Minggu, 30 Agustus 2015

Jelajah Wisata di Lereng Merapi Kaliurang-Kalikuning


Sejak lulus kuliah pada akhir 2008 di Jawa Timur, aku pulang kampung ke Kalimantan Selatan. Rupanya Tuhan masih mengharapkan kakiku melangkah ke luar daerah. Pertengahan Maret 2015, aku mulai bekerja di sebuah penerbitan di Yogyakarta. Tinggal di Kota Gudeg ini seperti sebuah mimpi. Mimpi yang sempat tercetus secara tak serius saat aku SMA, "Aku ingin tinggal di Yogyakarta. Penasaran dengan Malioboro." Tuhan Mahabaik. Dia kabulkan mimpi itu belasan tahun kemudian.

Tinggal di Yogyakarta sangat rugi bila tidak menjelajahi berbagai pelosok kota. Kota ini selalu menjadi destinasi utama para pelancong lokal maupun pelancong luar negeri. Tidak heran, ketika kita mengunjungi Yogyakarta, kita akan melihat para traveller atau backpacker di sudut jalan mana pun. Selain bertanya dengan teman, Google sangat membantuku mengetahui berbagai tempat wisata di Yogyakarta.

Aku dapat info dari teman, tanggal 30 Agustus 2015 ada program Jelajah Wisata Tlogo Putri Kaliurang yang diadakan oleh Disbudpar Kabupaten Sleman. Kuota peserta sebanyak seribu orang. Temanku baik hati banget mendaftarkanku ke kantor Disbudpar langsung. Syukurlah, aku mendapat tiket terakhir.

Kaliurang adalah kawasan di Lereng Merapi yang letaknya di utara Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Sleman. Berbagai tempat wisata ada di kawasan berhawa sejuk ini. Resort, penginapan, dan vila banyak tersedia di sini. Jarak dari Bandara Adi Sudjipto Yogyakarta ke Kaliurang kurang lebih 27 kilometer, sekitar satu jam perjalanan. Bandara ini tak sebesar Bandara Juanda di Surabaya atau Soekarno Hatta di Jakarta, namun banyak maskapai yang melayani penerbangan langsung dari berbagai kota. Pengalamanku sendiri, beberapa kali naik pesawat dari Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin dengan maskapai Garuda dan Lion Air, serta dari  Bandara Soekarno Hatta dengan maskapai Citilink dan Lion Air. Aku pernah beli tiket pesawat Banjarmasin-Yogyakarta, paling murah Rp 540.000 rupiah dan paling mahal Rp 690.000. Kalau Jakarta-Yogyakarta, harga tiket pesawat dimulai dari harga 400 ribuan.

Selanjutnya, dari bandara, kita bisa naik Trans Jogja yang haltenya terletak tepat di depan pintu kedatangan. Tanya ke petugasnya jurusan ke halte trans Kopma UGM. Kemudian, naik bus kecil jurusan Yogyakarta-Kaliurang. Bus ini tepat lewat di depan halte Kopma UGM. Bus ini tepat berhenti di depan kawasan wisata Tlogo Putri. Ini biasanya trip hemat ala backpacker. Bagi yang tidak mau ribet beberapa kali naik angkutan, mungkin bisa memilih naik ojek jika sendirian atau taksi jika beramai-ramai. Yang penting, harus pintar tawar-menawar tarif. Taksi di Jogja jarang mau menggunakan tarif argo.

Aku berangkat bersama temanku, anaknya, dan sepupunya. Jalan menanjak dan menurun mulai terasa ketika memasuki Jl. Kaliurang km. 20. Pemandangan puncak Merapi dari kejauhan mulai tampak. Aku yang sudah bertahun-tahun absen naik gunung, mulai deg-degan. Pertanyaan "Bisa nggak, ya?" memenuhi benakku. Padahal, tripnya tidak terlalu jauh. Katanya, cuma sekitar delapan kilometer. Untunglah aku sudah persiapan fisik dan tentunya mental. Sampai di parkiran, hawa sejuk sangat terasa. Kami telat datang, jadinya ketinggalan rombongan Jelajah Wisata. Meski begitu, kami semangat terus menyusuri jalanan setapak Tlogo Putri, menyusul rombongan lainnya.

Sebelum sampai pos pertama, perjalanan lancar karena jalanan cukup datar. Alhamdulillah, kami bisa menyusul rombongan sebelumnya. Di pos pertama, para peserta mengantre meminta stempel di kartu peserta. Tantangan jelajah wisata mulai terasa. Dengan berpegangan pada seutas tali, kami menuruni jalan setapak.

Jalan yang berpasir termasuk medan yang agak sulit. Harus lihai mengerem langkah kaki. Di pertengahan jalan, aku terpaksa harus berhenti istirahat sebentar karena napas sudah mulai ngos-ngosan dan rasanya ingin muntah. Temanku dengan setia menungguiku istirahat meski sekadar beberapa menit. Begitu pun ketika melewati pos ketiga, aku merasa kepayahan. Tapi, keyakinan terus kutanamkan dalam hati: "Aku bisa! Aku bisa! Masa kalah sama anak-anak?" Selain itu, pemandangan indah selama perjalanan benar-benar seperti doping! Kami sering berhenti sekadar untuk mengabadikan the best momen. Di depan mata, puncak merapi yang diselimuti kabut tampak memanjakan hati.



Sampailah kami di Kalikuning atau biasa juga disebut Watu Kemloso. Karena sedang musim kemarau, tak ada aliran air di sini. Hanya ada batu-batu besar dan genangan air di cekungan jalan batu. Selanjutnya, kami melewati jalan setapak menanjak. Kata panitia Jelajah Wisata, ini rute terakhir yang agak sulit sebelum mencapai pos 4. Benar saja, setelah pos 4, kami bisa berjalan dengan santai sebelum sampai garis finish.

Masih banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di Kaliurang, seperti Museum Gunung Merapi, Gua Jepang, Museum Ullen Sentalu, Becak Air, dan sebagainya. Semoga ada waktu panjang untuk menjelajahi Kaliurang lagi. Oh, ya, jika ke Kaliurang, jangan lupa menikmati makanan khas di sana, yaitu jadah tempe.


Menjelajahi tempat yang tidak pernah kukunjungi dan bernuansa alam adalah kesukaanku. Sebagian daerah di Pulau Jawa dan Kalimantan telah kukunjungi. Impianku selanjutnya adalah mengunjungi Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Utara alias Medan. Kenapa Medan? Karena Danau Toba. Ya, Danau Toba adalah tempat wisata penuh legenda yang menghiasi mimpiku sejak kecil setelah membaca cerita dongengnya. Aku sangat ingin terbang dengan maskapai Air Asia karena belum pernah menggunakan maskapai itu. Semoga impianku segera terwujud. Amiiin.





Rabu, 12 Agustus 2015

Pleonasme

Pleonasme termasuk kesalahan berbahasa yang sering kita temukan dalam tulisan maupun percakapan sehari-hari. Pleonasme adalah penggunaan kata yang semestinya tidak perlu digunakan. Lebay, istilah gaul zaman sekarang.
Contoh pleonasme:
- Warnanya agak kemerah-merahan.
Kemerah-merahan berarti agak merah. "Agak" dibuang biar tidak mubazir.
- Ibu masuk ke dalam kamar.
Masuk itu berarti ke dalam. Jadi, cukup ditulis "Ibu masuk ke kamar".
- Aku tengadah ke atas langit.
Tengadah berarti memandang ke atas. Jadi, tak perlu menyandingkan "tengadah" dengan "ke atas". Biarin aja si "tengadah" ngejomblo, Bro.
- Kesehatan Edib pulih kembali.
Masa kalimat di atas pleonasme? Iya, pleonasme. Pulih artinya sembuh atau baik kembali. Sudah ada makna "kembali" dalam kata "pulih". Jadi, "pulih" dan "kembali" tidak perlu bersanding di pelaminan. Eh!

Nah, kalau aku dan kamu bersanding, baru penghematan. Lalala....

Semoga tulisan singkat dan penuh modus ini bermanfaat.

Jumat, 07 Agustus 2015

H. Anang Ardiansyah, Sang Maestro Budaya Banjar





Sang maestro budaya Banjar meninggal dunia dini hari 7 Agustus 2015 pada usia 77 tahun. Selama beberapa hari, H. Anang Ardiansyah dirawat secara intensif di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin. Perasaan sedih menggelayuti hati ini. Siapakah sosok purnawirawan TNI AD yang mengabdikan dirinya untuk kesenian Banjar itu?

Orang Banjar wajib tahu siapa sosok H. Anang Ardiansyah. Beliaulah yang menciptakan lagu-lagu Banjar, seperti Paris Barantai, Uma Abah, Pangeran Suriansyah, Kakamban Habang, dan lain-lain. Tidak hanya pencipta lagu, beliau juga menyanyikan lagu-lagu itu dengan suaranya yang khas. Lebih dari seratus lagu Banjar yang beliau ciptakan. Beliau sering mendapatkan berbagai penghargaan tingkat provinsi maupun nasional. Kecintaannya pada dunia seni dan budaya, khususnya dunia musik, tak perlu diragukan lagi. Lagu-lagu karya beliau selalu enak didengar dan "rasuk" (baca: cocok) di telinga penikmat musik.

Satu lagu karya H. Anang Ardiansyah yang selalu membuatku menangis setiap mendengarkannya adalah Uma Abah. Alunan lagunya merdu, menghanyutkan, dan mengaduk-aduk perasaan. Sesuai judulnya, lagu Uma Abah adalah lagu ungkapan perasaan seorang anak kepada kedua orangtua. Lagu ini juga dipopulerkan oleh grup band asal Kalimantan Selatan, Radja.

Lagu lain yang tak kalah menarik karena lirik sejarahnya adalah Pangeran Suriansyah. Lagu ini berkisah tentang sejarah Kerajaan Daha (nama kerajaan Banjar dahulu), dari kisah Pangeran Suriansyah yang dibuang hingga proses masuk Islam raja dan rakyat Banjar. Jelas lagu ini bernilai pendidikan sejarah. Sssttt, selain itu, perlu kalian tahu, lagu ini lagu Abahku. Kan, nama Abah, Suriansyah. Dulu waktu sekolah, teman-teman selalu senyum-senyum ke arahku setiap menyanyikan lagu ini. Ada-ada saja.

Lagu lain yang sangat terkenal dan menasional adalah Paris Barantai. Lirik "Kotabaru gunungnya bamega..." pasti tidak asing di telinga pencinta lagu-lagu daerah di Nusantara. 

Selamat jalan, Abah H. Anang Ardiansyah. Kaulah maestro Banjar. Kaulah sosok konsisten dalam memajukan budaya Banjar. Semoga selalu lahir generasi penerus yang cinta, cinta, dan cinta seni daerah Banjar pada khususnya, budaya Nusantara pada umumnya. Selamat jalan menuju Sang Pemilik Cinta!

Jogja, 07-08-15


Lirik lagu Uma Abah dan Pangeran Suriansyah.


UMA ABAH

Hari panas manggantang
Matahari manggantang panasnya manggantang
Rasa rakai tulang iga sampai ka pinggang
Mangilik nanang, galuh caramin matanya
Uma batulak, mancariakan rajakinya

Guntur kilat basambung
Ujan labat arus daras wan galumbangnya
Awak basah kadinginan di tangah sungai
Abah malunta, baluman tantu pakulihnya
Abah batulak, mancariakan rajakinya

Uma, mun bulih sakit uma kugantiakan
Lawan sagala pahalaku
Abah, mun bulih paluh abah kugantiakan
Lawan sagala amalku
Uma Ratu'ai
Abah Raja'ai

Ya Allah Ya Robbi
Kucium batis uma nang manyayangi
Kucium tangan abah nang malindungi
Ampuniakan dosa uma wan abahku
Ampuniakan dosa uma wan abahku



PANGERAN SURIANSYAH

Pangeran, Pangeran Raja Buana ahli waris Karajaan Daha.
Dibuang Paman Arya batahta.
Ka Balandean wadah pambukahannya.
Di Kampung Kuin diangkat jadi raja.
Pangeran Samudra itu galarnya.

Patih Masih patih kampung Kuin.
Jadi palindung hujan wan angin.
Kampung barani aman tajamin.
Kuin manjadi Banjarmasin.
Khatib Dayang nang jadi talabang.
Urang nang baisi kapintaran.
Rakat mupakat wan saijaan.
Pangeran mangumpul pasukan.

Mun bulan kadap sidin manyarang.
Paman Tamanggung kuat babanaran.
Sungai Kuin dipagar carucukan.
Kampung Carucuk dibari ngaran.
Patih Masih lalu pang baucap.
Wan Sultan Damak bapatulangan.
Sultan manulung baparjanjian.
Mun Banjar manang masuk Islam.

Paman Tamanggung kalah sabakas.
Lalu dibagi tanah wan watas.
Pangeran baislam sabubuhan.
Sultan Suriansyah bangaran.
Raja baislam nang panambayan.
Di kampung Kuin baulah masigit.
Di situ jua sidin bamakam.
Damintu kisah Banjarmasin.

Pangeran, Pangeran Raja Buana ahli waris Karajaan Daha.
Dibuang Paman Arya batahta.
Ka Balandean wadah pambukahannya.
Di Kampung Kuin diangkat jadi raja.
Pangeran Samudra itu galarnya.

Sabang pagat habis carita.
Kisah Banjarmasin kota barnama.

Selasa, 04 Agustus 2015

Loksado: Ziarah Alam


Lanting atau rakit bambu di bawah jembatan Lumpangi.


Mobil yang kami carter telah menunggu di depan gang. Aku, Abang dan istrinya, Abah, Mamak, serta dua adikku segera memasuki mobil. Aku lagi mudik Lebaran. Adikku juga pulkam setelah setahun tinggal di Singkawang. Abang pun berinisiatif mengajak kami jalan-jalan ke Loksado, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Orangtuaku asli Hulu Sungai Selatan (Kandangan). Sejak tahun 1972, mereka merantau ke Banjarmasin. Aku dan ketujuh saudaraku lahir (kecuali anak pertama dan kedua) dan besar di Banjarmasin. Kami sering mudik ke Kandangan meski Kai dan Nini (kakek nenek) sudah meninggal dunia. Abang beristrikan orang Kandangan, jadi kami selalu menginap di rumahnya setiap mudik. Selain itu, saudara Mamak dan Abah masih banyak yang tinggal di kampung.

Loksado adalah sebuah kecamatan yang mempunyai banyak objek wisata sangat terkenal di Kalimantan Selatan. Di sana, masih tinggal warga asli Dayak Bukit. Hutan masih tampak perawan dan hijau. Berbagai tempat wisata sering dikunjungi pelancong lokal maupun luar negeri. Loksado terkenal dengan arung jeram lanting. Sayangnya, karena hari telah sore, kami tidak bisa melanjutkan perjalanan ke wisata arung jeram lanting dan lainnya. Perjalanan pun berakhir di pemandian air panas Tanuhi.


Salat Zuhur di Masjid Al-Mutazakkirin, Padang Batung

Sungai di samping masjid.
Tak lupa makan siang menu khas Banjar: Pais patin (pepes patin) dan terung babanam (terung bakar) dengan kuah santan.

Kecewa? Tentu saja tidak. Sepanjang jalan kami masih bisa memandangi Sungai Loksado yang mengalir jernih. Jalanan yang menanjak dan berliku, tak mengurangi indahnya pemandangan. Mengunjungi Kalimantan Selatan, tidak afdol rasanya tidak berziarah ke makam pedatuan. Pedatuan adalah istilah nenek moyang (leluhur) secara umum, dan ulama zaman dulu secara khusus, di Kalsel. Makam para datu tersebar di seluruh kabupaten Kalsel. Kami singgah di Makam Habib Lumpangi.

Mamak bercerita, pada awal tahun 90-an, Abah dan beberapa temannya mengecek area makam ini. Yang dicek adalah apakah benar makam habib yang mengembangkan ajaran Islam di daerah itu. Oleh pemerintah setempat, area makam ini dijadikan cagar budaya dan bisa dikunjungi untuk umum. Menuju area makam, kami melewati jembatan gantung (tentunya bergoyang) di atas Sungai Loksado. Amazing! Aku dagdigdug ketika melewatinya. Sudah lama tidak melewati jembatan gantung. Sungai yang saat itu sedang surut dan jernih bangeeet dipenuhi anak-anak muda yang sedang rekreasi. Pulang dari makam, kami tidak bisa turun ke sungai karena hujan tiba-tiba turun.

Jembatan gantung menuju Makam Habib Lumpangi



Kami meneruskan perjalanan ke pemandian air panas Tanuhi. Pengunjungnya tidak terlalu ramai. Biasanya Tanuhi dipenuhi pengunjung saat tiga hari pertama Lebaran kemarin. Entahlah, aku malas sekali berendam seluruh badan. Agak risih karena dalam kolam ada beberapa cowok. Aku, kan, anak salehah. Pletak!

Wisma di Tanuhi.

Numpang narsis.

Duh, mesranya.... ^_^

Kedua adikku dan kakak ipar juga begitu. Aku hanya duduk di pinggir kolam dengan menjuntaikan kakiku dalam kolam. Hangaaattt.... Mamak, Abah, dan Abang tentulah antusias sekali berendam, bahkan berenang di kolam yang tidak terlalu besar itu. Ada beberapa kolam di sini, tapi hanya dua kolam yang berisi air panas. Satu kolam untuk dewasa, dan satu kolam lagi untuk anak-anak. Air di kolam untuk anak-anak tidak terlalu panas. Kira-kira sejam kami di Tanuhi. Kami pulang setelah minum teh hangat di warung depan pemandian.

Narsis lagi, dong...
Airnya jernih bangeeet!
Seperti yang aku bilang di atas, kami tidak bisa melanjutkan perjalanan wisata karena waktu yang terbatas. Setelah ini, kami menuju Hamak, kampung kelahiran Abah. Hamak terletak di daerah pegunungan juga. Di sana masih tinggal Nini Gunung dan para sepupu. Nini Gunung (karena tinggal di gunung, jadi dipanggil Nini Gunung) ialah saudara perempuan Kakek alias acil (bibi) Abah. Biasanya, kami pergi ke Hamak lewat Telaga Langsat, tapi kali ini kami melewati jalan lain yang lebih dekat. Ternyata jembatan menuju rumah Nini sedang perbaikan dan hanya bisa dilewati motor. Apalah daya, terpaksa kami singgah di warung Kak Sanah, sepupuku, masih di kawasan Hamak. Mau tidak mau, menuju Angkinang (kampung kelahiran Mamak sekaligus tempat tinggal Abang), kami harus melewati Kota Kandangan.

Liburan yang belum tuntas sebenarnya. Belum sempat keliling Loksado, belum sempat merasakan naik lanting, belum sempat ke air terjun Haratai, belum sempat.... Ah, tunggu aku di liburan berikutnya, Loksado....


Jogja, 050815