Kamis, 04 Desember 2014

PACUL

(sumber: Google)
"PACUL" dalam KBBI bermakna ambigu. "Pacul" bersinonim dengan cangkul, yaitu alat untuk membalik/mengaduk tanah. "Memacul" berarti membalik/mengaduk tanah dengan pacul/cangkul.
         Makna "pacul" lainnya adalah memijit/menekan supaya keluar isi. Misal, "memacul bisul", artinya menekan bisul agar nanahnya keluar. (Sumber: KBBI)
         Nah, "pacul" dalam bahasa Banjar beda lagi, yaitu "lepas atau copot". Misal: "Sandalnya dipacul", artinya "sandalnya dilepas"; "Pacul kabelnya!", artinya "Lepas kabelnya!"
Sebenarnya inti maknanya sama-sama "terpisah dari tempat asal". Tapi, jelas berbeda makna dan konteks.
        Jadi, jangan kauambil cangkul alias pacul saat ada orang Banjar menyuruh, "Pacul sandalmu!" Itu masalah besar, Kawan.  Masa ada orang mencangkul sandal? :p

Bjm, 041214

Minggu, 12 Oktober 2014

Tanpa Ucapan Magis

(sumber: Google)


Aku termasuk pengguna aktif angkutan umum sejak SMA. Bisa dibilang aku kekasih setia sopir-sopir juga tukang ojek. Bisa dibayangkan sepinya dunia angkutan umum di Banjarmasin bila aku absen naik angkot. Pletak! :v Alasannya adalah aku tidak bisa mengendarai motor. Lucu, ya? Di zaman begini canggihnya, kok, masih ada makhluk Tuhan yang tidak bisa mengendarai motor. :( Sudah belajar, sih, tapi sering jatuh. Pertama kali belajar, eh, malah menabrak tiang listrik. Kedua kalinya malah menabrak pohon mahoni.
        Lupakan tentang makhluk Tuhan paling manis di atas (ditabok orang sekampung). Aku hanya mau menuliskan keresahan hati. Karena sering naik angkot, aku sering mendapati berbagai tipikal penumpang. Dari perokok bermuka batu meski sudah ditegur, perokok gampang ditegur, penumpang yang duduk seenak pantatnya (dia kira angkot rumahnya sendiri kali, ya), penumpang yang kurang bayar tarif angkot, penumpang tanpa ucapan magis, dan lain-lain.
       "Penumpang tanpa ucapan magis" yang aku maksud adalah penumpang yang membayar ongkos angkutan umum tanpa ucapan terima kasih, bahkan memberikan uangnya dengan cara sedikit dilempar (diempas). Kebanyakan penumpang yang aku temui di atas berstatus pelajar. Ada juga penumpang lainnya. Ucapan terima kasih tidak hanya sekadar basa-basi, melainkan gambaran perilaku seseorang. Apa jadinya kehidupan sosial masyarakat tanpa ucapan terima kasih, tanpa keramahan, tanpa kesopanan masing-masing individu? Sopir memang dibayar, tapi bukan berarti kita mengabaikan sikap saling menghormati.
       Aku hanya berdoa semoga penumpang seperti itu jadi sadar, apalagi beberapa pelajar yang merupakan generasi penjaga budaya bangsa yang selama ini dikenal ramah oleh bangsa lainnya. Namun, aku kadang bahagia tak terkira bila mendapat pelajar yang dengan sopan dan senyum manis membayar ongkos angkutan umum.

Jumat, 20 Juni 2014

Rahasia Sita

SITA sejenak teringat wajah sang ibu. Wajah itu selalu menghantui mimpi-mimpinya selama lima tahun ini. Menurut beberapa temannya, hal itu karena Sita tidak pernah mengunjungi makam ibunya. Semenjak kematian sang ibu, Sita tak pernah mengunjunginya. Bahkan, berdoa pun mungkin tak pernah. Namun, Sita tidak pernah menganggapnya sebagai masalah.
"Sebaiknya kamu tengoklah makam ibumu, Nak. Seorang anak mesti memuliakan ibunya," ucap ayah Sita.
Rumah sudah sepi benar. Hanya terdengar suara cecak dan jangkrik di samping rumah. Sita terdiam sembari memindah channel televisi. Selalu saja dia tidak menanggapi jika obrolan berkaitan dengan ibunya.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya ayahnya lagi. Dia sadar anak satu-satunya ini tidak mungkin meladeni ucapannya tadi.
"Lancar, Yah."
"Syukurlah."
Ayah Sita masuk ke kamar. Dipandanginya foto mendiang istrinya di meja kerjanya. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi bicara dengan Sita. Sikap keras kepalanya persis kamu, Ning. Andai saja.... Ah, aku harus terus terang."
Sita masih duduk di depan televisi. Matanya menerawang ke langit-langit. Masih dia ingat episode-episode masa kecilnya.
***
"Kamu ini kerjaannya main saja!"
Gagang sapu mendarat di kaki Sita. Sita menangis sesenggukan. Kakinya lebam. Dia tak pernah membantah kata-kata ibunya. Diam. Ya, hanya diam yang dilakukannya.
"Kamu ini bodoh! Nilaimu rendah terus! Dasar anak tidak tahu diuntung!"
Ibunya tidak pernah menyebut namanya. Sita merasa sang ibu adalah sosok asing. Mungkin monster yang dikirim alien. Sita hobi menggambar. Namun, buku gambarnya penuh gambar monster bertanduk lima dan bertaring panjang. Begitulah dia menggambarkan sosok sang ibu.
"Aku menyesal mempertahankanmu hidup!" pekik ibunya.
Aku juga menyesal tidak bisa membunuhmu, Ibu, bisik hati Sita. Rasa benci dan sakit hati menguasai hati Sita.
***
"Aku tidak pernah bisa memaafkanmu, Bu." Air mata Sita mengalir. Air mata penuh kebencian pada sang ibu. "Aku tidak pernah menyesal telah meracunimu."
Layar televisi masih menyala. Sita tak jua beranjak dari duduknya. Tak ada yang tahu Sita-lah pembunuh ibunya, kecuali sang ayahayah tiri yang baik hati menganggapnya seperti anak kandung sendiri.
Sita tak menyadari ayahnya duduk di sampingnya. "Ayah mau bicara, Sita...."
"Ada apa, Yah?" Disapunya air matanya perlahan.
"Terlalu lama Ayah menyimpan rahasia ini. Kamu mesti tahu hal sebenarnya." Ayah Sita terdiam.
"Rahasia? Apa yang belum kuketahui, Yah?" Raut muka Sita mengeras.
"Sebenarnya ibumu sangat mencintaimu. Hanya saja..."
"Ayah bicara apa? Mencintai? Mencintai dengan pukulan bertubi-tubi?" Sita berteriak sangat keras.
"Selesaikan Ayah bicara dulu, Sita!" Kali ini ayahnya menatap mata Sita tajam. "Ibumu meninggal bukan karena racunmu, tapi karena penyakitnya," lanjutnya.
"Apa???" Sita berdiri dengan gusar. Telapak tangannya mengepal. Keyakinannya bahwa dendamnya sudah lunas, kini mulai goyah.
"Duduklah, Nak...." Ayah menarik tangannya. "Ibumu menderita AIDS. Kamu tidak pernah tahu, bukan? Dia bersikap kasar hanya untuk menutupi rasa sakitnya darimu. Dia hanya tidak bisa mengungkapkan rasa sayangnya padamu, Nak."
Diam. Ya, hanya diam mampu dilakukan Sita sekarang. Entah kebencian ataukah penyesalan yang dia rasakan.

Bjm, 190614

Jumat, 11 April 2014

Membedakan Awalan dan Kata Depan "di" dan "ke"

PENULIS adalah barometer perkembangan bahasa Indonesia. Jika penulis sendiri tidak berusaha memperbaiki kaidah bahasanya, bagaimana nasib pembaca? Pembaca yang kurang memahami kaidah penulisan yang benar dan pembaca yang sedang belajar menulis pasti akan "tersesat" jika membaca tulisan yang banyak keliru kaidah bahasa. Kaidah bahasa seperti tanda baca, EYD, dan kalimat efektif, adalah hal dasar yang harus dikuasai. Sebab itulah, penulis yang "sadar diri" lemah dalam kaidah bahasa, mengandalkan seorang editor. Hmmm..., yang jadi masalah itu jika penulis "tidak sadar diri" meskipun disiram dengan oli, eh, dikoreksi.
        Teori bahasa Indonesia tentang awalan (prefiks) dan kata depan sudah diajarkan sejak kita sekolah dasar. Namun, dalam praktiknya, masih banyak orang Indonesia keliru menuliskannya. Sebenarnya tata bahasa Indonesia itu sangat mudah. Sayangnya, banyak yang lebih dulu mengatakan "bahasa Indonesia sulit", jadi bahasa Indonesia menjadi pelajaran menakutkan bagi siswa.

        Cara membedakan awalan dan kata depan "di" dan "ke" itu sangat gampang. Awalan "di" berfungsi membetuk kata kerja pasif. Namanya "membentuk kata", berarti akan menjadi satu kata dan terikat. Penulisannya harus disambung dengan kata setelahnya atau tanpa spasi. Contoh:

1. Sebelum dimakan, ikan harus dimasak. >>> awalan "di" + kata kerja "makan" = "dimakan" (kata kerja pasif)
2. Ayah dimakamkan di Tanah Kusir. >>> awalan "di" + kata benda "makan" + akhiran "kan" = "dimakamkan" (kata kerja pasif)

         Fungsi awalan "ke" lebih banyak lagi. Selain berfungsi membentuk kata kerja (verba),  awalan "ke" juga berfungsi membentuk kata benda (nomina) dan jumlah/tingkat/urutan (numeralia). Contoh:

1. Polisi kehutanan menangkap penebang liar. >>> awalan "ke" + kata benda "hutan" + akhiran "an" = "kehutanan" (nomina).
2. Ibu kesandung batu. >>> awalan "ke" + kata kerja "sandung" = "kesandung" (kata kerja)
3. Ketiga anakku berlibur ke Jakarta. >>> awalan "ke" + kata angka "tiga" = "ketiga" (tingkat/urutan).
4. Kakek ditemukan pada hari keseratus lima puluh tiga.
Apabila "ke" bertemu dengan bilangan angka, penulisannya harus dipisah dengan tanda hubung dan tanpa spasi. Contoh: ke-12, ke-125, ke-1000.

        Kata depan "di" dan "ke" adalah kata yang berfungsi sebagai penunjuk kata tempat/waktu. Menurut KBBI, "kata" adalah satuan bahasa yg dapat berdiri sendiri. Dari pengertian tersebut, bisa dipahami "kata depan" adalah kata yang berdiri sendiri dan penulisannya harus dipisah dari kata setelahnya (dengan spasi). Contoh:

1. Aku melihat seorang anak menangis di makam. >>> Kata depan "di" bertemu kata "makam", maka ditulis "di makam" (menunjukkan keterangan tempat).
2. Ayah pergi ke hutan. >>> Kata depan "ke" bertemu kata "hutan", maka ditulis "ke hutan" (menunjukkan keterangan tempat).
3. Dia pasti datang di hari nanti. >>> Kata depan "di" bertemu dengan kata "hari", maka ditulis "di hari" (menunjukkan keterangan waktu).
4. Paman menemukan uang di bungkus nasi. >>> Kata depan "di" bertemu kata benda "bungkus", maka ditulis "di bungkus" (menunjukkan keterangan tempat).
Bedakan dengan kalimat ini: "Nasi uduk dibungkus dengan daun pisang." >>> "di" di sini adalah awalan. "dibungkus"  adalah kata kerja pasif dari "membungkus". Penulisannya harus tanpa spasi. Jadi, perhatikan perbedaan konteksnya, ya.

        Penjelasan di atas teori saja. Tinggal praktiknya yang harus sering dilatih. Sering-sering latihan dari hal ringan, misal menulis SMS, menulis status Facebook, menulis komentar, dan sebagainya. Seperti kata pepatah: "Alah bisa karena biasa". Sesuatu yang dianggap sulit jika dijadikan kebiasaan akan menjadi mudah.

Bjm, 2014

Rabu, 26 Maret 2014

Fiksi Mini Bertema "Presiden"



Beberapa fiksi mini di bawah ini saya ikutkan di  Fiksi Mini Games grup MFF. Tiga di antaranya terpilih sebagai fiksi mini terbaik dan di-posting di blog MFF (http://mondayflashfiction.blogspot.com/2014/03/fiksimini-games-presiden.html)


1. PERTUNJUKAN BISU. Wayang-wayang bermain petak umpet di istana presiden. Presiden tak sempat mendalang.

2. PRESIDEN DAN SANDAL. Sandal putus. Presiden kelimpungan mencari penjilat untuk dijadikan peniti.

3. CAPRES DAN POHON. "Kapan kulit kita bersih dari wajah jelek mereka, sih?" gerutu pohon di trotoar.
"Tenang saja.... Akar kita telah sampai ke pelataran istana. Siap-siap menumbangkannya," jawab pohon satunya.

4. PENGIKUT SETIA. Twitter presiden pun dianggap sabda.

5. PRESIDEN BARU. Berhati telaga, bermata empat, berkaki delapan, dan tidak punya mulut.

6. SOSOK BERANI. "Ayah milih siapa?"
"Milih yang berani menutup perusahaan-perusahaan yang membuat hutan terbakar, Nak," jawab sang ayah sambil muntah darah.

7. TUMBANG. "Tak ada yang lebih seksi dibandingkan senyumanmu yang pasi, Sayang...," ucap Ibu Presiden, beberapa detik setelah dia berhasil menumbangkan suaminya.

8. PANTI JOMPO berubah menjadi istana raja. Penghuni baru—sang mantan penguasa—duduk di kursi goyang yang lapuk kakinya.

Bjm, 190314

Sabtu, 25 Januari 2014

25 Januari


Tak ada lukisan dan foto keluarga di kamar ini. Kalender? Oow! Barang yang sangat langka. Aku bukan pengingat yang baik. Lho?! Bukannya malah perlu kalender? Aku benci tanggal-tanggal yang berjejer rapi, bahkan penuh lingkaran. Ya, aku benci semua yang berhubungan dengan kalender. Winda—anak tunggalku yang setia menemaniku—pernah mencoba memasang kalender, tapi kubakar hingga sebagian kasur ikut hangus.
Sebabnya hanya satu, yakni 25 Januari. Tanggal inilah hari bersejarah yang tak mungkin terlupa, sekaligus tanggal tumbuhnya embrio kebencian. Tentang air mata samsara. Tentang sosok ruksa… akh! Gila.
“Sayang, aku ingin melupa, tapi pikiran terus mencari tuannya,” ucapku pada sunyi yang kian menggigit.
Lalu, kubaca sehelai kertas di meja kerja yang entah kapan terakhir dipakai untuk bekerja.
KAU DAN AKU SATU!
Irfan & Hana
25 Jan ‘04
Kenapa tulisanku ini masih ada? Bukankah sudah kuhapus. Hei, bukankah sudah kukatakan aku benci hari demi hari yang bertanggalan!
“Kau dan aku yang tak lagi satu. Bertanggalan dilibas waktu,” bisikku pada foto lusuh—lelaki dan wanita sedang menikmati makan siang di sebuah restoran.
“Aku mencintaimu. Kau sudah tahu, kan? Tapi, kenapa kau tega mengkhianatiku?”
Maaf, aku khilaf. Percayalah, aku tak berniat selingkuh. Aku mencintaimu. Masih terngiang perkataannya waktu itu. Aku hanya diam menahan sesak. Aku tidak boleh terlihat lemah.
Kulihat lagi foto lusuh yang seperti mencemooh kediamanku. Wanita di foto itu—ibu kandungku—telah tewas di tanganku. Tepat di malam 25 Januari 2004. Saat dia bugil dalam dekapan suamiku.
Seketika aku teringat…. “Winda…, ayahmu mana, Nak? Winda! Jawab pertanyaanku!” Aku berteriak panik. Setelah malam “luka dibalas luka”, suamiku menghilang. Dia tak pernah kembali, bahkan setelah aku dipenjara bertahun-tahun.
 “Ibu, Ayah mati kaubunuh, Bu!” kata Winda tersedu di ambang pintu kamar.
“Kau bohong! Aku mencintainya, Nak.”
Sudah kukatakan sebelumnya, aku bukanlah pengingat yang baik. Malam itu... satu atau dua nyawa? Hahaha....

Bjm, 250114

"Ditulis dalam rangka ulang tahun Monday FlashFiction yang pertama"