Selasa, 21 Mei 2013

Kata-Kata (Sok) Bijak Tentang Kepercayaan


Tak tahu kenapa jadi pengen berkata-kata (sok) bijak. Wong edan tambah edan atau lagi kesambet setan jembatan Barito...? Hahaha.... Nyungsep! ^_^
 
~Begitu mahal dan antiknya sebuah kepercayaan. Ketika itu sudah terjual, sulitnya cara untuk membeli lagi.

~Jagalah sebuah kepercayaan seperti menjaga keseimbangan tapak di tebing jurang.

~Janji itu ibarat pembuluh di titik paling nadi. Apabila putus ia, remuklah sekujur kepercayaan hati.

Bjm, 210513

Senin, 20 Mei 2013

Imaji Si Pencandu Kopi


KOPI hitam kental sedikit gula. Selalu kunikmati menemani hari-hari setengah gila. Kopi, bagiku bukan tameng penghalau kantuk. Melainkan, sahabat sejati di kala imaji kian terkutuk. Pahitnya menguatkan luka, manisnya meredupkan lara.

          Setelah lima tahun berlalu, aroma kopi bebal kuhidu, dan laguku masih pilu. Opini setengah gila meragu. Secangkir kopi di tangan, bertanya aku pada malam yang kian kelam. Benarkah hanya dengan kopi ini imaji terkutuk menemu tuahnya? Bukankah kecamuk rasa pada akhirnya menjadi ampas. Pahit dan manis lenyap tak berbekas. Menumpuk tanpa curahan mata air kesejukan nurani. Jika pun hilang ketika cangkir dicuci, besok si ampas kembali lagi. Bahkan mungkin dengan volume yang lekat hampa tak berarti.

          Kopiku bukan candu, bukan pula kafein empedu. Hatikulah yang membuat langkahku membenalu, menggurita di ranah rancu. Dia tetaplah salah satu sahabat paling rindu. Sejak cercah pelita tersibak di sudut laku, kusemai benih-benih syahdu di ranah imaji yang biru. Opiniku kembali menyiar, melenyapkan jelaga, menjemput suarga tanpa bisu.
          Kopi hitam kental sedikit gula: imaji terkutuk menemu tuahnya. Semoga....

Bjm, 2013

Tentang Kaca yang Telaga dalam Detik-Detak

 Empat status facebook bertanggal 18 Mei 2013, kukelindankan (maksa banget, ya!) menjadi satu puisi. Diposting di grup kepenulisan PEDAS-Penulis dan Sastra pada tanggal 19 Mei 2013. Bingung mau posting apa. Hahaha.... Gubrak! :D
Tentang Kaca yang Telaga dalam Detik-Detak

(1)
hening adalah kala yang kaca
dan aku tak bisa lepas darinya
hening
bening

(2)
Bertanya tanah pada matahari, "bilakah kala yang paling kaca?"
"adalah bila cahayaku lekat di lanskap paling telaga"

(3)
detik ini detak yang rancak
detik ini ruap yang kalap
detik ini silau yang ngiau
detik ini setitik rintik
merah dan madah

(4)
Biar detak tinggal detik
Dan detik tak lagi detak
PAda!
Remuk dekap lantak...

Bjm, 180513