakak juga begitu. Jika ada yang bertanya berapa ukuran bumbunya, kami bingung menjawabnya. Dikira-kira saja sepenuh perasaan. Hadeh! Okelah, aku tuliskan resepnya. :D


Kepulanganku bulan puasa kemarin, disambut ketupat buatan Mamak. ^_^

Bumbu bacem iwak haruan:
- Bawang merah
- Kemiri
- Asam kamal alias asam jawa
- Garam
Semua diulek, campur bumbu ke ikan gabus yang telah dibersihkan. Diamkan sekitar 15 menit sebelum diasap/dipanggang.

Bumbu kuah santan:
- Bawang merah
- Kemiri
- Jahe
- Laos atau lengkuas
- Kencur (porsi kencur lebih banyak daripada bumbu lain)
- Serai
- Garam
- Kayu manis

Sebelum semua bumbu dihaluskan (kecuali kayu manis), sebaiknya digoreng dulu. Ini resep Mamak biar rasanya maknyus. ;) Lalu, ditumis dengan sedikit minyak goreng. Masukkan bumbu, kayu manis, dan ikan gabus ke kuah santan yang sudah mendidih.

Makanan Indonesia tanpa sambal, rasanya pasti kurang, ya. Ini dia resep sambal khusus ketupat Kandangan.

Bahan sambal terasi:
-          Bawang merah
-          Cabe rawit
-          Binjai atau belimbing wuluh. (Banyak yang bilang binjai itu sama dengan buah kemang, padahal berbeda. Cuma satu kerabat. Baca di https://id.wikipedia.org/wiki/Kemang)
-          Terasi
-          Garam
-          Gula 
Bawang merah dan cabe rawit ditumis utuh. Diulek dengan terasi dan buah binjai (bisa juga belimbing wuluh). Jangan lupa pakai garam dan sedikit gula. Tambahkan kuah ketupat Kandangan ke sambalnya.

Kok tidak ada penyedap? Ya, benar! Resep ini tanpa penyedap MSG apa pun. :)


Cara mengisi beras ke urung ketupat dan merebusnya.
Nah, ini juga kekhasan ketupat Kandangan. Cara memakannya adalah dengan tangan, tidak pakai sendok. Ya, sah-sah saja sih kalau mau pakai sendok. Tapi, gimana gitu.... :D Tidak seperti ketupat jenis lain yang agak lembek dan padat isinya, ketupat Kandangan harus lebih karau atau gampang dihancur. Beras yang diisi harus lebih banyak dan jangan pakai beras pulen. Jadi, ketika kita memakannya, ketupat akan hancur dan tercerai-berai seperti nasi. Kalau hatiku dan hatimu tetap menyatu selamanya. Duh duh…. :p Ingat, berasnya harus dicuci bersih dan ditiriskan dulu sehingga tidak mengandung air ketika diisi ke urung ketupat.
Merebusnya sebentar banget. Didihkan air, lalu masukkan ketupat yang sudah diisi beras. Tunggu lima belas menit, matang, deh! Diamkan sebentar, minimal 5 menit, baru ketupatnya bisa dipotong. ;)

Tumben Edib posting resep makanan? Ya, kangen masakan kampungku, lah…. Hohoho!